Merajut Damai dengan Dialog Kebhinekaan

0
65

Ngapel (Ngalam Peace Leader) sebuah komunitas penggerak perdamaian menggelar acara seminar bertemakan “Merawat Kebhinekaan dan Meneguhkan Pancasila untuk Peradaban Indonesia yang Damai”. Seminar digelar pada 20 September 2017, tepat dengan Hari Perdamaian Dunia yang akan jatuh keesokan harinya. Acara ini digelar di Balai Pertiwi, Universitas Ma Chung Malang.

Kurang lebih 500 peserta dari mahasiswa berbagai kampus, berbagai organisasi, dan komunitas turut meramaikan acara ini. Seminar ini dibagi menjadi 2 panel. Panel pertama diisi oleh Dr. Muhammad Anas dosen kewarganegaraan Universitas Brawijaya, Pdt. Cryesta Andrea, dan Bhikku Jayamedho. Panel pertama tentang bagaimana Pancasila mampu berperan dalam Indonesia yang berbeda-beda latar belakang agama maupun suku dan Peran komunitas agama dalam merawat Pancasila.

Sedangkan panel Kedua diisi oleh Hikmah Bafaqih ketua Fatayat NU Jawa Timur, Felik Sad dosen Pancasila Univ. Ma Chung, dan Redy Saputro koord. Peace Leader Indonesia. Panel kedua membahas tentang bahaya radikalisme pada remaja. Karena sekarang para pelaku radikalisme mulai bergeser segmentasinya ke remaja. Cara menghambat atau bahkan menghalau paham radikalisme dibahas pada sesi ini.

Seminar ini juga diadakan sebagai wujud menyikapi isu-isu perpecahan yang sedang ramai. Di mana ideologi dan konsesus kebangsaan sedang banyak dirongrong oleh oknum-oknum tertentu.

“Anak muda harus kembali menerapkan nilai-nilai ke-Indonesia-an agar mampu menghalau paham radikalisme yang merusak tatanan bangsa”, ujar Billy Setiadi, ketua pelaksana seminar tersebut.

Selain itu, diharapkan output dari seminar ini mengajak anak muda khususnya di kota Malang agar mau berkontribusi menjaga perdamaian baik regional Malang secara khusus, maupun Indonesia secara umum.

Dr. Muhammad Anas, M. Phil menyatakan bahwa pancasila bukan hanya sekedar ideologi, karena ideologi bisa berarti positif atau negatif. Pancasila ialah pedoman hidup bangsa yang harus terus dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dilanjutkan dengan pemaparan dari Pdt. Crysta yang menjelaskan dari historisasi perdamaian di bumi nusantara.

Sedangkan Bante Jayamedho selaku salah satu narasumber berpesan bahwa perbedaan itu fitrah dan perbedaan itu rahmat. Fitrah manusia itu untuk saling menyayangi dan menolong.

Acara berlanjut ke panel kedua. Meskipun acara sudah berlangsung hampir tiga jam, peserta masih bersemangat mendengarkan pemaparan para narasumber. Acara berakhir dengan bacaan doa dan foto bersama. (Malika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here