Bucin merupakan kependekan dari Budak Cinta. Budak cinta sendiri merupakan istilah yang disematkan pada orang yang mau melakukan dan berkorban apa saja demi cinta. Bucin tak mengenal gender, usia, maupun status sosial, siapapun bisa menjadi bucin. Lantas bagaimana bisa menjadi bucin namun tetap merdeka?

Tentu kita punya banyak teman yang bucin. Yap, ciri-cirinya pun sangat jelas terlihat. Mulai dari menulis nama akun media sosial pacar di bio mereka, mengunggah foto berdua dengan caption bersyukur sekali bisa kenal kamu…., atau puisi-puisi roman sebait. Biasanya juga mereka saling berkabar tiap hari, melaporkan semua agenda dan temu dengan siapa saja, cowok apa cewek temen sekolah apa kuliah, dsb. Malam harinya wajib video call bahkan tak jarang sampai ketiduran.

Lalu biasanya salah satu mengunggah di story dengan caption; yang nemenin aku skripsian sampek ketiduran *emoticon cium* *emoticon love banyakkk*. Belum lagi agenda ketemuan, biasanya kalau cewek bikin story video, pertama yang diperlihatkan adalah wajahnya diselingi ngomong bisik-bisik lalu pindah kamera belakang ponselnya, diputar agar kelihatan tempat ketemuannya di mana, terakhir wajah pacarnya sampai di zoom berkali-kali, kalau cowok biar telihat cool cukup dengan foto sepatu (bukti lagi jalan bareng) atau tangan yang lagi bergandengan.

Menjadi bucin itu memang nikmat. Siapa sih yang ga suka diperhatiin, ditemenin, atau diberi kejutan-kejutan kecil dari orang yang terkasih? Tetapi secara tidak sadar, menjadi bucin sangat memakan banyak waktu produktif kita. Bahkan waktu buat ngdrakor kita lho. Biasanya kita mampu drakor maraton delapan episode sehari lalu berganti chatting maraton sama doi sampai ga nonton drakor sama sekali. Atau biasanya kita yang suka nulis dan butuh kosentrasi, jadi jarang nulis karena disambi dengan chatting yang pada akhirnya kegiatan nulisnya terhambat bahkan ga selesai. Itu masih seputar hobi, bagaimana dengan pekerjaan wajib? Seperti tugas deadline, rapat organisasi/komunitas, atau menekuni hal lain yang bisa bermanfaat. Bahkan yang terlihat sepele seperti bertemu teman lama bisa terbengkalai karena pengennya ketemu doi terus. Padahal kita tahu kalau ketemu banyak orang itu menambah wawasan kita.

Selain memakan banyak waktu, bucin juga memakan banyak energi. Kamu harus mengabari setiap gerakmu ke doi (ya ga salah sih, cuman kalau berlebihan ya kurang baik). Belum lagi kalau lagi marahan, foto profil mesti dihapus, lalu cari-cari lagu di spotipay yang super galau tapi tetep indie seperti I love you but I’m letting go… buat story deh, lalu dipantau terus sampai doi lihat story kita. Belum lagi prasangka kita seperti doi ke mana ya? Jangan-jangan lagi sama itu, kok doi berubah ya? dst. Lalu merenung di pojokan kasur yang tak jarang sampai pipi basah, bantal pun juga ikut basah. Hmm.. Yorobun.. Apa ga capek kayak gini terus?

Dampak negatif dari bucin tersebut bukan berarti kita tidak diperbolehkan bucin, apalagi dilarang jatuh cinta. Bukan dong. Sejatinya, cinta memiliki power yang kuat. Berdasarkan penelitian, ketika seseorang mendapatkan perhatian yang tulus serta kasih sayang akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memicu pelepasan imunoglobulin A / IgA, yakni antibodi alami tubuh terhadap pilek, flu dan serangan kuman lainnya. Cinta juga memberikan efek pada kesehatan mental kita, sebab mencintai dan dicintai membantu menghilangkan rasa cemas. Ketika sedang jatuh cinta, otak menghasilkan dopamine, yakni stimulan rasa bahagia, optimisme, dan kesabaran. Saling mencintai juga meningkatkan rasa percaya diri. Sehingga, energi positif dari cinta ini dapat disalurkan dengan kegiatan bermanfaat yang mampu membangun diri kita. Melakukan hal-hal di luar zona nyaman menjadi lebih percaya diri dan optimis.

Cinta itu sejatinya memerdekakan, jika kamu tidak merdeka maka bisa jadi itu bukan cinta. Budak cinta adalah wujud mengekspresikan ketulusan cinta kepada seseorang. Orang yang kita cinta bisa menjadi partner hidup kita untuk melakukan kegiatan positif seperti berwirausaha bersama, memiliki karya bersama, atau sebagai teman diskusi. Cinta itu juga saling support satu sama lain. Jika cinta itu sampai melampaui batas wajar yang dapat mengurangi waktu produktif dan energimu, coba deh dipikir lagi, apakah itu benar-benar cinta?

Menjadi bucin itu ga salah, sebab bucin itu wujud mengekspresikan cinta kita kepada seseorang. Tetapi kalau berlebihan itu kurang baik. Toh segala sesuatu yang berlebihan memang ga baik kan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here