: yang tak nampak – berdampak . .
/1
Sarayu shubuh membawa langkah, dengan pacul dipanggul tapak tak beralas, topi kerucut, juga perut lapar turut ikut- melafalkan dingin yang tak berjabat tangan.
ia tidurkan benih asa pada tanah basah, dengan sebongkah harap
surya menyemainya dalam damai-lalu tumbuh-lalu kuning-lalu menjadi tenaga

/2
Pada tanah-tanah tak terarah, kering keronta, yang siang sudah memancang tiang ia cumbukan ujung cangkul pada sawah-menuntun tirta menuju benih asa menumbuh kembangkan bersama kumbang.
Keceriaan di wajah mereka adalah tentram alam, yang panen melimpah mendefinisi senyum sumringah

/3
Di sudut kota, orang-orang berlalu lalang, membangunkan jalanan- menghidupkan bayang, dari siang hingga petang
seakan hidup hanya tentang datang dan pulang bahkan melupa sembahyang – (dasar memang) “bukankah semua langkah butuh asupan tenaga!”

/4
“Bukankah Indonesia lumbung pangan dunia!” (ucap pemerintah di headline berita).
. .
pada detik yang terus berdetak
ada dampak yang tak nampak
seorang petani di piggiran kota, di sepetak sawah, ada pacul yang terpanggul;
: menjembatani tenaga – menumbuh asa.

Malang, Juli 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here