​MALANG – Komunitas literasi Gubuk Tulis merayakan hari lahir yang ke-10 dengan menggelar acara bertajuk “Reset Gubuk Tulis” pada Jumat (6/2/2026) malam. Bertempat di Oase Cafe and Literacy, acara ini menjadi momentum refleksi sekaligus deklarasi lahirnya kembali semangat kolaborasi literasi di Malang.

​Ketua Pelaksana Harlah, Luluk Rohmatul Ulya, menyatakan bahwa usia satu dekade merupakan titik krusial bagi Gubuk Tulis untuk memetakan ulang perannya. Menurutnya, acara ini bukan sekadar seremoni internal, melainkan ruang milik bersama.
​”Sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar, tentu ada pasang surutnya. Kami percaya bahwa hanya dengan literasi dan diskusi, manusia dapat lebih berdaya,” ujar Luluk dalam sambutannya.

​Senada dengan Luluk, Koordinator Gubuk Tulis, Moh. Yajid Fauzi S.H, menjelaskan bahwa tema “Reset” dipilih sebagai simbol regenerasi. “Reset berarti kita perbarui lagi, kita jadikan Gubuk Tulis Reborn. Kami berharap dari kegiatan ini muncul aksi-aksi yang lebih kolaboratif untuk menjadikan Malang yang benar-benar sebagai kota pendidikan. Kita harus mengalahkan fenomena kuliah malam berbasis Jedag Jedug dengan kegiatan literasi yang benar-benar literat” tegasnya.

​Acara ini menghadirkan tokoh akademisi dan budayawan, Dr. Yusri Fajar. Dalam orasi literasinya, Yusri menekankan pentingnya komunitas literasi sebagai penyumbang intelektual di tengah masyarakat. Ia menyoroti bahwa kerja literasi adalah kerja kolektif yang merespons fenomena sosial.

​”Sastrawan dan pegiat literasi tidak hanya membicarakan seni untuk seni, tetapi juga bagaimana seni dan kebudayaan bisa digunakan untuk melakukan perlawanan,” papar Dr. Yusri Fajar di hadapan puluhan peserta.

​Peringatan satu dekade ini turut dihadiri oleh berbagai komunitas lintas disiplin, seperti Komunitas Kalimetro, Pelangi Sastra, Sabtu Membaca, Halaman 8, dan Gusdurian. Selain orasi dari Dr. Muhammad Mahpur dan Bang Abel, suasana semakin meriah dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Agyl (Halaman Delapan), musik dari Mas Mamang, serta pembacaan puisi oleh Yusril Ihza Mastury.

​Sebagai puncak acara, dilakukan prosesi potong tumpeng dan kue oleh pengurus serta para sesepuh seperti Ilmi Najib dan Muiz Liddinillah. Momentum ini menandai dimulainya babak baru perjalanan Gubuk Tulis dalam menjaga nyala literasi di masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here