Dahulu kala, sejak rezim pithecanthropus erectus buang air sembarangan, berburu dan hidup berpindah-pindah- ada sebuah kisah tentang kitab rahasia yang diturunkan kepadanya. Tentu, kitab itu tidak dalam tulisan, karena era itu, manusia purba tidak pernah mandi, sehingga ketheknya sampai-sampai menutupi bola matanya. Alhasil, baca saja tidak bisa, apalagi mau menulis.

Kitab ini peninggalan bangsa halus yang hidupnya diperkirakan sama dengan Jibril, umurnya selisih satu kilogram, dua ons lebih satu lonjor jengkirut. Banyak dari penduduk bumi, komet, asteroid, surga dan neraka tidak tahu apa isi kitab itu. Penulis, penggambar atau pewarna kitab itu pun tidak diketahui. Entah temannya Jibril, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj- atau bahkan teman Tuhan. Tidak seorang pun tahu.

Selama perburuan, pithecanthropus and friend dengan asyik menyusuri hutan. Hutan dimanfaatkan olehnya, agar dia bisa bertahan hidup. Makan apa saja yang dilihatnya, daun, kayu, akar rumput, sesekali bebatuan. Menjadi vegetarian plus bebatuan pun tak cukup untuk suplemen nutrisi tubuhnya. Sehingga, mereka memutuskan untuk memburu hewan apa saja yang di sekitarnya, di antaranya adalah ayam nyamuk , tikus kepet , burung cucakrowo, anjing sialan, babi hutan, unicorn hingga buroq.

Sialnya, mereka tertangkap polisi moral dari kahyangan, sebut saja dewa erlang. Dewa yang menyebarkan ajaran langit empat penjuru angin. Dalam salah satu poin ajarannya, buroq adalah hewan yang dilindungi oleh Tuhan dan suci, karena dalam kitab yang Dewa Erlang hafal salah satu isinya demikian. Jikalau ada yang mengganggu, menganiaya apalagi memakan buroq, maka ia akan dijerumuskan ke comberan paling dahsyat baunya di dunia dan akhirat.

Telah termaktub pula, bahwa buroq adalah hewan yang akan mengantarkan pak Mad menuju ke kahyangan, guna menemui para dewa dan Tuhan untuk menawarkan sate Madura. Meskipun pak Mad belum dilahirkan di muka bumi. Baru akan dilahirkan oleh Tuhan setelah air laut surut dan kekeringan melanda seantero galaksi.

Seketika setelah tiada lagi air, baik air comberan, isi ulang hingga air liur nyamuk, Mad ditelorkan di bumi – di dalam sebungkus tahu telor pak Suleman. Telor itu pun melompat dari kertas pembungkus dan pecah tepat di wajah pak Suleman dengan wujud manusia berkaki dua, bertangan seribu, berkepala satu setengah.

Pak Mad tumbuh dan berkembang tanpa mengenal dan menikmati air; air laut, air sungai, air hujan sedikitpun. Ia menikmati sedikit air (hidrogen dioksida) dari tomat yang ia beli dari pasar, berkat menukarkan tusuk sate. Tidak jarang pula, pak Mad mengepul air liurnya ke dalam kendi, dan ia minum kembali.

Bertambah hari, pak Mad semakin gelisah, hingga akhirnya ia berdoa kepada Tuhan agar segera dilimpahkan air bagi penduduk bumi, khususnya gang Dhoolly.  Pak Mad pun tertidur di atas pohon durian. Ia bermimpi mengikuti seminar yang diadakan Lembaga Ilmu Penyetan dan Irigasi (LIPI) para dewa di kahyangan. Mimpi itu berisikan banyak hal; 1. Cerita masa lalu nenek moyangnya, yang dianugerahi kitab rahasia, 2. Kitab rahasia itu tidak berwujud tapi berisi, isinya akan dibisikkan oleh burung perkutut saat seseorang tidur, 3. Burung perkutut pun menyampaikan pesan kitab itu yang berbunyi, “Jika air, tanah dan udara sudah sulit kau dapatkan, ketahuilah kalau kamu belum bayar tagihan. Jika, kau sudah lunasi tuh tagihan tapi air tak kunjung kau dapatkan, ketahuilah ada siklus alam yang macet. Siklus alam atau dalam hal ini siklus air yang macet, disebabkan oleh kurangnya volume kentut dinosaurus, lobster atau cumi cumi. Kentut itulah yang mampu menghasilkan hidrogen dan oksigen. Jika kentut sulit dilakukan, buatlah asap buatan. Karena dengan asap itu, akan menghasilkan mendung di udara, dan datanglah hujan penuh keberkahan.” 4. Ingat, jangan serakah, karena azab Tuhan itu ada.

‘Azab Tuhan itu ada, ada, ada’, tersentaklah pak Mad dari ranjang pelepag pisangnya. Air saja belum saya dapatkan, azab kok sudah mengancam Tuhan. Beri hamba kesempatan agar bisa mengguyur desa kami dengan air yang melimpah.

Esok harinya, pak Mad segera mengeksekusi cara memperoleh air, sebagaimana yang telah dibisikkan burung perkutut dalam mimpinya. Langkah pertama tentu tidak mungkin, karena warga desanya mengidap penyakit tidak bisa kentut melalui saluran belakang. Warga desanya hanya bisa kentut melalui anus atau vagina saat kencing. Sehingga, tidak didapatkan udara yang keluar bebas, karena sudah tercampur dengan air kuning pekat itu.

Satu-satunya cara agar ia mampu mengepulkan asap adalah dengan menjadi penjual sate, karena sebelumnya ia pun pernah berjualan tusuk sate. Meskipun menjadi tukang sate butuh modal besar, tetap ia lakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara adalah dengan mencari daging kuda, domba, kelelawar, cacing di hutan, serta mengajak seluruh tetangganya untuk menjadi penjual sate.

Ribuan warganya lantas percaya dengan anjuran pak Mad untuk menjadi penjual sate, agar penduduk desanya segera dilimpahkan air. Berbondong-bondonglah mereka membuat romboang dan membuat brand sate, mulai dari sate Madura, Ponorogo, Lamongan, Kupang, Aceh, Belitung, hingga Ambon. Asap terus mengepul ke udara dengan kecepatan 10.000x c (kecepatan cicak berlari) Km/jam.

Asap bergumul dan berdiskusi di atmosfer dalam ketinggian 1.000 x tower masjid, bersepakat untuk segera menurunkan air. Dengan sepengetahuan dewa erlang dan Tuhan Yang Maha Asyik, air 3,14 x 1021 x kolam renang Firaun diguyurkan ke bumi. Air itu mampu memenuhi kolam kamar mandi seluruh warga satelit, lautan, danau, tambak hingga jeglongan di jalan Manyar kabupaten Gresik.

“Berkah melimpah, kamsia, matur tengkyu Tuhan,” kata pak Mad. Air ini akan digunakan sebaik mungkin oleh penduduk desa, seperti untuk membersihkan bisul, memandikan katak dan mencuci kemaluan. Berdasarkan prediksi Kementerian Sumber Daya Air dan Krikil Tanah, air yang ada saat ini diperkirakan bertahan dalam sepersepuluh abad, dikurangi sewindu, dikurangi dua belas bulan, ditambah dua empat jam, lima menit, tiga detik.

Atas prediksi tersebut, pak Mad dan warga lainnya kebingungan karena asap sate tak lagi mampu menurunkan air hujan. Akhirnya ia dan orang-orang merencanakan menimbun air sebanyak itu. Berbagai cara telah dilakukan, di antaranya dengan membuat bak raksasa dari kayu yang diperoleh dari penebangan besar-besaran hingga menyimpannya dalam perut gajah, onta dan buaya.

Usaha itu gagal, bak raksasa yang terbuat dari kayu tersebut tidak mampu menyimpan air, karena air sedikit demi sedikit terserap ke xilem dan floem kayu. Onta, gajah dan buaya pun mati kekenyangan air. Pak Mad pun bingung.

Di tengah terik matahari, di siang bolong, pak Mad pergi ke tepi laut untuk berkhalwat. Beberapa hari kemudian pak Mad menemukan tanda-tanda adanya mukjizat Tuhan. Berjuta cumi-cumi terkapar mabuk dan menepi ke bibir pantai tempatnya bertapa. Karena pak Mad merasa dirinya manusia biasa, dimasaklah cumi cumi itu dengan resep leluhur. Jutaan cumi cumi ia makan sendirian, dan terdapat sesuatu kandungan cumi cumi yang ia sisihkan dan kumpulkan. Sebut saja lembaran plastik. Lembaran plastik itu terkumpul sebanyak 80 kg 1 ons.

Untuk sementara lembaran plastik itu diolah pak Mad sendiri dengan meleburkannya ke mesin penggiling jagung. Setelah proses penggilingan, lembaran plastik itu dibentuk menjadi wadah besar menyerupai cekungan kapal titanik. Wadah yang berhasil ia buat dari cumi itu lah yang ia gunakan untuk menimbun air, yang dikenal dengan ‘plastik’.

Di belahan dunia lainnya, ada kisah bangsa Olmec yang menggunakan kayu untuk kebutuhan hidupnya. Melalui Alexander Parkes, kayu yang kaya akan kandungan selulosa, polimer pada dinding sel itu diolah menjadi bahan baku plastik. Selulosa itulah yang diolah Parkes sebagai bahan pembuatan plastik. Plastik yang ia buat dari selulosa kayu ia namakan parkesine. Produk awal parkesin seperti gagang pisau, sisir, kancing, dan lain sebagainya, yang bersifat isolator panas atau listrik.

Parkes memamerkan produk-produk tersebut di London’s Science Museum pada 1862. Perkembangan Plastik Temuannya ini kemudian dijual pada dua orang Amerika, Hyatt bersaudara. Untuk meningkatkan kelenturan parkesin, mereka kemudian menambahkan kamper dan menamainya seluloid pada 1870. Namun, terobosan besar pada perkembangan plastic sebenarnya terjadi pada 1907. Tahun tersebut menjadi kelahiran era plastik modern dengan penemuan Bakelite oleh Leo Baekeland. Bakelite merupakan plastik sintetis pertama di dunia. Dengan kata lain, bakelite tidak berasal dari tumbuhan atau hewan, melainkan dari bahan bakar fosil. Sayangnya, Bakelite bukanlah isolator yang baik seperti seluloid. Karenanya, berbagai penelitian lanjutan terus dikembangkan untuk mencari plastik baru.

Baekland menggunakan fenol, asam yang berasal dari tar batubara. Dia kemudian membuat polystyrene pada 1929, poliester pada 1930, polyvinylchloride (PVC) dan polythene pada 1933, dan nilon pada 1935. Kejayaan Plastik tahun-tahun selanjutnya, saat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis berjaya. Hal ini karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam yang langka. Dari hal tersebut, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas. Misalnya saja, sutra mulai digantikan nilon untuk bahan parasut, tali, pelindung tubuh, dan lain sebagainya. Sepanjang periode perang, penelitian tentang plastik juga terus dilakukan. Ini terbukti pada 1941, polyethylene terephthalate (PET) ditemukan. PET sendiri merupakan bahan untuk membuat botol minuman bersoda karena cukup kuat menahan dua tekanan atmosfer. [1]

Satu abad kemudian, plastik menjadi dilematik. Dahulunya yang sangat dibutuhkan kehadirannya. Kini menjadi ancaman. Paska perang dunia II dan pembantaian 65 di Indonesia, industri plastik pesat berkembang. Mulai dari plastik tahan panas, tahan dingin, tahan kotor, tahan dosa dan tahan azab gencar dipromosikan.

Gawat memang, plastik sudah memadati daratan dan lautan. Naifnya, ada kabar ikan hiu, lumba lumba, pare, mujair, lele mati terdampar dan dalam perutnya berisikan plastik. Tidak hanya itu, didaratan ada orang yang terserang kanker dikarenakan sering mengkonsumsi plastik. Penduduk bumi pun kebingungan untuk mencari cara yang efektif untuk mengurangi plastik.

Bahkan, da wacana lain dari masyarakat Mars untuk memanfaatkan cumi-cumi untuk pembuatan plastik. Katanya, agar ramah lingkungan. Salah satu penduduk cumi-cumi pun mendengar kabar itu, dan segera mengkonsolidir kawan-kawannya untuk segera bersatu membuat rumah besar, cumi cumi raksasa (buatan) yang bisa terbang. Cumi cumi raksasa itu terbuat dari kandungan plastik dalam tubuhnya- agar sulit ditangkap oleh penduduk Mars.

[1] sains.kompas(dot)com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here