Pledoi Seorang Jomblo

0
416
photo by : google

Apa salahnya menjadi jomblo, selalu saja ada yang nyinyir ketika seseorang memilih jomblo. Selalu saja ada yang sok bijak, bahkan menjadi motivator dadakan bagi kita para jomblo. Anehnya banyak yang bilang kalau jomblo merupakan hal yang tak patut diteladani, lalu koruptor yang nista punya istri lima lebih mulia dari jomblo yang suka sodaqoh.

Itulah logical fallacy dari para manusia-manusia Indonesia kekinian, selalu saja menstigmatisasi jomblo dengan hal-hal yang negatif, sarkas pula. Seolah-olah mereka yang punya pasangan itu layak masuk surga, sementara jomblo itu tempatnya di neraka.

Berbicara soal jomblo, banyak yang tidak paham dengan tujuan seseorang yang memilih dalam kesendirian. Seolah-olah kesendirian selalu diidentikkan dengan patah hati atau putus asa. Padahal tidaklah demikian, sebagai seseorang yang mantap memilih jalan kesendirian.

Saya punya idealisme, bukan monopoli mereka yang mendaku diri sebagai aktivis saja yang punya. Idealisme jomblo merupakan sebuah kontemplasi diri, sebuah dialog kritis untuk menentukan pilihan, kalau kata Aristoteles. Mereka yang nyinyir itu sebetulnya tak paham, ibarat para surfer media sosial kekinian yang mudah tertipu hoax. Main share warta, membuat komentar pula. Namun tak pernah menelaah kritis, dengan melakukan crosscheck atau verifikasi terlebih dahulu untuk sekedar menganalisis sebuah warta yang aktual.

Jomblo akhir-akhir ini selalu saja dibuat sebagai bahan eksploitasi, lihat saja itu WHO berani-beraninya mengklasifikasikan jomblo sebagai disabilitas. Hal tersebut semakin memperparah kondisi psikologis para jomblo, mulai dari kecemasan hingga banyak yang mengalami psikotis. Seakan-akan memberikan justifikasi bagi mereka para haters, sudah sarkas, tak berbudaya dan tak manusiawi.

Selain itu gara-gara stigma yang demikian, banyak para kapitalis yang memanfaatkan kita para jomblo. Entah itu program-program kontak jodoh sialan, contohnya dulu ada salah satu layanan ojek online yang memanfaatkan situasi demikian. Tentunya dengan menjual kata jomblo, mereka dengan mudahnya meraup pundi-pundi keuntungan dari kita para jomblo. Oleh karena itu kita ini adalah objek penghisapan laten, yang terus ditindas oleh para kapitalis.

Akibatnya, banyak para jomblo yang tergesa-gesa cari pasangan. Tanpa melaui proses yang selektif, layaknya rekruitmen karyawan baru. Asal pilih yang penting tak dihina dan di-bully, hasilnya banyak anak manusia yang patah hati. Mudah meneteskan air mata, baper berkepanjangan. Berimplikasi pada hal-hal yang kontraproduktif hingga depresi, lalu akhirnya memilih menjadi sufi yang kaffah.

Oh, jangan-jangan tingginya angka perselingkuhan dan perceraian, bisa jadi implikasi dari cinta kasih yang temporer. Cinta yang dipaksakan, itu menyakitkan. Sungguh terlalu kata Rhoma Irama.

Dengan banyaknya fenomena yang semakin mendiskreditkan para jomblo, maka hal tersebut menjadi legitimasi para haters untuk terus mem-bully kita para jomblo. Percuma teriak-teriak soal HAM, kalau kalian saja masih melakukan diskriminasi pada kita yang memilih jalan jomblo. Antara lisan dan tindakan kontradiktif, sehingga apa yang kalian lakukan jelas-jelas kontraproduktif. Dasar hipokrit !!!.

Kalian itu tidak memahami kami para Jomblo, tahunya hanya secara permukaan tanpa tahu apa yang kami inginkan dengan memilih jalan ini. Ibarat sebuah fenomena, kalian ini mirip orang-orang yang sok suci.

Selalu mempunyai pemikiran, dimana-mana kalau cewek jadi korban perkosaan, maka yang salah adalah si cewek. Atau mengatakan bahwa pembantaian tahun 65 itu layak dilakukan, karena komunis itu jahat padahal kalian tidak tahu apa-apa soal komunis ataupun Soviet. Ya jujur, kalian para haters kelakuannya mirip mereka yang sok suci itu. Oh Tuhan, kalian semua suci aku penuh dosa.

Asalkan kalian tahu, jomblo itu proses kontemplasi diri untuk mencapai ranah aktualisasi diri. Jangan disangkut-pautkan dengan kegagalan kisah asmara, semisal putus cinta kek!! atau yang sering ditolak kek!!. Coba kalau berani, bikin itu meme tentang Imam Bukhori filsuf Islam yang jomblo. Kalau enggak mau di Ahokkan oleh para Guardian of Religion.

Jangan sekali-kali menghina kita para Jomblo, karena kesendirian bukan berarti kesepian atau takdir illahiyah. Namun semua itu hanya sebuah opsional, yang memiliki visi dan misi. Jomblo kami beda dengan kalian, yang masih sibuk mencari pelampiasan. Karena jomblo kami, merupakan sebuah ikhtiar untuk mencapai tujuan yang indah.

Panutan kami adalah Muhammad Hatta dan Tan Malaka, yang memilih jomblo selama perjuangan melawan penjajah. Jika Hatta menikah, beda lagi dengan Tan Malaka yang tetap memilih jalan jomblo revolusioner. Semua bertujuan dan dinamis, bukan seperti kalian yang pikirannya hanya eksistensi dan sahwat semata. Noh buat para haters, sudahkah ada rencana menikahi pasangan kalian?

Jangan-jangan kalianlah yang hina, hipokrit, hanya ingin jadi avonturir cinta demi eksistensi. Menyedihkan, mencela namun tak mau mengaca. Teriak Kafir, namun kafirnya sendiri tak dilihat kalau kata Gus Dur. Gitu aja kok repot!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here