Budaya melahirkan gagasan melalui diskusi dan kolaborasi, tetap menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan untuk berbagi gagasan dan pemikiran atas kondisi saat ini.
Hal ini yang juga dilakukan oleh Jaringan Gerakan GUSDURian Malang pada Rabu (24/08/2021), dengan merangkul dan berkolaborasi dengan beberapa komunitas dan lembaga yang bergerak di bidang gerakan kemanusian salah satunya bersama Duta Damai Jawa Timur. Serta komunitas lainnya, Ngalam Peace Leader, Dulur Never End, Kampus Desa Indonesia, dan masih banyak organisasi lainnya yang ikut andil memeriahkan acara yang diselenggarakan dari pukul 19.00 hingga 21.30 ini.
Dimulai dengan sambutan oleh tokoh lintas agama yang aktif melakukan gerakan-gerakan kemanusiaan saat ini. Yakni Romo Gani, Prof Mufidah di mana beliau merupakan founder dari Perempuan Antar Umat Beragam (PAUB) Malang, dan Juga Romo Kristanto Budiprabowo selaku presidium GUSDURian Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Romo Gani menyampaikan agar kegiatan seperti kongkow kali ini harus terus berlanjut dengan membahas berbagai isu-isu yang sedang marak diperbincangkan sebagai bentuk positif menyikapinya melalui gagasan. Disamping itu, Prof Mufidah menambahkan bahwa, dalam era saat ini 9 nilai Gus Dur harus menjadi rujukan bersama terlebih pada konteks kekinian hingga masa-masa yang akan datang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan juga diskusi, yang dipandu langsung oleh Nasir Pegiat GUSDURian Malang, selaku moderator. Kongkow dengan tema “Pahlawan Milenial dan Kemerdekaan Era Pandemi” kali ini menghadirkan Inayah Wahid (Putri Gus Dur), Mrs. Charlotte (Aktivis yang sekaligus Penasehat Garuda Malang), dan Dr. Mohamad Mahpur, M.Si. (Dosen Psikilogi dan Penasehat Garuda Malang).
Dr. Mohamad Mahpur, memaknai pahlawan dalam bentuk spirit identik dengan salah satu dari 9 nilai Gus Dur, yakni nilai ke-8 Kekesatriaan. “Kekesatriaan, oleh generasi milenial dimaknai berbeda. Karena orientasinya lebih kepada yang lebih cepat dipahami dan prosesnya untuk jadi juga lebih cepat”, salah satunya dengan membuat konten narasi di media.” paparnya.
Ada tiga hal yang Mahpur sampaikan untuk digarisbawahi oleh generasi muda saat ini adalah, memiliki daya juang, berjuang dengan perang gagasan, membela bangsa melalui kreativitas, dan membangun jejak penghargaan dengan mereproduksi pemikiran dan nilai-niai baik dari para tokoh salah satunya yang dilakukan jaringan GUSDURian, dengan terus mereproduksi dan melestarikan 9 nilai Gus Dur.
Diakhir, Dosen Psikologi UIN Malang ini menyampaikan bahwa “Kita yg ada di sini mendapat tugas terus menjembatani untuk mereproduksi nilai dari para pahlawan atau generasi orang tua yang ada di dekat kita. Bagaimana membangun mata rantai untuk mereproduksi nilai-nilai itu.”
Pembahasan semakin seru dengan dilanjutkan oleh Mrs. Charlotte, menurutnya makna Pahlawan di masa pandemi saat ini adalah mereka yang sadar mematuhi prokes dan berjaga jarak demi kebaikan bersama. Tentu bukan hal yang mudah bagi pegiat GUSDURian dan komunitas lainnya yang sebelumnya aktif dalam kegiatan offline yang bisa berkumpul dalam jumlah banyak.
Mrs. Charlotte juga memaparkan kaitan makna pahlawan dengan salah satu nilai Gus Dur, yakni nilai ke-5 Kebebasan ” Bagaimana bisa kembali outentik, bisa bebas dari hal yang dulu belum baik. Saat ini adalah kesempatan yang bisa dilakukan untuk membuat kebijakan yang memperbaiki hal yang belum baik. Agar baik untuk semuanya.”
“Milenial saat ini berfikir untuk membuat sesuatu yang baru dan baik untuk semua.” pungkasnya di akhir sesi.
Sebelum, menuju ke Ning Inayah sebagai keynote speaker. Dihadirkan pula dalam acara ini, salah satu aktivis kemanusiaan yang turun langsung saat terjadi lonjakan varian delta di Surabaya beberapa waktu lalu. Yakni Arya Seno Bagaskoro, yang merupakan satu relawan dalam “Deklarasi Surabaya Memanggil”. Deklarasi ini dalam 2 hari waktu pendaftaran mencatat hampir 1.050 pendaftar yang tergerak dari berbagai lembaga dan latar belakang pekerjaan.
Menurut Seno, hal yang patut disyukuri dikondisi saat ini masih ada orang-orang hebat yang, mau melepas seragam masing-masing melebur untuk bersatu menyingsingkan lengan ikut bergerak bersama membantu melawan covid 19 ini.
Seno menutup dengan memberikan makna terkait kepahlawanan, yang menurutnya “Kepahlawanan itu akan betul terasa ketika banyak orang memilih bergotong royong dalam menghadapi kondisi yang berat. Ketika memilih untuk bergotong royong bersama yang lainnya maka aura heroisme itu akan muncul dan menguat.”
Sebagai Keynote Speaker, Ning Inayah Wahid sengaja diberikan waktu di penghujung acara, dengan pembahasan yang sangat menarik ini. Dalam paparannya, beliau menekankan terkait pemaknaan milenial agar tidak disalah artikan dan sebatas dijadikan gimik, yang kemudian membuat para generasi muda berpatok pada satu istilah aja, yang memungkinkan timbul diskriminasi terhadap usia.
Karena kondisi seperti pandemi sekarang merupakan PR bagi semua untuk bersama-sama menghadapi dan berjuang, layaknya Gus Dur yang terus berjuang hingga akhir hayatnya tanpa memandang usianya. Salah satu pegangangan yang bisa kita lakukan jika belajar dari Gus Dur dalam menghadapi segala sesuatu adalah terus bertanya, “Aku bisa apa?” pada diri sendiri terlebih di kondisi pandemi saat ini. “Kalau bukan saya siapa?” “Kalau bukan kita siapa?”. Pertanya-pertanyaan ini yang kemudian menurut Ning Inayah, merupakan pelajaran besar dari Gus Dur yang harus terus diwariskan dan dilestarikan oleh kita-masing-masing.
“Terkahir, jika melihat generasi Z sangat inklusif dibandingkan generasi millenial (dalam arti pengertian secara usia). Ada harapan yang sangat besar dari generasi Z bagi bangsa ini, tapi bukan berarti tidak ada problem. Inklusifitas generasi millenial harus terus dirawat dan dikembangkan. Hanya karena mereka menggunakan cara yg berbeda bukan berarti mereka salah.” Pungkasnya.
Acara kemudian berlanjut dengan diskusi dan berakhir hingga lebih dari jam 9 malam, Kalau menurut Ning Inayah, “ketika generasi muda sekarang masih betah ngomongin negara sampai jam segini, maka Indonesia masih punya harapan besar”.
Kegiatan yang diadakan oleh Garuda Malang ini dengan berkolaborasi dengan berbagai organisasi kepemudaan yang ada di kota Malang. Besar harapan dengan adanya kegiatan ini, para pemuda lintas iman terus bergerak untuk melakukan hal baik ditengah pandemi saat ini. Dan juga acara ini mampu menjadi ruang refleksi bersama gara generasi muda dengan semangat kemerdekaan di bulan Agustus agar terus memiliki daya juang dan semangat heroik untuk memperjuangkan nila-nilai Gus Dur di tengah pandemi. (Nuril)
*Disarikan dari acara Kongkow Garuda Malang









