Sore cerah mengawali aktivitas literasi yang menggembirakan di Oase Cafe dan Literacy. Datang berkerumun orang, dari lintas gender, seks dan orientasinya. Guna belajar bersama memahami gender dan seksualitas dalam bingkai Hak Asasi Manusia (HAM).

Oase senantiasa menjadi wadah setiap obrolan bergizi ala kawan-kawan. Senin sore 7 Agustus 2017,  kawan Gubuk Justice/ Gubuk Tulis dan Kursus Gender dan Seksualitas mengadakan jagongan yang bertema, “Gender, Seksualitas dan HAM”. Jagongan dengan tema itu dirasa perlu untuk memberikan pemahaman dan wawasan sehingga bisa menjadi laku yang adil.

Jagongan dimulai oleh Isti Hasan, selaku moderator. Isti meminta prolog dari dua narasumber, Bu Ulfa Muhayani dari Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Hayyik Ali Munthaha dari Intrans Institute. Peserta yang hadir berhamburan memenuhi lantai satu Oase.

Bu Ulfa memberikan pengantar bahwa kaum yang berbeda orientasi seksual itu dianggap norma oleh masyarakat, kalau laki-laki ya suka perempuan, kalau perempuan punya vagina. Yang keluar dari pakem norma masyarakat itu, dianggap tidak normal. Kita sering didoktrin kisah nabi Luth, bahwa homoseksual itu abnormal. Semua agama menentang, seperti dulu agama juga menentang adanya kesetaraan gender.

Negara maju pun tidak semudah itu membolehkan homoseksual hidup dan menikmati hak-haknya. Dalam suatu film, ada salah satu aktor, ia menjadi pengacara yang luar biasa dan brilian, ternyat dia homo, dan dia terkena AIDS. Akhirnya dia dipecat dari pekerjaanya. Dia berusaha mencari sebab dia dipecat, dia dipecat karena homoseksual.

Ada satu riset, hal yang mencengangkan bahkan mengagetan dari NUI Institut lembaga riset di Amerika. NUI menyatakan, ternyata 57 % orang muslim menyatakan homoseksual itu bisa dan diterima. Berbeda dengan Protestan Evandelick, yang menyatakan 37 % homoseksual itu bisa diterima. Di Australia- Sydne bagian New South Wales menyatakan homoseksual tidak boleh kecuali di Kebra. Setelah ditelisik, ternyata Kebra dihuni oleh masyarakat menengah ke atas, para pejabat, dan itu sangat agamis. Penolakan terhadap LGBT tidak hanya dilakukan di Indonesia, tapi dilakukan di negara belahan dunia lainnya. Tambah bu Ulfa.

Berbeda dengan Hayyik, ia memberikan pengantar yang disinggungkan dengan kapitalisme dan agraria. Keterkaitan perempuan di bawah rezim kapitalisme. Permpuan hari ini seperti apa, idealnya dibawa ke mana? Apakah harus mengikuti tren populer, atau ada orientasi gerakan yang lain, seperti menuntut gerakan patriaki. Laki dan perempuan secara biologi memang berbeda, tapi dasarnya mereka sama, sama sama manusia. Kalau kita membaca Kematian Gender; Cinta Seksualitas dan Patriaki, hubungan laki-laki dan perempuan bukan hubungan yang saling menegasikan, akan tetapi adalah hubungan yang harmonis. Sehingga laki dan perempuan harus memperjuangkan hak nya atas pengelolaan sumber daya alam atas penjajahan, karena neokapital-liberal telah merenggut kemandirian perempuan dalam mengelola lahannya atau pekarangan rumah nya.

dari kanan, Ulfa, Hayyik dan Isti

Dalam sesi diskusi ada yang menanyakan terkait asumsi masyarakat terkait kelompok homoseksual-  LGBT. Bu Ulfa memberikan paparan menawan, bahwa apapun orientasi seksual nya mereka adalah manusia, mereka harus kita hormati haknya, begitu pula sebaliknya, mereka juga harus menghormati hak kaum hetero. Sehingga, intinya saling menghormati dan tidak ada diskriminasi antara gender atau orientasi seks apapun. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here