Banyak orang “lari” pada agama saat wabah corona merajalela. Agama menjadi sandaran jawaban atas ketakutan yang diakibatkan corona. Sayangnya terkadang jawaban (“oknum”) agamawan justru berkebalikan dengan nasihat para ahli kesehatan. Dengan dalih “takdir”, orang akan terus menjalankan ritual bersamanya, sebab “kematian di tangan Tuhan.”
Kadang-kadang ungkapan “sabar” sekadar menjadi tameng untuk berbuat semena-semena terhadap kekuasaan Sunnah Allah (baca hukum alam: kalau terkena penyakit berat akan sakit, dan kalau sakit tidak diobati akan menyebabkan kematian).
Beberapa pertanyaan muncul yang jawabannya terkait dengan agama (Islam). Misalnya: Beribadah secara berjemaah dalam Islam, katakanlah shalat tentu sangat dianjurkan. Namun, bagaimana kalau beribadah secara berjemaah itu malah mendatangkan kemungkinan besar orang-orang di antara jemaah tersebut, atau malah di luarnya, tertular covid-19?
Sama halnya pengajian itu penting, sebagai bentuk syiar Islam dan tentu saja menguntungkan umat Islam itu sendiri, tetapi bagaimana kalau justru pengajian itu malah membuat orang lain tertular virus?
Pertanyaan lain, mungkin tidak terlalu terkait dengan soal ibadah, tetapi terkadang menjawab dengan dalih “ajaran atau hukum agama.” Contohnya: Apa untungnya menyetok masker di saat pandemi Covid-19 ini? Saat semua orang memerlukan, tentu artinya banyak permintaan, dan di saat permintaan banyak, sementara barang sedikit, penjual bisa menjual dengan harga tinggi. Itulah hukum ekonomi. Mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tentu tak ada larangan dalam Islam, tetapi bagaimana kalau keuntungan itu justru malah mengakibatkan kerugian besar bagi orang lain?
Atau pertanyaan lainnya: Bagi seorang bos suatu perusahaan, atau pimpinan tinggi di suatu instansi, akan senang, dan tentu mendatangkan “keuntungan” jika semua pegawai mereka bekerja setiap hari dengan target-target yang telah ditetapkan. Namun, bagaimana jika di tengah mewabahnya virus corona, pegawai-pegawai tetap berkantor atau bekerja, sementara di sepanjang perjalanan mereka sangat beresiko tertular, dan kalau tertular sangat besar kemungkinan pegawai-pegawai lain di kantornya juga akan tertular? Ada yang menjawab: “mati dan hidup di tangan Tuhan, percayalah pada Tuhan.”
Argumen Etis Islam Moderat
Wacana keagamaan seputar pencegahan pandemi corona di Indonesia menjadi ulasan yang menarik. Seorang antropolog asal Amerika yang mungkin kita sudah sama-sama mengenal, Mark R. Wooward, dalam akun Facebooknya membuat status tentang agama dan jawaban atas wabah. Menurutnya selalu ada jawaban agamis terhadap wabah. Ada jawaban-jawaban agamis itu, yang menurutnya, tak masuk akal, dan ada yang masuk akal.
Di antara yang tak masuk akal adalah, anjuran untuk tetap melakukan ritual keagamaan secara bersama-sama yang dilakukan beberapa kelompok umat Kristen dan Islam. Sementara yang menurutnya masuk akal adalah anjuran beberapa organisasi massa Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan NU, untuk beribadah di rumah tinggal masing-masing dengan tetap memperhatikan prinsip keselamatan dan kesehatan.
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh dua ormas keagamaan besar di Indonesia ini adalah, meminjam bahasa Hashim Kamali (2015), salah satu contoh manifestasi Islam moderat (wasatiyyah). Dalam bukunya yang berjudul The Middle Path of Moderation Islam: the Qur’anic Principle of Wasatiyyah, dia merinci beberapa manifestasi atau ciri Islam moderat, yang salah satu di antaranya adalah pandangan Islam moderat selalu berimbang antara manfaat yang akan didapatkan dan bahaya yang tidak terhindarkan. Di sinilah relevansi kaidah usul fikih yang sudah jamak diketahui, yakni “mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada meraih keuntungan.”
Sayangnya, tidak semua orang mau mengikuti kaidah ini. Dalihnya adalah lagi-lagi soal iman yang akan menyelamatkan. Bukankah percaya pada sunnah Allah berupa penyakit adalah juga iman? Jadi iman seharusnya menyelamatkan, bukan malah membahayakan orang lain.
Sebetulnya dengan mempertimbangkan dalih-dalih rasionalitas kemanusiaan dan hukum alam, secara tidak langsung kita juga membela iman kita. Iman juga perlu etika, agar iman dapat benar-benar menyelamatkan manusia.





