Baper? Baper apa yang berfaedah?

Baper bareng GT disetiap akhir pekan tentunya.

Apa sih Baper? kok sudah chapter kedua aja?

Baper adalah singkatan dari Belajar Penulisan Sastra, merupakan kegiatan rutinan yang baru saja digagas oleh penggerak Gubuk Tulis, dan baru berjalan di minggu kedua untuk semester ini. Baper sendiri, memang masih terfokus pada penulisan sastra. Dan pada semester ini, intens pada penulisan puisi dan cerpen, yang nantinya akan dibukukan menjadi antologi sebagai outputan dari kegiatan baper ini sendiri.

Pada chapter kedua ini, Baper ditemani oleh seorang mentor, yakni Ajun Nimbara yang merupakan lulusan Sastra Indonesia, UM. Dikesempatan ini, Ajun banyak memberikan masukan dan ilmu-ilmu baru terkait kepenulisan puisi, baik itu sastrawan-satrawan yang sudah melegenda hingga sastrawan yang masih asing dikalangan masyarakat awam non-sastra.

Yuk, disimak ulasan terkait materi BAPER semalem (Minggu, 10 Maret 2019)

Puisi merupakan khazanah dari pengembangan ide-ide yang layalknya radikal bebas di semesta. Dari puisi pula kita akan dapat memahami estetika, karena puisi lahir dari pengamatan terhadap kosmologi semesta yang tidak dibatasi. Ide dalam menulis tak serta merta lahir sendiri, akan tetapi ide mencari siapa saja yang mampu meng-entitaskan ide tersebut dari semesta.

Langkah awal dalam menulis puisi, tidak jauh berbeda dengan menulis tulisan sekelas essay dan opini. Yakni membaca karya orang lain. Jadi sebelum menulis apapun kunci utamanya adalah membaca, karya dengan genre yang sama.

Puisi dibuat, bukan untuk ditanyakan asal-usul idenya. Akan tetapi, puisi dibuat untuk di-interpretasikan makna yang ada dalam puisi tersebut, bukan untuk dibuktikan kebenarannya. Dan dalam menulis puisi, menulislah sebebas-bebasnya, jangan membatasi daya interpretasi pembaca. Karena fungsi dari puisi sendiri, adalah sebagai Katarsi (Pencerah) baik itu untuk protetik maupun sebagai jawaban atas puisi lainnya.

Puisi jika dilihat sebenarnya merupakan bentuk penghindaran penulis dari realita. Setiap tulisan, tidak terlepas puisi menentukan karakter dari penulisnya sendiri. Kita ambil contoh puisi-puisi yang ditulis oleh Alfian Dippahatang dalam Dapur Ajaib, merupakan penggambaran sosok Alfian yang senang dengan dunia kuliner, itulah mengapa keseluruhan puisi dalam buku tersebut bernuansa kuliner. Kemudian, puisi-puisi Sapardi Joko, yang cenderung romantik dan menggambarkan lingkungan dalam puisi-puisinya. Ada pula puisi yang dianggap rumit untuk di-interpretasikan, seperti karya-karya Afrizal Malna.

Penulis baik pemula maupun yang sudah profesional, cenderung mengandalkan diksi untuk mengkonstruk tulisan atau puisinya, bukan dengan penguatan frame dari tulisan itu sendiri. Hal ini membuat tulisan, terkesan indah namun tidak memiliki esensi apa-apa. Puisi yang lahir, seharusnya dapat menjadi sesuatu yang memberikan revolusioner, dan merangsa pembaca untuk memunculkan ide-ide baru yang leih segar dan tidak terkesan klise. Secara teknis, penulisan puisi harus bisa lebih elaboratif dan menumbuhkan konstruksi baru bagi pembaca.

Dalam menulis, kita tidak perlu membatasi pikiran, biarakan saja proses kreatif dalam membangun kredibilitas penulis menjadi ranah kreatif dari penulis itu sendiri. Puisi sebagai entitas puitik tidak dapat ditanyakan secara personal, karena setiap penulis mati setelah karyanya lahir.

Di akhir, Ajun Nimbara menyampaikan, dalam memulis puisi kita dibebaskan untuk berfikir reflektif dan realistis. Puisi itu luas, jangan dibatasi. Jangan batasi pula bacaan kalian pada satu genre puisi saja, tapi mulailah untuk membaca semua puisi-puisi yang telah dituliskan. Dengan begitu kalian akan mudah untuk menemukan karakter kalian sendiri dalam menulis puisi.

***

Sedikit semoga bermanfaat untuk terus menuangkan tinta-tinta keabadian selama masih diberikan nikmat hidup oleh Tuhan.

***
Untuk datang dan bergabung di acara Baper cukup datang saja di Oase Cafe and Literacy sesuai jadwal yang aan di share, serta diwajibkan membawa satu karya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here