Revolusi industri 4.0 telah menghadirkan sebuah persoalan ketidakadilan gender baru, sebuah ketaktersalingan antar laki-laki dan perempuan. Sebagaimana yang dilansir oleh Komnas Perempuan pada Maret 2019, di mana terdapat beberapa temuan diantaranya adalah meningkatnya kasus KDRT, perkosaan dalam/ luar perkawinan, kekerasan di ranah privat, hingga penyebaran konten yang merugikan korban. Latar belakang itulah yang mengajak kita semua untuk memahami sebuah konsep keadilan gender untuk laki-laki dan perempuan.

Keadilan gender mengenalkan pada sebuah gagasan kesetaran, keadilan dan pembebasan terhadap hak-hak hidup perempuan, pada khususnya. Hak-hak yang seimbang dalam menjalin kehidupan bersosial. Sehingga, diskriminasi, stereotip dan marjinalisasi terhadap perempuan tidak lagi menjadi momok di negeri ini.

Parahnya, negeri ini tidak tegas dalam pembelaannya melindungi perempuan. Terbukti, dengan belum disahkannya RUU Penghapusan Kekersan Seksual. Padahal tujuan penghapusan kekerasan seksual adalah untuk mencegah segala bentuk kekerasan seksual; menangani, melindungi, dan memulihkan korban; menindak pelaku; dan menjamin terlaksananya kewajiban negara dan peran dan tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan korporasi dalam mewujudkan lingkungan bebas kekerasan seksual.

Selain dari prespektif hukum yang ada, perlunya masyarakat mengetahui pentingnya konsep keadilan gender, baik laki-laki atau perempuan. Keadilan gender yang kemudian diformulasikan kembali oleh Dr. Faqihuddin Abdul Kodir dalam gagasan Mubaadalah. Seperti apa gagasan Mubaadalah yang ditawarkan?

Gagasan mubaadalah adalah sebuah alternatif baru memahami keadilan gender dari sebuah interpretasi Al Qur’an dan Hadist. Mubaadalah adalah sebuah mekanisme kesalingan yang digunakan dalam relasi laki-laki dan perempuan. Akar dari mubadalah adalah meningkatkan kemashlahatan dan mencegah kemudharatan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama. Mubaadalah bukan hanya sebuah konsep, mubaadalah juga merupakan sebuah gagasan yang hadir untuk menyikapi realitas.

Strategi mubadalah ketika melihat relasi laki-laki dan perempuan diajak bersama-sama untuk kebaikan dan meninggalkan keburukan. Jadi, mubadalah yang dijadikan pandangan umum, apa yang baik untuk salah satu jenis kelamin, maka harus dihadirkan untuk keduanya, kalau yang satu butuh istirahat, maka yang satu juga harus istirahat. Dan apa yang buruk harus dihindarkan dari kedua belah pihak- misal, poligami tidak baik bagi perempuan, maka tidak baik pula bagi laki-laki.

Selain itu, prinsip mubaadalah adalah amal. Mengapa ada hadist yang mengatakan perempuan masuk neraka, laki-laki masuk surga. Maka, mubaadalah memaknai yang implisit. Sehingga muncullah kesadaran bahwa neraka dan surga adalah soal amal. Laki-laki dan perempuan masuk surga tergantung amalnya.

Hal itulah yang nantinya akan dibongkar oleh para narasumber Seminar Nasional dengan tema “Mubaadalah dan Teologi Pembebasan Menuju Indonesia Bahagia” yang diselenggarakan oleh komunitas Gubuk Tulis, Pusat Studi Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat UB serta Lab Sosio jurusan Sosiologi UB. Seminar akan dihadiri langsung oleh empunya Mubaadalah, Faqihuddin Abdul Kodir. Selain itu juga akan dipanel bersama Prof. Dr. Mufidah, Ch dan Siti Kholifah, S.Sos., Ph.D.

Kedua pembanding yang akan membincang persoalan yang sama dengan prespektif lain. Di mana Mufidah akan menjelaskan perihal teologi pembebasan dan keterkaitannya dengan keadilan gender. Sedangkan Siti Kholifah akan menjelaskan diskursus keadilan gender hingga feminisme itu sendiri.

Seminar akan berjalan dengan berbagai diskursus berlatar pengalaman pendidikan para narasumber yang ada. Seminar akan dipandu oleh Yusli Effendi, S.IP., M.A. Seminar akan berlangsung pada hari Sabtu, 2 November 2019, di Aula Nuswantara, Gedung FISIP lantai 7. Seminar akan dimulai dari jam 07.30 WIB. (Muiz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here