Hidup tanpa masalah barangkali harapan setiap orang, mustahil, tapi manusia (khususnya generasi milenial) memang tidak mau ribet mikir dan menyiksa diri untuk berproses secara wajar. Internet dan medsos kerap menjadi pelarian paling digemari bagi mereka yang galau 27 karat, defisit otak dan defisit wajah, kenapa? Gawai bisa mengatasi itu semua, asal tidak defisit paket data.

Belakangan, krisis konsentrasi sama mengerikannya dengan cuti nalar permanen. Kemampuan konsentrasi generasi milenial—berdasarkan riset terbaru—tak lebih dari 12 paragraf dalam membaca dan tak lebih dari 3 menit dalam nonton video, padahal 16-18 jam perhari mereka habiskan untuk berselancar di dunia maya, terutama medsos dan game online. Lantas, apa gunanya terhubung dengan internet sementara kebahagiaan tak kunjung ditemukan? Hidup macam apakah yang sedang kita jalani bersama kuota internet?
Internet itu mubah alias boleh, bisa menjadi haram dan bahkan haram kuadrat kalau berlebihan dan disalahgunakan. Dalam kajian yurisprudensi, benda-benda dan kegiatan apapun bisa menjadi haram bukan semata karena substansi benda tersebut, tapi juga karena hal-hal yang melingkupinya, misalnya: berlebihan, penyalahgunaan, salah aturan pakai, serta demi kejahatan ia diselenggarakan.

Dunia maya sungguh-sungguh telah menjadi dunia pertama generasi milenial sedangkan dunia nyata ini menjadi dunia kedua. Eksesnya, revolusi industri 4.0 merubah pandangan manusia dari mekanikal (1.0), elektrikal (2.0), komputerisasi-globalisasi (3.0) menuju big data dan serba internet, tanpa terkecuali cara pandang manusia terhadap agama dan kebahagiaan. Mereka mengira bahagia itu (di, dari, ke dan malalui) internet, padahal tidak sama sekali.

Jika tujuan hidup Anda adalah menghindari masalah, maka Anda salah memilih planet bumi untuk Anda tinggali. Bumi ini fakta, Indonesia ini fakta, internet juga fakta, tinggal bagaimana mengelola opini tentang itu semua. Internet bisa menjadi sumber penghasilan dan kebun uang, tetapi pada saat yang sama ia juga bisa manjadi mesin politik busuk dan pembodohan masal.

Anda tidak akan pernah betah tinggal di planet Jupiter dan apalagi Jupiter MX, selama orang yang Anda benci masih tinggal di bumi ini, terutama di tahun mabuk agama dan puber politik ini. Anda perlu sedikit mendalami tasawuf agar memilki “seni” untuk meloloskan diri dari jebakan faktisitas dan kepalsuan aktivitas.

Jernih hati dan bening budi, nalar yang sehat dan pekerti yang luhur mutlak dilakukan dengan memulai perjalanan ke dalam diri, memasuki ceruk-ceruk sunyi, mendaki sisi kelam diri yang tak terperi, sampai tujuan hidup dan kegelisahan eksistensial terjawab dengan sendirinya.

Nah, jika tujuan hidup Anda adalah semata ingin damai dan bahagia, Anda tak perlu mencarinya di luar diri, di dunia maya, sebab di lubuk hati Anda, di palung sukma dan di dasar jiwa Anda kebahagiaan itu telah lama bersemayam. Tidak penting apakah Anda defisit materi atau tidak, tidak penting apakah Anda menjadi pria yang kurang diminati oleh segala jenis calon mertua di muka bumi, toh artis-artis semakin tidak bahagia justru gara-gara wajah dan gaya hidup mereka. Jadi, sering-seringlah menjumpai diri sendiri.

Caranya?

Bahagia itu menutup mata membuka hati, menutup telinga dan merentangkan pikiran. Bahagia itu bukan memilki tapi melepaskan. Bahagia itu bukan keluar tapi masuk. Bahagia itu mengaku banyak dosa. Bahagia itu membuka diri untuk diperbaiki. Bahagia itu melayani dan memuliakan orang lain. Bahagia itu dengan menjadi manusia, bukan menjadi mesin (1.0), listrik (2.0), komputer (3.0) dan bahkan menjadi internet (4.0)!
Tugas Anda di dunia ini bukan hidup tanpa masalah, tapi hidup dengan menjaga semangat dan mengelola kebahagiaan.

Caranya? Menikmati hidup di waktu sekarang.

Caranya? Memaafkan masa lalu.

Caranya? Lebih fokus ke masa depan.

Caranya? Gunakan internet seperlunya.

Caranya? Temuilah manusia-manusia di sekeliling Anda, bukan akun medsosnya.

Caranya? Kok nanya terus, mana kopi?!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here