Seorang Cendekiawan muslim asal lebanon yang banyak menelaah dakwah islam berbagai negara sebut saja syaikh yakan. Dalam coretan beliau yang pertama menuliskan kaifa Nad’u Ilal Islam, dengan sebuah keluhan, “pada abad millenial terkini banyak sekali juru-juru dakwah Islam yang tidak memahami betul tujuan yang ingin mereka capai, atau metode untuk mencapainya. Mereka tidak memahami hal-hal yang diperlukan mayoritas masyarakat horizontal dan gerakan Islam untuk mengaktualisasikan hidup sebagai manusia, pada waktu dan tempat setiap lokalitas yang berbeda. Karena itulah sering terjadi hal – hal yang kurang tepat ketika mereka berdakwah dan menjadi salah faham masyarakat muslim pada setiap ruang dan waktu tertentu.
Sebetulnya pada setiap gerakan Islam indonesia sudah sering dakwah dirumuskan. Sudah berkali-kali seminar dakwah diselenggarakan. Semua dilakukan untuk membantu pada pendakwah memahami tujuan dan metode dakwah yang tepat. Pada lembaga tinggi islam, dakwah bahkan sudah menjadi disiplin tersendiri yang menjadi garapan jurusan atau fakultas ilmu dakwah. Walaupun demikian, hal – hal yang sering terjadi, diluar dugaan, banyak juga terjebak pada pergeseran konflik antar umat ormas sendiri. Tentu saja bukan semata-mata karena kesalahan konsepsi dakwa saja. Zaman terus berubah. Bersamaan dengan perubahan masyarakat, masyarakat diperlukan peninjauan terus menerus antara umat islam, ormas islam dan golongan islam.
Salah satu ciri abad terkini ialah meluasnya penggunaan media massa, sekarang ini, dengan teknologi digital sebuah pesan saja bisa menyuarakan higga mencapai miliaran manusia sekaligus. Seperti Syaikh Imam Al ghozali memikirkan cara berdakwah dalam majelis ilmu, seperti itulah para tokoh agama hendaknya memikirkan bagaimana syiar dakwah digital menjadi ruang umat muslim menjadi pembuka kerangka islam yang ramah dan lebih mendalami apa arti manusia sesungguhnya. Seperti dalamnya syaikh al ghazali merenungkan pengaruh buku filsafat yunani pada pemikiran Islam. Sedalam itulah sehendaknya para tokoh pendakwah merenungkan inflintrasi kebudayaan melalui media digital.
Tanpa bermaksud untuk mengritik ormas tertentu dan golongan islam tertentu, kami disini mengartikan bahwa dakwah sebagai kegiatan komunikasi yang ditujukan untuk mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan perorangan ( Individual ) dan masyarakat ( Sosial ). Karena dakwah adalah kegiatan komunikasi yang mencakup sosial dan spiritual.
Pesan dakwah, yang membedakan secara esensial dakwah dari kegiatan komunikasi lainnya ialah isi pada pesan dan cara penyampaiannya, Pertama menurut Alquran (Al-A’raf,157) pesan dakwah harus mengandung amar ma’ruf nahi munkar – perintah berbuat baik dan larangan berbuat jelek. kedua penjelasan tentang halal dan haram dengan singkat, syariat islam dalam seluruh aspeknya, ketiga, hal-hal yang membebaskan manusia dari beban kehidupan dan belenggu yang memasung (hurriyatul iradah) kebebasan berkehendak akan tetapi harus meyakini adanya takdir tuhan. Dengan demikian pesan dakwah meliputi multidimensi yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia secara material dan spiritual.
Digitalisasi yang dihadapi seluruh sub kultur masyarakat erat kaitannya dengan masyarakat massa (mass society) dan budaya massa (mass culture). Beberapa hal yang dihadapi pada abad millenial menurut (Jalaluddin Rahmat 2017). Masyarakat massa diartikan sebagai masyarakat yang ditandai beberapa hal pertama, pembagian kerja yang menyebabkan orang makin terasing dari ikatan keluarga dan komunitas semakin melemah. Kedua otoritas kelompok terpelajar dan pemimpin moral memudar bersamaan dengan hancurnya keyakinan dalam beragama, ketiga mayarakat didominasi oleh kecemasan mengejar status pada digital dan sosial. Dan pencarian keyakinan-keyakinan baru.
Dalam kelembagaan masyarakat massa menampilkan tiga gejala. Pertama banyak munculnya organisasi besar yang menstruktur berbagai perilaku manusia yang bersifat formal, impersonal dan serba biokratis, kedua adanya jaringan media digital yang cepat memberikan informasi serentak dari berbagai multidimensi masyarakat. Ketiga berkembangnya buda digitalisasi.
Dalam ruang masyarakat massa orang kehilangan sebuah identitas, merasa terasing, menderita, emosional dan kesepian. Tidak mengerti bagaimana mengendalika emosi dari senthan digitalisasi. Serta tidak tahu norma-norma perilaku apa yang harus dipegang.
Budaya massa ditandai oleh komersialisasi dan popularisasi. Karena materialistik dijadikan tolak ukur, karena massa peminat yang dikejar disinilah pesan media digital cenderung mengeksploitasi. Sebutan ( Kyai Agus sunyoto 2021) kuatnya budaya hegemoni gaya baru. seringkali budaya massa dikritik serba kekerasan, horor atau kebutuhan vulgarisasi kebudayaan,kebudayaan mendehumanisasikan massa dan meninakbobokkan massa.
Disini media massa ( digitalisasi ) menjadi hal penting yang harus dianalisa bagi para tokoh agama dan pendakwah. Persaingan dakwah dengan media digital bukan saja terjadi pada pesan komunikasi yang saling bertentangan tetapi juga perebutan waktu. Media digital yang membawa budaya massa bersifat ‘ubiquiotous’ berada dimana-mana dan dibawah kemana-mana ( layar smartphone ). Remaja hanya mendengarkan tentang kesucian pengajian atau pada kelas agama, tetapi rangsangan media digita untuk melihat sebuah kemolekan kemaksiatan mudah diterima.
Tulisan ini sebenarnya tidak ingin memberikan jalan untuk melegitimasi dari kepentingan ormas, golongan masyarakat tertentu, tetapi dikandung maksud coretan ini dapat menimbulkan rangsangan untuk berfikir bagi setiap muslim yang berkepentingan dakwah digital. Karena hari ini dakwah yang berorientasi substansial untuk kesadaran manusia ( spiritual ) sangat tipis dengan kepentingan eksistensial yang tidak esensial. Wallahua’allam.






