Tentangmu,…
Bukan aku mendengar warta dari berita,
Bukan pula angin yang membisikkannya.
Tapi adalah drama yang nampak di kelopak mata.
Kau adalah permata yang dijadikan tumbal bagi mereka yang memuja harta dan kesenangan.
Kau diterbangkan sebagai layang layang, namun tidak dikendalikan.
Entah apa yang ada di kepala mereka.
Anak yang seharusnya disusukan, dengan mudahnya ia lepaskan
Domba yang seharusnya digembalakan,…
Begitu saja ia lemparkan ke kubangan, dan mencetak hidupnya tanpa masa depan.
Bara yang seharusnya membakar cita cita diri, diubah menjadi tungku yang tak berapi
Tapak jejak kaki yang kau lalui,
Membuatmu tumbuh tegar dan bangkit dengan caramu sendiri.
Meski terkadang bibirmu berusaha kau sunggingkan, senyummu tetaplah semu.
Sebab kulihat, kilatan kilatan api senantiasa berkobar di dadamu,
Entah kapan dan siapa yang mampu memadamkannya.
Kekecewaan demi kekecewaan, kau luapkan dalam amarah bernafsi…
Sehingga tak jarang kamilah yang kau jadikan sebagai ajang kompensasi.
Tapi yang demikian, kami sangat memahami..
Kebencian, keputusasaan, seringkali terekspresi dalam laku yang tidak bernorma dan lagi lagi..
Kamilah yang selalu kena.
Namun,
Beban ini tak pernah kami jadikan keluh kesah, karena ikhlas, bagi kami sangatlah batiniah
Penulis
DRA. SUKITRI
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Negeri 2 Cluring, Kab. Banyuwangi









