Pada hari Senin, 18 November 2024 komunitas Gubuk Tulis kembali mengadakan kegiatan Jagongan Film. Film yang akan dibahas bersama kali ini adalah film dokumenter yang berjudul 17 Surat Cinta. Pemantik pada jagongan film tersebut ada 2 yakni Bapak Daniel Sugama Stephanus dan Bang Abdi Purmono. Bapak Daniel merupakan salah satu aktivis lingkungan, anggota Gusdurian Peduli dan Dosen Universitas Machung. Sedangkan Bang Abdi merupakan wartawan senior tempo, anggota Majelis Etik AJI Kota Malang dan CEO dari Batikimono.

Salah satu hal yang menarik penonton pada film dokumenter 17 surat cinta ini terletak pada judul film. Judul film tersebut mengarah pada genre romansa karena terdapat kata “surat cinta”. Ternyata judul tersebut hanya untuk menarik minat penonton saja. Arti dari “surat cinta” disini adalah surat cinta yang ditujukan kepada pemerintah terutama pada kementerian lingkungan hidup dan kehutanan.

Pada film tersebut lebih memotret banyaknya bencana alam yang terjadi akibat dari penggundulan hutan yang dilakukan oleh pemerintah dan beberapa perusahaan swasta untuk pembukaan lahan pertanian kelapa sawit dan pembangunan infrastruktur. Akibat dari penggundulan tersebut banyak wilayah di Indonesia terjadi banjir terutama pada provinsi Aceh. Banjir yang terjadi sampai berhari-hari dan kerap terjadi apalagi jika berada di hilir sungai.

Salah satu yang paling disayangkan adalah suaka margasatwa rawa singkil di Aceh sebagai habitat orang utan terbanyak di dunia harus terancam karena banyaknya pembukaan lahan di kawasan tersebut. Tidak hanya satwa saja yang terancam namun flora disana juga ikut terancam. Selain itu yang paling parah adalah di provinsi Papua hutan sebagai tempat untuk bertahan hidup harus di hancurkan untuk kepentingan segelintir kelompok yang menyebabkan terjadinya demo pada masyarakat Papua karena tidak terima hutan disana dikuasai oleh pemerintah sampai dilakukan pembukaan lahan yang terus menerus dilakukan. Bahkan Indonesia di 10 tahun terakhir ini kehilangan 4,3 juta hektar hutan.

Adanya film dokumenter tersebut menyadarkan kepada kita seluruh masyarakat Indonesia untuk sadar dan tanggap dengan lingkungan hidup di sekitar kita. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Daniel “apa yang bisa kita lakukan untuk alam Indonesia itu sangat penting walaupun latar belakang studi kita berbeda” dari sini dapat dikatakan bahwa tugas untuk menjaga lingkungan hidup bukan hanya tugas mahasiswa biologi atau mahasiswa di rumpun MIPA saja namun seluruh lapisan masyarakat turut serta menjaga lingkungan Indonesia agar tetap asri dan terjaga habitatnya.

 

Penulis: Ardya Udyana Gayatri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here