(Keterangan foto : Miftahussururi menjadi pembicara dalam webinar bertajuk “Revitalisasi Pendidikan : Meningkatkan Kompetensi Literasi Kepenulisan di Abad 21 Melalui program PPG”)
Guru merupakan profesi yang membutuhkan panggilan hati dalam melaksanakannya, tidak hanya itu, banyak kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh calon guru untuk menjadi guru profesional. Manager Data dan Komunikasi Artikel 33 Indonesia pada Direktorat Jendaral Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek, Miftahussururi mengatakan untuk mencetak guru-guru Indonesia yang professional pemerintah berkomitmen mencetak guru melalui program PPG Prajabatan bagi calon guru yang memiliki panggilan hati, komitmen menjadi teladan, cinta profesi dan pembelajar sepanjang hayat. Hal tersebut dia sampaikan saat menjadi pembicara pada webinar bertajuk “Revitalisasi Pendidikan : Meningkatkan Kompetensi Literasi Kepenulisan di Abad 21 Melalui program PPG” yang digelar secara daring dari zoom meeting dari gedung pascasarjana Universitas Negeri Malang, Sabtu (15/7/2023).
“untuk menciptakan keseimbangan kebutuhan dan pemenuhan guru secara kuantitas dan kualitas sehingga layanan pendidikan berjalan dengan baik demi terwujudnya profil belajar pancasila merupakan visi dari program PPG Prajabatan” ujar Miftahussururi. Pada kesempatan itu, Ia pun menjabarkan kriteria generasi baru guru indonesia. “kriteria tersebut adalah guru yang mengamalkan nilai-nilai pancasila, berkomitmen menjadi teladan, berkompeten, dan pembelajar sepanjang hayat” jelas Ruri di hadapan 45 peserta seminar.
Adanya program PPG Prajabatan, diyakini bahwa 4 kriteria tersebut dapat diwujudkan dan mencetak guru Indonesia yang dapat mewujudkan Merdeka Belajar. “untuk menciptakan SDM yang baik secara kualitas dan kuantitas, PPG Prajabatan merupakan langkah yang strategis untuk mencetak calon guru yang bisa menyesuaikan dengan zaman yang terus berubah” jelas Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek tersebut. Mantan analis data dan kebijakan kemendikbudristek itu juga menekankan peran penting menjadi guru yang produktif. Menurutnya, menjadi guru tidak hanya soal mengajar, namun juga menjadi teladan serta produktif dalam berkarya. Ruri mengatakan, banyak sekali guru-guru inspiratif yang sangat aktif dalam membuat karya, terkait dengan konten pendidikan maupun konten lainnya yang bisa menginspirasi. “guru memiliki potensi hal yang cukup luas untuk berkreasi,” imbuh Ruri.
Saat sesi tanya jawab, ada salah satu peserta bernama Fitri Melani menanyakan ”Bagaimana agar guru kedepan bisa terus kompatibel sesuai kebutuhan zaman dan tergantung pembuat kebijakan saat itu?” Fitri merasa saat pembuat kebijakan ganti maka aka nada kebijakan-kebijakan baru yang ikut berubah, akhirnya guru juga terus di tuntut untuk berubah.
Ruri menjabarkan jawaban atas pertanyaan tersebut, kata kunci untuk masuk ke zaman yang terus berubah itu yang diperlukan adalah menjadi pembelajar sepanjang hayat. Adaptasi perubahan itu adalah menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan saat ini pemerintah sedang upayakan itu dengan mencetak calon pendidik memiliki jiwa pembelajar sepanjang hayat. Perihal ganti kepemimpinanyang ada itulah yang tidak bisa control. Ia juga menganalogikan lingkup yang paling kecil, yaitu di sekolah. Jika di sekolah berganti kepala sekolah dan kita tidak suka dengan kepala sekolah baru, apakah kita akan menjadi malas mengajar dan tidak produktif lagi? Tentu tidak, karena itu bukan ruang control kita. Kita bisa terus belajar dan melayani murid-murid, karena itu yang bisa kontrol. Kita bisa mengkontrol apa-apa yang bisa kita maksimalkan dari apa yang kita miliki.
Penulis: Badriyanto (Mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2 Kelas Matematika)









