Babad Malang di Singhasari Literacy and Cultural Festival

1
139

Kamis, 2 Maret 2017 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang mengadakan dua rangkaian acara dalam rangka Singhasari Literacy and Cultural Festival yaitu Bedah Babad Malang dan Focus Grup Discussion mengenai Mittreka Buddhaya Kitab Pararton. Dibandingkan Kitab Pararaton yang telah lampau diulas oleh Brandes, Babad Malang terdengar baru di telinga masyarakat umum. Peserta Bedah Babad Malang membeludak, memenuhi ruang konvensi di salah satu hotel di kawasan Malang Utara tersebut. Judul besar ‘Babad Malang’ menarik antusiasme para pelajar, mahasiswa, tenaga pengajar, arkeolog, antropolog, filolog, pelaku budaya, penggerak literasi, petani hingga bahkan paranormal dan pejabat pemerintahan.

Bedah buku dibuka oleh Bupati Malang, Kepala Dinas penyelenggara dan Ketua DPRD Kabuaten Malang. Bagi para stakeholders, tersusunnya Babad Malang merupakan langkah baru bagi warga Malang Raya dalam menapaki petilasan sejarahnya. Buku yang disusun oleh Besar Edy Santoso selama sekitar 10 tahun ini terdiri dari kurang lebih 400 halaman. Buku tersebut berisi gambaran-gambaran bagaimana berbagai catatan negara dan prasati menuliskan mengenai Malang. Babad Malang juga mengabadikan susunan dan regenerasi pemimpin Malang mulai abad ke-XI serta folktales yang lahir dalam kehidupan masyarakat Malang selama ini. Besar Edy sendiri merupakan seorang ahli hukum, yang melandaskan segala pemikiran dalam disiplin positifisme ilmu. Oleh karena itu Babad Malang pada kesempatan ini dibedah, diperkaya oleh beberapa disiplin ilmu seperti arkeologi, budaya dan filologi.

Selama empat jam diskusi yang  padat, muncul dua kesimpulan besar yang dapat digaris bawahi dalam bedah Babad Malang kali ini. Yang pertama adalah bahwa Babad Malang belum dapat dikatakan sebagai Babad yang sebenarnya, melainkan gambaran lain mengenai Malang. Babad Malang dapat berfungsi sebagai suatu sumber data sejarah karena tidak memenuhi syarat Babad secara umum. Babad Malang lebih menyerupai Babad Tanah Jawi yang ditulis pada zaman yang berbeda dengan objek pengamatannya. Babad sesungguhnya memiliki beberapa syarat misalnya, ditulis pada susunan lontar, ditulis atau dipesan oleh penguasa yang bersangkutan dengan hasil tulisan secara langsung, dipesan untuk mengabadikan keagungan pemimpin atau raja, ditulis oleh keturunan raja serta belum tentu merupakan fakta sejarah (mengingat sejarah dikendalikan oleh pihak yang menang). Oleh karena alasan-alasan diatas, Babad Malang dalam waktu dekat mungkin belum dapat dengan mudah diperoleh di pusat-pusat buku. Menurut Besar Eddy, buku ini akan mengalami beberapa perubahan, berpatokan pada berbagai pendapat dalam hasil diskusi pada hari itu.

Kesimpulan kedua dalam diskusi tersebut adalah bahwa dengan munculnya Babad Malang, masyarakat Malang memiliki langkah baru dalam memperoleh khasanah kebudayaan dan sejarah. Selama ini para antropolog dan arkeolog harus mengambil sumber-sumber terpisah mengenai Malang. Bahkan data-data tersebut harus dikunjungi (karena sudah bukan merupakan bagian dari kekayaan kita) di Skotlandia, Inggris dan Belanda. Babad Malang memudahkan masyarakat Malang untuk mengetahui sejarah, ambiguitas sejarah, mitos, cerita rakyat dan catatatan-catatatan yang mengaitkan Malang dengan peradaban dunia. Oleh karena itu, bedah babad kali ini menjadi salah satu sarana untuk mengetahui kekayaan baru yang dipersembahkan Besar Eddy bagi masyarakat Malang. Satu kebanggaan tersendiri -terlepas dari ketepatan ilmu positif, bahwa Malang kian lama kian makmur oleh kekayaan intelektual. (*)

1 COMMENT

  1. Having read this I thought it was very informative. I appreciate you spending some time and energy to put this
    informative article together. I once again find myself spending a lot
    of time both reading and posting comments. But so what, it was still worth it!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here