Pada Senin, 21 Juni 2021 FISIP Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Komunitas Gubuk Tulis mengadakan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Gerakan Menulis Keberagaman Lintas Iman” Bertempat di EJSC (East Java Super Corridor) Malang. Peserta yang hampir semuanya merupakan para belia generasi Z yang lahir tahun pada awal abad 20 merupakan perwakilan dari enam agama dan kelompok agama minoritas. Peserta loka karya kepenulisan ini selain dari muda-mudi Muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu, juga berasal dari komunitas Syiah, Ahmadiyah, dan penghayat kepercayaan.
Yusli Effendi S.IP., M.A, selaku dosen FISIP UB, menjadi narasumber pertama yang membuka sesi awal dengan mendiskusikan kondisi keberagaman di Indonesia dan Kota Malang serta tantangan ekstrimisme. Selain menjelaskan soal kondisi keberagaman dan keberagamaan paska-reformasi, Yusli juga menyinggung isu-isu intoleransi. Baginya, sudah saatnya kita tidak sekadar memaknai toleransi sebagai sekadar memberi ijin (permission) terhadap mereka yang berbeda secara pasif, tapi beranjak mengejawantahkannya dalam aksi hidup bersama secara masif serta meninggikan respek dan marwah kemanusiaan. Saat grafik toleransi kita makin tinggi, mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda bukan hanya dihormati dan direkognisi dalam ranah sosial dan politik secara setara, tapi juga bahwa pandangan keagamaan dan cara hidupnya sama bernilainya dengan keyakinan kita.
Pemateri Kedua selaku wartawan Tempo dan pengurus Aliansi Jurnalistik Independen (AJI Indonesia), Abdi Purmono, menyampaikan teknis penulisan untuk memberi wawasan peserta soal langgam, bentuk, dan ide penulisan isu keberagaman lintas iman. Dengan pengalamannya, ia memberi gambaran bentuk-bentuk penulisan esai, opini, atau human interest yang memudahkan peserta dalam mengisahkan pengalaman keberagamaanya.
Layaknya loka karya, di sesi ketiga peserta ditugaskan untuk membagi diri dan sumbangsih ide ke dalam kelompok dengan anggota lintas agama dan menuliskan pengalamannya soal isu keberagaman dan kemudian bergantian memaparkannya ke forum untuk mendapatkan umpan balik dan masukan dari pemateri. Acara ini bertujuan menghasilkan buku dan artikel yang akan merekam suara-suara para belia Generasi Z dalam menerka wajah keberagaman Indonesia. Untuk itu, pertemuan lanjutan akan diagendakan dua pekan berikutnya untuk berproses menajamkan naskah tulisan.
Salah satu peserta yang merupakan calon pendeta muda dari Gereja Kristen Jawi Wetan, Indra, mengaku sangat berbahagia bisa bersama kawan-kawan mudanya berbagi keresahan. Sementara Ahmad Haddad, peserta dari Ahlul Bayt Indonesia (ABI) Malang menyatakan bahwa ia dan komunitas Syiah sangat menantikan acara-acara seperti ini untuk mengeratkan silaturahmi sebagai sesama anak bangsa dan dengan terbuka mengundang peserta atau komunitas lain yang ingin mengunjungi atau live-in (tinggal bersama beberapa hari) untuk saling mengenal lebih baik.
Pemilihan tempat di EJSC Malang juga bukanya tanpa maksud. Tempat yang dulunya dikenal sebagai Kantor Bakorwil III Malang di Jalan Simpang Ijen ini telah menjelma menjadi wadah para muda milenial dan Gen Z untuk bertemu dan berkarya. Tak hanya menyediakan kafe yang kekinian dan asyik buat berselancar di dunia maya, tempat ini juga memiliki Millenial Job Center (MJC) yang memberi fasilitasi bagi pelaku bisnis kecil atau UMKM untuk lebih memanfaatkan dunia digital untuk mengembangkan bisnisnya.








