Perempuan itu bukan persoalan cantik.
Namun bagaimana personality publik.
Yang terpenting dari menjadi cantik adalah menjadi cerdas.
Karena peradaban lahir dari rahimnya.
Bukan persoalan lahir dari rahim siapa? Keluarga mana?
Namun kamu siapa? Dan karyamu apa?

Hidup di perkotaan sudah tidak lagi memandang itu, namun bagaimana perempuan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, sudah tidak lagi mempermasalahkan paras yang rupawan, namun kecerdasan yang menawan. Inner beauty, saya fikir semua perempuan itu cantik, yah cantik sesuai bidang masing-masing.

Namun tak banyak perempuan menyadari itu, salah satu faktor penyebabnya adalah faktor eksternal. Dimana definisi cantik yang pada dasarnya adalah sebuah karakter atau kriteria masing-masing individu, menjadi selera public yang seakan menjadi industri. Tolak ukur dari segi fisik hingga paras pun di perhitungkan, media masa yang semakin maju menampilkan beragam solusi untuk menjadi cantik sesuai penjualan alat kecantikanya. Jadi definisi cantik itu apa?

Di Indonesia sendiri pun setiap daerah, adat, dan suku pun berbeda dalam kriteria dan cara memahami cantik sendiri. Apalagi di setiap negara. Lantas apalagi yang di permasalahkan wahai para perempuan?

Tidak ada yang salah dengan seorang perempuan. Tidak ada yang harus di sesalkan dengan menjadi perempuan. Tidak harus menyesali dengan tidak berkulit putih, dengan tidak berbadan kurus, ataupun dengan tidak berparas menawan. Bukan tugas para lelaki untuk menilai, mengomentari, ataupun menentukan siapa pemenang perempuan tercantik. Bukan hak mereka, jangan terdekte kriteria pendapat orang lain. Kau perempuan berhak bahagia, berhak berekspresi, berhak berpendapat, dan kau cantik.

Jangan bersedih jika ada yang berkata kau hitam, bahkan yang berkulit putih pun terkadang mengeluh ingin berkulit gelap. Bukankah bule datang ke Indonesia salah satunya adalah untuk mengelapkan kulitnya?

Jangan bersedih jika ada yang berkata kau gendut, bahkan yang kurus pun ingin mengendutkan badan. Jangan bersedih jika ada yang mengatakan kau jelek, bahkan yang cantik pun sering risih apabila digoda para lelaki.

Mengutip dari buku yang berjudul Nabi Muhammad Bukan Orang Arab karya Ach. Dhofir Zuhry, bab Sebagian Pekerti Nabi halaman 27. “beliau (nabi Muhammad SAW.) Ttidak pernah menyakiti binatang dan merusak tetumbuhan, Nabi senantiasa menyantuni dan menghibur yatim-piatu serta fakir-miskin, senantiasa baginda memuliakan dan mengistimewakan perempuan”

Terlepas dari faktor eksternal ada pula faktor internal dimana kita sebagai perempuan kurang bersyukur akan potensi yang lebih penting dari kriteria cantik. Terlalu banyak waktu yang terhabiskan hanya untuk memikirkan kekurangan. Tak perlu insecure, mari saling menguatkan, menjunjung tinggi martabat, dan saling berempati sesama perempuan. Bukankah itu esensi dari feminisme? Perempuan adalah manusia yang di muliakan, multitalenta, nan hebat. Berkaryalah hidup ini akan sia-sia jika hanya bergelut dengan kekurangan, bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini? Mari saling menyemangati untuk hidup lebih berarti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here