Membaca Parodia pada mulanya saya memutuskan membaca langsung cerita-cerita di dalamnya, atau membaca dulu kata pengatar dari penerbit dan penulis. Menjadi kebiasaan membaca epilog (jika ada), membaca cerita, melupakan pengantar yang seharusnya dibaca terlebih dahulu. Pengalaman membaca dari diri saya sendiri akan mengantarkan pada hal-hal seru. Prolog dan epilog mengikat pikiran pada petualangan seru sebelumnya, apabila dibaca terlebih dahulu sebelum cerita.

Dan ternyata hasil saya untuk membaca buku ini langsung pada cerita-cerita yang tepat. Ketika kami membaca buku ini pertama kali, saya coba membaca pengantar penerbit dan kecewa berat. Sepanjang saya murni, bisanya pengantar tidak begitu bentukannya. Ketika asalnya dari penerbit, isinya Biasa sebagai sesuatu yang berbeda. Pun juga merupakan asitas dari orang lain, biasanya isinya adalah analisis dari isi buku. Tapi ini … spoiler! Sungguhan saya tepat untuk mengatur laporan ini langsung pada cerita. Kata pengantar dari penerbit dapat merusakkan saya untuk membaca cerita-cerita dalam buku ini. Ugh… kata pengaman atas nama ANN itu betul-betul merusak wallpaper.

Ketika pertama kali membaca, selain menikmati sajian cerita dalam buku ini dan melihat-lihat melihat jalan cerita yang diawali dan diakhiri, mata saya juga cukup gatal dengan beberapa ejaan yang kurang konsisten, kurang huruf atau salah ketik. Bagian mana saja yang bikin gatal ini? Tidak akan saya bahas karena tidak relevan dengan judul. Penulis kata luput menjadi ‘di yakini’ dalam kata pengantar yang ia buat. UPS!

Namun dari delapan cerita yang disayangkan dalam buku ini, saya mengatakan paling mula mengingat Rumah Kayu. Saya lupa dengan cerpen yang karena dari cerpen yang saya baca hingga dua kali, saya menemukan fakta dari kumpulan cerita yang disebut tidak jelas dalam pengantar scanner sebagai; Yang saling bersatu satu sama lain.

Seperti hampir keseluruhan cerpen dalam Parodia, Rumah Kayu pun menjadikan seorang perempuan sebagai tokoh sentral. Melalui cerpen tersebut saya mulai merangkai kerangka cerpen-cerpen Istifari Hasan dimana obsesi memiliki ternyata menjadi tajuk utamanya, setidaknya dalam pengalaman pembacaan saya.

Perempuan dalam Rumah Kayu digambarkan gagal hidup bersama kekasihnya yang memilih hidup dengan permpuan lain. Aku, si perempuan itu nyatanya menunjukkan tekad hingga obsesinya memiliki dengan membangun rumah kayu sesuai impiannya dan kekasihnya dahulu, meski ia juga terpaksa harus menua bersama laki-laki lain yang terpaksa ia terima pinangannya. Mimpi buruk dan pembunuhan yang menimpa sang suami dan pemilik rumah kayu itu setelah si aku menjualnya, digambarkan Istifari dalam bentuk nyata dimana hal tersebut mesti berurusan panjang dengan polisi, hingga barangkali menimbulkan persepsi bagi pembaca bahwa pelaku adalah kekasih si aku di masalalu.

Sedang bagi saya, mimpi buruk dan pembunuhan yang terjadi di rumah kayu tersebut adalah gambaran dari obsesi memiliki si aku sendiri, hingga ia bisa melihat bayangan kekasih yang mendatanginya dalam wujud seusia dengannya, sama rapuh dan tua di akhir cerita. Ya… meski agaknya lebih apik apabila penulis tidak menjejalkan sebab-sebab kematian dirumah kayu di akhir cerita. Sebab kematian bisa dijelaskan, sejak kematian pertama itu terjadi.

Parodia juga menjadikan si aku yang seorang perempuan, lagi-lagi dalam rangkaian obsesi. Jika Rumah Kayu obsesi memilikinya digambarkan Istifari dalam bentuk pembunuhan, maka dalam Parodia, obsesi memiliki digambarkan dalam bentuk kegilaan. Aku dalam Parodia juga mengalami perjalanan rumit dalam kepalanya sendiri sebagai seorang pelacur, hingga diakhiri kesadaran soal kegilaan. Ya… kegilaan yang justru puncak kesadaran bagi si tokoh aku. Lagi-lagi seperti Rumah Kayu, kegilaan yang digambarkan Istifari bisa jadi diartikan nyata oleh para pembaca, karena melibatkan para dokter, layaknya para polisi yang muncul di akhir Rumah Kayu.

Dua Kendi Satu Cinta, menjadikan kita seolah turut menggerakkan kisah antara Bronto dan Mentari dengan sudut pandang orang ketiga yang disajikan. Kali ini seorang lelaki dan perempuan menjadi tokoh sentral dalam satu cerita sekaligus. Meski memiliki lintasan waktu yang sedikit membingungkan, obsesi memiliki Mentari menjadikannya mampu mendatangi Bronto, bahkan dalam dunia yang berbeda. Penulis kali ini menjadikan wujud nyata air dan kendi sebagai media Bronto dan Mentari menyampaikan rasa saling memiliki. Pembaca bisa mengartikan air yang dihadirkan di antara kerinduan Bronto dan Mentari, sebagai perwujudan air secara nyata atau juga bisa mengartikannya sebagai obsesi memiliki yang diwujudkan dalam bentuk air.

Tidak ada cinta yang tidak memiliki, itulah pengalaman pembacaan saya terhadap Parodia. Kalimat tersebut diwujudkan hampir dalam semua cerita yang disajikan dalam Parodia. Obsesi, menjadi senjata memiliki cinta dalam Parodia, terlepas para tokoh dengan bermacam akhir kisahnya. Ya… obsesi…

Simpan Mantraku.

Aku ingin melihat bunga cantik dengan guyuran bait yang indah,

Seperti mimpiku bersanding dengan syairmu,

Jika aku tidak kunjung bangun dari tidur,

Aku ingin kau mengecup keningku,

Dan saat itu aku benar-benar tertidur selamanya.

Mentari kepada Bronto (hal 61)

Judul              : Parodia

Penulis             : Istifari Hasan

ISBN               : 978-602-50682-7-0

Terbit               : Mei 2018

Ukuran            : 13,5 x 20 cm

Halaman          : 112

Penerbit           : Stelkendo Kreatif Indonesia

 

Penulis:  Poppy Trisnayanti Puspitasari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here