Pemuda generasi Z di era digital mempunyai pengaruh penting dalam kehidupan bernegara. Mereka yang diberi julukan generasi native digital yang merupakan pemuda yang lahir pada masa lajunya dunia digital yang aktif beradaptasi dengan teknologi dan dunia maya sehingga memudahkan bagi pemuda untuk berkomunikasi dengan siapapun dan melakukan apapun lewat beragam fitur internet.
Kehidupan pemuda generasi Z 80 persen berada di dunia dalam genggaman sehingga tiada hari tanpa sosial media. Mulai dari segala aktivitas, bermain, interaksi, pekerjaan dan lain sebagainya berada dalam genggaman. Sehingga mereka berlomba – lomba berperan mencari eksistensi dan pencitraan di sosial media yang sukanya hanya bereforia, menghabiskan uang hanya untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu pemuda harus memahami perannya sebagai generasi penerus bangsa yakni dengan cara berproses di dunia akademik karena pendidikan merupakan penentu majunya negara serta idealnya negara adalah dilihat dari kualitas pendidikannya.
Pemuda sekarang lebih senang menggeluti dunia kerja daripada melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi karena mayoritas pandangan masyarakat mengatakan bahwa buat apa melanjutkan pendidikan yang tinggi tetapi ujungnya sama saja akan bekerja setelah lulus jenjang pendidikan pemuda tidak disediakan lapangan pekerjaan untuk berkarir. Pandangan tersebut harus dihilangkan karena hakikat menempuh ilmu bagi setiap warga negara hukumnya wajib tidak hanya menjadi bekal terjun di dunia kerja akan tetapi bekal di segala sektor. Fungsi pendidikan bagi pemuda adalah sebagai bekal untuk bermaqoshidus syari’ah yakni (1) Hifdz Aql adalah kebebasan menyampaikan pikiran atau pendapat, (2) Hifdz Addin adalah kebebasan memeluk agama, (3) Hifdz Nafs artinya menjaga jiwa setiap warga negara, (4) Hifdz Mal artinya menjaga harta atau hak milik warga negara, (5) Hifdz irdi wan Nasl adalah menjaga martabat dan generasi penerus bangsa.
Dalam menjalani kehidupan di dunia wajib menjaga 5 tujuan agama tersebut. Maraknya paham radikalisme di kalangan pelajar dan pemuda sekarang faktor penyebabnya karena mereka sibuk beraktivitas di dunia digital dan materialis sehingga lalai tentang 5 tujuan agama sebagai jalan menuju kehidupan akhir yakni menggapai surganya Allah SWT. Jika seorang muslim selama 40 hari tidak melakukan kewajiban beribadah, maka seorang muslim akan lupa bacaan salat dan jauh dari agama, sehingga pemuda mudah terpengaruh paham radikalisme yang bersebrangan dengan aliran atau ideologi yang membahayakan dirinya. Akibatnya negara tidak terkontrol karena penerusnya ideologinya tidak kokoh serta paham yang dianutnya akan memberikan dampak buruk bagi generasi penerusnya.
Pemuda memiliki peranan sebagai agen deradikalisasi yang berupaya memperkokoh ideologi dan mencegah radikalisasi yakni dimulai dari ruang lingkup keluarga. Mencari solusi generasi Z yang malas belajar ilmu pengetahuan agama di era digital untuk mencegah masuknya faham radikalisme pasti sulit karena generasi Z tidak bisa lepas dengan kesenangan di dunia digital dan suka bermain gadjet. Pada usia remaja pemuda mulai mengalami jatuh cinta karena mulai menikmati mewahnya dunia sehingga mudah terjerumus pergaulan bebas. Solusinya yang pertama yakni orang tua dan guru harus cerdik dalam mendidik dan menguasai teknologi.
Mulai dini anak harus diajari pengetahuan agama dahulu sebelum mempelajari pengetahuan umum dan teknologi dengan cara mendidik mereka ke pondok pesantren bagi orang tua yang berkarir karena waktu untuk anaknya sangat terbatas. Ilmu pengetahuan agama sangat penting karena merupakan kunci kemajuan peradaban dunia. Oleh karena itu, Anak pada saat usia dini perlu dibekali ilmu pengetahuan agama agar anak memiliki akhlakul karimah melalui perhatian dan kasih sayang secara intens yang berpengaruh pada perkembangan psikis dan karakter anak.
Perlunya pengawasan penuh dari keluarga terutama pengawasan orang tua terhadap sosial media anaknya, bermain dan bergaul dengan temannya, karena anak tumbuh 75 persen karena faktor lingkungan dan 25 persen karena faktor keluarga. Jika belum bijak mengoperasikan sosial media maka akan membawa dampak negatif yang membahayakan diri dan terpengaruh materi yang menyimpang dari paham yang dianutnya melalui internet sehingga pemikiran mereka 100 persen terkontaminasi paham radikalisme.
Solusi yang kedua adalah sangat penting pemuda bangsa untuk belajar dan berproses di dunia organisasi yang satu aliran untuk menghindari masuknya paham radikalisme dalam diri. Karena organisasi memberikan ajaran positif dan bermanfaat yakni diajarkan cara menjalani kehidupan yakni mempelajari hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam. Tiga perkara tersebut bernilai ibadah dan merupakan misi kehidupan manusia yang harus diimplementasikan sebagai khalifah di muka bumi sehigga pemuda tidak disibukkan oleh kesenangan dunia maya sehingga pemuda tidak disibukkan oleh kesenangan dunia maya sehingga terhindar dari pergaulan bebas yang membawa dampak negatif bagi dirinya.
Penulis
PUTRI ZAHROTUL ILMIYAH
(Mahasiswi Magister Manajemen Pendidikan Islam
Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto)






