Beberapa waktu belakangan banyak pihak mengatakan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilanjutkan karena pandemi COVID-19 belum berakhir. Banyak diberitakan dan diungkapkan juga bahwa pembelajaran daring akan terus dilanjutkan, bahkan dipermanenkan (selama masa darurat pandemi COVID-19).
Dua hal tersebut malah lantas menimbulkan persepsi bahwa PJJ identik atau sama dengan pembelajaran daring. Pembelajaran daring yang diidentikkan dengan PJJ lalu dipersepsi atau diasosiasikan dengan belajar dari/di rumah (BDR). Tak ayal, BDR dianggap pembelajaran daring dan itulah wajah PJJ.
Benarkah demikian? Seharusnya tidak — dan memang tidak demikian. Kenapa? Pertama, PJJ (distance education atau distance learning) sudah lama ada, pertama muncul akhir Abad 19 di Amerika. Saat itu, tentu saja, telekomunikasi belum berkembang, apalagi teknologi digital (informasi, internet) belum ada. Pembelajaran luring lebih banyak jadi andalan. Itu sebabnya PJJ berbeda dengan pembelajaran daring.
Ketika telekomunikasi berkembang dan terus berkembang, PJJ memanfaatkan atau mengadopsinya. Selain modul dan bahan cetak lain, radio dan televisi diadopsi dalam PJJ. Bahkan ketika teknologi digital/internet/informasi berkembang di masyarakat, PJJ juga cepat mengadopsinya. Di sinilah PJJ menjadi makin bervariasi sistemnya sebab diperkaya oleh pembelajaran daring (yang mensyaratkan internet dan teknologi informasi). Dalam banyak segi, pembelajaran daring memang telah meningkatkan efisiensi dan fasilitasi PJJ.
Namun, perlu diketahui bahwa tak hanya PJJ yang mengadopsi pembelajaran daring. Sudah sejak awal 2000-an (saat massalisasi internet mulai terjadi) lembaga-lembaga pendidikan yang tak menggunakan PJJ juga mengadopsi pembelajaran daring demi efisiensi dan peningkatan kinerja. Adopsi pembelajaran daring ini makin kencang dan cepat pada saat teknologi digital makin maju, murah, dan mudah (yang membuat masyarakat terhubung). Perguruan tinggi yang diikuti sekolah ramai-ramai mengadopsi.
Sekolah-sekolah konvensional (formal), misalnya, berlomba-lomba menerapkan atau mendayagunakan instalasi digital untuk menggenjot pembelajaran daring walaupun tak menerapkan sistem PJJ (alias sekolah konvensional. Tiap hari sekolah masuk, guru dan siswa datang ke sekolah, dan pembelajaran tatap muka juga terjadi. Namun, demi peningkatan mutu atau keefektifan pembelajaran dimanfaatkanlah pembelajaran daring. Di samping itu, juga demi perluasan dan pengintensifan layanan pembelajaran. Ini menunjukkan, pembelajaran daring tak identik dengan PJJ, apalagi identik dengan BDR! Bukankah jauh sebelum pandemi korona kita sudah melihat banyak lembaga pendidikan berinovasi dengan internetisasi dan digitalisasi pembelajaran? Kampus dan sekolah sudah mulai membangun insfrastruktur digital meski belum merata di seluruh Indonesia.
Penerapan teknologi digital dan internet (khususnya pembelajaran daring) dalam pembelajaran sebenarnya amat bervariasi. Tak hanya menghasilkan konsep atau sistem pembelajaran daring yang pada masa sekarang kita identikkan dengan BDR atau zoom learning, meet learning, dan google classroom. Jauh sebelum pandemi korona, misalnya, sudah berkembang pembelajaran di mana saja dan kapan saja (obiquitous learning) di luar kelas (sekolah atau kampus). Jadi, belajar bisa di taman, perpustakaan, kafe, rumah, ‘colearning space’, ‘common learning’, dan sebagainya. Dalam hubungan inilah 10 tahun lalu Clayton sudah meniupkan sangkakala gulung tikarnya kelas konvesional dalam buku Disrupting Class! Lebih lanjut, itu merupakan gejala nonformalisasi dan informalisasi belajar dan pembelajaran! Gejala ini seolah membenarkan suara Ivan Illich yang 40 tahun lalu meneriakkan Deschooling Society. Sebab itu, bagi saya pembelajaran ‘obiquitous’ ini lebih leluasa, membebaskan, dan memerdekakan guru dan siswa (atau dosen dan mahasiswa).
Namun, ketika tiba-tiba gelombang pandemi korona menerjang, yang mengarantina nyaris semua orang di rumah, mendadak trendi BDR (learning from/at home), menyapu pembelajaran ‘obiquitous’. Juga melindapkan ragam lain pembelajaran daring. Saya duga, di situlah titik awal khalayak memahami PJJ sebagai semata-mata pembelajaran daring dan pembelajaran daring identik dengan BDR! Dari situlah pula karut dan silang pikiran berkembang (walaupun seharusnya tidak kalau kita memandang sejarah sebagai kontinuitas, bukan diskontinuitas). Namun, di situlah pula nujuman Ivan Illich tentang deschooling society memperoleh pembenaran. Begitu juga gagasan-gagasan Tetsuko dalam Toto Chan dan gagasan pembelajaran ala Dead Poet Society menjadi nyata, bukan sekadar halusinasi atau eskapisme dari kesumpekan belajar di sekolah.





