Kabar buruk penolakan pendirian Gereja di Desa Gadingan Kabupaten Sukoharjo. Peritsiwa Oktober lalu mengiris nurani keberagaman di Indonesia. Tentu itu bukan lah satu-satunya peristiwa yang memilukan di negeri majemuk ini.

Akhir dekade ini juga banyak penolakan pendirian tempat ibadah agama lain di berbagai daerah. Bahkan, yang pernah terjadi di Lamongan juga sangat unik, perseteruan pendirian masjid berhaluan NU oleh kalangan Muhammadiyah. Dari sana lah terjadi beraneka ragam ketidakadilan dan kurangnya kerukunan antar umat beragama hingga kebebasan beragama itu sendiri.

Meskipun demikian, sebagaimana yang dilansir dari tirto id berdasarkan laporan Kemenag RI bahwa indeks kerukunan antar umat beragama tahun 2019 mengalamai peningkatan secara drastis pada indeks kerukunan antar umat beragama (KUB). Beberapa faktor penentu indeks KUB ialah korelasi hubungan antar pendidikan, pendapatan, dan peran kemenag terhadap sikap rukun di Indonesia.

Kontradiksi fakta dan data atas indeks toleransi, kerukunan, atau kebebasan beragama yang ada di negeri ini menjadi bahan yang patut diperbincangkan ulang. Toleransi sebagai landasan berfikir dan bergerak umat beragama di Indonesia patut ditelusuri. Harapannya ke depan bisa menjadi bahan penguatan sikap toleransi beragama yang bersumber dari ketulusan.

Historiografi perkembangan agama-agama di nusantara menjadi pengetahuan dasar menumbuhkan sikap toleransi ini. Sejarah panjang agama-agama dari peradaban manusia jutaan tahun sejak homo sapiens hingga homo digitalis perlu untuk dikaji. Berangkat dari sejarah itu lah diharapkan akan bertumbuh sikap toleransi manusia di era digital ini.

Berbicara tentang jejak keberagaman dan toleransi di nusantara mengingatkan penulis pada paparan Al Makin pada Simposium Internasional di Ambon, 2017. Ia mempresentasikan Agama, Politik dan Identitas.

“Berangkat dari Mesopotamian era, dilanjutkan dengan filsafat Yunani dan Tradisi India agama-agama mulai muncul dan berkembang dari keduanya. Dari Yunani- Yudaisme, Zoroaster, Nasrani, Islam; Dari India- Hindu, Budha, Konfusius; Di antara keduanya terdapat peradaban China, Persia, dan Roma.

“Bermula dari sejarah panjang agama-agama itulah pada 300 M lahir keberagaman tradisi, budaya, atau agama lokal, 500 M lahir budhisme dan hinduisme di Nusantara. Berikutnya 1300 M lahir lah Islam dan Kristen di Nusantara. Jejak agama itulah yang membawa identitas bangsa kita yang plural atau majemuk dengan jargon Bhinneka Tunggal Ika,”tambah Al Makin.

Akan tetapi harmoni keberagaman di Nusantara ini tengah dirusak oleh oknum-oknum. Sehingga, akhir ini marak konservatisme, radikalisme, terorisme, politik identitas, kekerasan, diskriminasi, dan lainnya. Oleh karena itu, di era digital ini perlu dan penting untuk kembali menginterpretasikan pluralisme, mengapresiasi kearifan lokal dan mengkreasikan kebudayaan, serta yang tidak kalah penting lagi adalah mendefinisikan agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here