Suara adzan berkumandang pada setiap sudut desa, kampung dan perkotaan. Masjid terbangun sekian pesatnya, rombongan haji setiap tahun meningkat dan banyak juga sudah berhaji ingin pergi haji lagi sebagai hiburan dan peninggian kasta. disertai pula ketidak adilan, diskriminasi dan persekusi  juga kian bertambah, pertumpahan darah masih terus berlangsung. isu hoax dan beserta persaksian palsu dari berbagai media dan kursi parlemen kian menjulang tinggi polulasinya.
Bagi manusia tercerahkan “Syahadat” tidak sekedar mengucapkan
*(ا شهد أن لا إله إلا الله و اشهد أن محمد ر سو ل الله)*
Yang sepertinya hanya menghitung – hitung jumlah tuhan dan nabi. Syahadat adalah persaksian atas zaman : melihat fenomena zaman, kemudian mengidentifikasi dan menilainya dari perspektif Syari’at. Syahadat adalah persaksian, bukan melihat tidak ada, atau pura-pura tidak tahu dan menutupi realitas kita atas zaman. Bukan pula suatu persaksian yang bohong karena penakut atau tamak atas peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era kita ini. Syahadat kita sesungguhnya persaksian yang aktif. Syahadat dimulai dari bentuk La Ilaha sebagai nagasi atas kekuatan penindas dan tuhan-tuhan palsu yang ada di sekitar kita. Lalu penetapan (Illa Allah), hanya Allah mahaperkasa dan maha dari segala maha.
Shalat adalah penegasan kita atas sang pembuat waktu dan melaksanakan pekerjaan segera bukan untuk bersantai atau menunda. Zakat adalah persekutuan dalam harta antara orang yang mempunyai kelebihan rizki dengan yang belum mempunyai kelebihan duniawiah. Dalam situasi bahwa bangsa kita masih sedikit yang kaya raya dan melayang diatas kekuasannya dan masih terlalu banyak yang tertindas atas pengelolaan kekayaan bangsa. Sedangkan puasa adalah kepekaan atas nasib sesama yang menderita, lapar, haus dan bagi yang dimanipulasi hak adil mereka. Adapun haji adalah persekutuan seluruh umat Islam dunia paling sedikit dalam setahun untuk menjadi bangku pelajaran bahwa keberagamaan Islam bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh penjuru dunia dengan berbagai nalar cara pandang dalam Ber Islam dengan Interprestasi nilai ketuhanan yang satu dan yang menjadi landasan kita bersama untuk kedaultan kesatuan umat manusia.
Olah rasa dalam beragama kita bukanlah dimaknai sebagai manifesto politik, melainkan sebuah dialektika kita pada budaya kultur dan persenggamaan kita pada sosial masyarakat
Yang beragam untuk melihat universalitas olah rasa kita dalam beragama. Keseimbangan dalam menyikapi perkembangan zaman yang serba global dengan memfilter gerakan trans yang dapat menundukkan olah rasa kita pada ruang dan waktu berpijak dimuka bumi dengan bermaksud menguak kembali faktor – faktor pendorong kemajuan seperti rasionalisme kultural, nasionalisme, naturalisme, keadilan dalam kemanusiaan dan demokrasi yang kita perlukan pada saai ini pada bangsa Indonesia.
Kita masih memahami kehidupan dari mimpi – mimpi. Kita merasa sebagai sebaik – baik komunitas yang dilahirkan untuk umat manusia bahwa kita memiliki peradaban tinggi yang pernah lahir dalam sejarah bahwa kita bangsa unggul. Padahal kenyataanya berbeda sama sekali. Kita masih belum mampu melakukan “amar ma’ruf nahi munkar” sehingga menjadi bangsa yang baik.  Tanah air kita telah dirampas orang lain beserta keyakinan kita dalam bersosial. Milik kita telah dirampas segerombolan manusia kuasa (oligarki) yang menuhankan dirinya untuk menguasai bumi manusia. Namun “ekstase” bisa berubah jika detik ini kita mau merubahnya tidak ada kata terlambat.
Dari olah rasa keberagamaan. Penulis bertolak belakang teoritis analisa Ibn khaldun bahwa dinamika perkembangan bangsa-bangsa ada empat fase yaitu tumbuh, berkembang, jaya dan hancur. Ibn khaldun hidup pada era gelombang pertama, dari perkembangan bangsa-bangsa dan generasi millenial hidup pada permulaan gelombang kedua, yang muncul dari dua abad yang lalu dari dalam bentuk permulaan reformasi agama. Generasi kita mencoba mentrasformasikan reformasi agama sebagai penguatan olah keberagamaan kita untuk menghidupkan tradisi-tradisi kebangsaan kita untuk menguatkan sosial kultural dalam menopang gejala globalisasi liberalisme dan menjadi bagian aktif dari gerak sejarah yang terjaga kontinuitasnya, anatar masa lampau, masa kini, dan masa depan.
Penguatan jati diri untuk mengembalikan Identitas kita sebagai masyarakat yang hidup pada multidimensi untuk bersikap menerima aspek relasional dari perbedaan untuk menjadikan penguatan diri dalam kemajuan bangsa.
Penulis:  Ilmi Najib
Penggerak GUSDURian Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here