Curhatan Penulis Dunia tentang Sastra dan Hal-hal Lainnya

0
430

Tanggal 13 Mei 2022, hampir 100 penulis dari 30-an negara berbeda berkumpul di ruangan Trusteeship Council Chamber di Gedung PBB, untuk mengikuti kongres penulis Emergency World Voices. Kongres ini diselenggarakan oleh PEN Amerika, disela festivalnya. PEN adalah organisasi yang fokus memperjuangkan kemerdekaan menulis dan menyampaikan pendapat. Jika ada penulis yang mendapatkan ancaman, yang tidak bisa menulis dengan tenang, mereka salah satu organisasi yang siap memberi bantuan.

Sebagai orang yang masih sangat muda dalam dunia kepenulisan, yang sendirian dari Indonesia, dikelilingi puluhan penulis dan interior ruang-PBB yang terkenal, saya sangat antusias– saya yakin akan punya banyak ilmu saat keluar dari ruangan itu.

Acara dibuka dengan penyampaian esai pendek dari beberapa penulis yang terkenal – Aminata Forna dari Skotlandia, Alexander Hemon yang ikut tulis film The Matrix, Andrey Kurkov dari Ukraina, Esmeralda Santiago dari Puerto Rico, Salman Rushdie… Masing-masing memberi paparan singkat terkait soalan yang sedang terjadi di dunia. Perang di Ukraina, pembunuhan Shireen Abu Akleh-sang jurnalis, global warming, dan sebagainya. Esmeralda Santiago memberi cetak tebal saat bicara tentang bagaimana Amerika Serikat menjadi negara yang, dalam tanda kutip, menjajah dan mengecilkan bangsa lain di sekelilingnya: Amerika Latin, Mexico, dan lain-lain.

Saat hadirin dipersilakan bicara, banyak orang ingin bicara. Beberapa bahkan membuang waktu dengan mengocehkan hal yang tidak begitu penting– katanya mau nanya tapi malah curhat panjang lebar. Saya lega bahwa hal kayak begitu bisa juga terjadi di Gedung PBB, bukan hanya di forum saya di kampung.

Ada topik yang bagus saat beberapa penulis perempuan menekankan pentingnya tulisan untuk pendidikan anak dan kaum muda. Elif Batuman, jurnalis dan finalis Pulitzer 2018, bahkan menceritakan masa lalu Donald Trump dan Vladimir Putin sebelum memberi simpulan: mereka punya masa kecil yang buruk dan traumatis. Mereka menjadi pemimpin dan lihat kehancuran yang mereka sebabkan. Jika kita bisa menciptakan masa kecil yang baik untuk anak, dunia akan menjadi lebih baik.

Penulis dari generasi yang lebih muda menekankan pentingnya perhatian kepada budaya pop. Film perang, mainan pistol dan senjata, apakah tidak berpengaruh? Lirik lagu pop, film serial dan sinetron, penggunaan media sosial, apakah tidak perlu dibicarakan saat kita membicarakan kesusasteraan?

Di sini, Shehan Karunatilaka, seorang penulis Srilanka menceritakan prahara yang sedang terjadi di negaranya. Srilanka bangkrut dan demonstrasi terjadi di mana-mana. Katanya: “Kita jangan sok deh sama sastra. Bukan novel penuh riset yang mengobarkan perlawanan. Tapi hastag #GoHomeGota di media sosial yang membakar semangat orang-orang untuk turun ke jalan, menuntut Gotabaya Rajapaksa, presiden Srilanka, untuk mundur. Bukan tidak mungkin, goyangan tiktok akan meruntuhkan tirani, suatu hari nanti,”

Saat kongres hampir selesai, seorang penulis paruh baya mencolek lengan saya dari belakang dan menyodorkan telepon genggamnya.

“Fotoin dong,” katanya. Setelah saya potret, ia nyerocos lagi: “Saya daritadi berusaha untuk cool, gak foto-foto. Tapi pembahasannya garing amat, klise dah semua yang mereka bahas. Toh negara mereka juga yang jualan senjata. Daripada waktu saya terbuang, mending saya foto, kasih tunjuk ke mama kalau saya habis ikut kongres penulis internasional di Gedung PBB.”

Saya tertawa. Sedikit banyak ia benar. Tapi saya sudah berjanji untuk tidak menjadi sinis dan demotivasi saat menulis laporan tentang pertemuan ini– terlebih saat saya memilih orang muda dan orang awam sebagai pembaca saya. Saya ingat kata-kata Salman Rushdie di awal kongres itu. Klise, tapi biar saya kutip, siapa tahu berguna bagi kawan-kawan saya penulis pemula.

“Puisi tidak bisa menghentikan peluru. Novel tidak bisa menghentikan bom. Tetapi melalui sastra, kita tetap bisa terus menyuarakan kebenaran.”

Penulis: Felix K. Nesi: Sastrawan muda dan penulis Orang-orang Oetimu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here