Barangkali bagimu, menulis ucapan terima kasih dalam kata pengantar adalah finalnya dari skripsi, finalnya lelahmu. Kamu ingat bagaimana usahamu menyembunyikan buku rangkuman kecil di antara paha, saat UTS selama enam semester. Kamu ingat bagaimana nyerinya jarimu, mengirim pesan singkat pada mana saja kakak tingkat yang kira-kira masih menyimpan makalah tugasnya terdahulu, biar kamu tinggal print dan ganti nama. Kamu ingat juga bagaimana kerasnya usahamu memerpanjang durasi presentasi, supaya dosen lupa menagih tugas yang belum kamu kerjakan hari itu.

Namun, apalagi yang lebih susah dari menulis ucapan terima kasih? Paragraf-paragraf standar seputar ucapan terima kasih pada Tuhan, dengan segala puji-pujiannya, kemudian apa? Kamu mesti mulai dengan nama-nama, tidak lupa dengan kalimat singkat soal sebab nama-nama itu dicantumkan.

Kamu kemudian memulainya dengan nama dua dosenmu, dosen pembimbing satu dan dua. Soal urutan yang pertama ini, kamu memulainya dengan meniru skripsi-skripsi yang terdahulu. Pikirmu, ini tidak akan terlalu sulit. Ketik saja gelar dan nama kedua dosenmu itu, sebut mereka sebagai pembimbing skripsimu hingga selesai, akhiri kalimatnya dengan tanda titik.

Dosen pembimbingmu itu, keduanya lelaki enam puluhan. Kamu ingat bagaimana soal UTS bikinan dua dosen gaek itu semasa kuliah. Ada dua kata yang selalu menyertai pertanyaan bikinan mereka, apa dan sebutkan. Semua jawabannya ada di buku rangkuman kecil itu, kamu tinggal membukanya yang ada di antara dua pahamu. Tidak perlu analisis, jawabannya sudah pasti.

Kamu pun tidak perlu khawatir buat berbagi jawaban dengan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu. Saat dua dosenmu itu memertanyakan mengapa jawabanmu dan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu itu bisa sama persis, maka kamu tinggal jawab,”Apa yang kami hafalkan sebelum ujian pun sama persis, Pak…”

Dari kedua dosenmu itu, tidak ada lagi yang terlalu kamu ingat. Tidak ada yang istimewa dari materi kuliah mereka, kecuali tiga lembar foto copy rencana pembelajaran di awal pertemuan dan bagaimana mereka berdua membacakan isi buku yang dibawanya tiap pertemuan, serupa dekte semasa kamu SD. Tidak ada juga wejangan berarti serupa ayah terhadap putra putrinya, semasa kamu masih kuliah. Hanya ucapan dua dosenmu itu, ketika pertemuan pertama bimbingan skripsi yang kamu ingat, keduanya berkata nyaris serupa, “Skripsi itu cuma formalitas, Jen. Mau baik atau buruk hasilmu, nilainya pun akan sama rata. Baiknya, kamu segera selesaikan saja kemudian lulus dan cari pekerjaan.”

Kamu tersenyum tipis. Tombol enter kamu tekan dari komputermu yang kemudian otomatis memunculkan angka dua. Poin nomor satu, yang memuat nama dua dosen pembimbingmu itu sudah tuntas. Poin nomor dua, juga kamu isi serupa skripsi-skripsi terdahulu yang kamu pernah lihat, isinya nama kedua orang tua.

Sebentar kemudian, kamu melirik sebingkai foto yang ada di nakas, sebelah kasurmu. Kamu menegakkan duduk dan merasakan nyeri di punggung akibat terlalu lama duduk di kursi kayu menghadap komputer pentium dua yang dibeli second oleh papamu itu. Setidaknya, kamu rasa jauh lebih beruntung ketimbang teman-temanmu. Kamu masih punya komputer, bisa mengetik segalanya dalam kamar, sedang teman-temanmu masih harus pergi ke rental atau memergunakan jasa pengetikan.

Sekali lagi, kamu lihat foto yang ada di atas nakas itu. Ada kamu, mama dan papamu di sana. Usiamu saat itu masih tujuh dengan rambutmu hitam kemerahan, terlalu banyak terkena sinar matahari. Hobimu memanjat pohon jambu yang dulu ditanam di halaman belakang. Mamamu kemudian membunuh pohon itu, menyiram akarnya dengan oli. Akar-akarnya bikin tembok retak, katanya.

Kupingmu berdenging kemudian, membuat kamu terpaksa menutupnya dengan dua tangan, meski tidak ada guna. Suara-suara pecahan beling bersusulan dalam kepalamu, kupingmu, bahkan dadamu. Papamu ada di hadapanmu, dia tersenyum manis. Saban pagi, papamu itu memasak nasi goreng buat mama dan kamu. Sekadar nasi putih sisa kemarin yang dicampur bawang merah dan kecap. Namun, menurutmu nasi itu yang paling lezat. Dan sepanjang yang kamu ingat, mamamu itu gemar merangkul manja di lengan papa, selagi nasi goreng sedang diaduk.

Denging yang makin menusuk kuping itu mulai berkurang. Anehnya, jari-jarimu justru gemetar saat hendak melanjutkan mengetik. Kali ini, mama ada di hadapanmu. Satu gigi depannya mama, nampak bergoyang ketika tersundul lidahnya sendiri. Ada juga lebam kebiruan di mata kiri mama. Kamu melihat papamu berdiri dengan tangannya yang mengepal di hadapan mama. Tidak salah lagi, papamu pelakunya. Dia yang membikin satu gigi mamamu bergoyang dan mata kirinya lebam. Kamu melihatnya sendiri, saat tinju papa mendarat di muka mamamu berkali-kali dan itu sudah yang kesekian…

Tubuh mamamu nampak gemetar. Namun, wajahnya justru nampak datar. Pikirmu, mamamu itu perempuan yang tabah. Sebentar kemudian kamu mendelik, karena mendapati papa dan mamamu saling menempelkan bibir dan bertukar kata-kata cinta. Perutmu serasa diaduk, singkatnya ada mual yang merajah perutmu dan itu sudah yang kesekian…

Napasmu mulai berkejaran. Pikirmu, barangkali berhenti saja menulis ucapan terimakasih. Setidaknya, berhenti satu atau dua jam atau… selamanya. Seperti yang sudah kamu pikir di awal tadi, ini bakal sulit.

Air mata merembes pelan-pelan, melewati dua pipimu. Kamu tahu, kamu tidak bisa berhenti. Bagi orang lain, ucapan terimakasih bisa jadi sekadar formalitas dan bagimu, jika boleh memilih, biar skripsimu tanpa ucapan terimakasih saja. Namun, tanpa ucapan terimakasih, skripsimu akan nampak kurang ajar selama-lamanya dan terpajang di perpustakaan. Kamu hanya ingin… nampak normal dengan ucapan terimakasih dalam skripsimu itu, yang menyebut dosen pembimbing, kedua orang tuamu, kekasihmu dan teman-temanmu. Hanya itu… kamu hanya ingin berpura-pura lengkap lewat itu semua.

Sebentar kemudian, kamu buru-buru kembali menegakkan kepala. Cepat-cepat kamu kembali mengetik. Nama papamu, mamamu, beserta gelar mereka. Tidak seperti ucapan terimakasihmu di poin pertama, kali ini ucapanmu lebih mesra dan memuat kata cinta. Perutmu terasa seperti kembali diaduk, namun kamu buru-buru menarik napas kemudian menahannya cukup lama, coba melupakan rasa mual yang merajah perutmu itu.

Pada poin yang ketiga, kamu menuliskan namanya Maria, sahabatmu sejak SMA. Maria memiliki tubuh sangat kurus, kulit coklat dan mata bulat yang jernih. Kamu ingat, foto-fotomu di media sosial didominasi oleh fotomu bersama Maria. Kalian sangat lekat, bahkan hingga kuliah di kampus yang sama, namun beda fakultas.

Maria… ya… Maria. Perempuan itu memang sahabat baikmu, namun hubungan kalian tidak benar-benar mesra sepenuhnya. Saat kalian kelas 11, kamu mendapati Maria berkirim pesan dengan pacarmu, cinta pertamamu. Pacarmu dan Maria menyepakati sebuah pertemuan buat melepas hasrat mereka berdua di sebuah losmen, satu jam dari pusat kota letaknya. Selanjutnya, kamu diamkan Maria hingga setahun berikutnya. Maria telah memohon maaf berkali-kali, namun kamu selalu menolaknya, pun ketika pacarmu itu coba memohon maaf yang serupa. Baru setelah kamu diam-diam berhasil melepas hasratmu bersama pacarnya Maria, kamu mendatangi gadis berambut lurus itu, kamu bilang kamu sesungguhnya sudah memaafkan dia jauh sebelum dirinya memohon maaf. Kamu mengatakan, dirimu dan Maria adalah sesama perempuan yang mestinya tidak patut saling memusuhi. Sedang pacarmu? Mengingat dia sebagai cinta pertamamu, hanya membuat perutmu seperti diaduk, pun memandangi wajahnya.

Menahun berikutnya, kamu terus mengamati Maria. Diam-diam, kamu selalu bisa menyepakati waktu, agar bisa melepas hasrat dengan pacar-pacar barunya Maria. Kamu hampir saja ingin berhenti, ketika melihat Maria yang setia menemanimu saat demam di kamar kostmu, selalu. Namun, tiap kamu hendak berhenti, perutmu jadi serasa diaduk saat menatap wajahnya Maria. Mual itu merajah lagi perutmu. Kemudian, kamu memutuskan tidak akan lagi pernah berhenti.

M-A-R-I-A, Maria Larasati. Kamu mengeja namanya Maria dengan hati-hati, takut ada huruf yang tertinggal. Sudah kamu putuskan, bahwa nama Maria akan seterusnya kamu kenang, lewat ucapan terima kasih dalam skripsimu. Dengan nama yang terkenang selamanya itu, akan membuatmu juga terus ingat bahwa tidak akan ada kata berhenti. Ya… kamu tidak akan berhenti melepas hasrat dengan siapapun pacarnya Maria.

Jari-jarimu mengetik tombol enter, membuat angka empat otomatis muncul. Seperti pernah kamu rencanakan, poin nomor empat adalah tempatnya nama kekasihmu. Tapi tunggu… kekasihmu yang mana? Abdi atau Wiguna? Mana dari dua nama itu yang bakal kamu tulis. Bukannya… kamu punya dua orang kekasih?

Memiliki lebih dari seorang kekasih sesungguhnya tidak pernah kamu rencanakan. Kamu selalu ingin satu. Kenyataan jadi bukan satu-satunya saat bersama pacar pertamamu dulu, membuatmu tahu bagaimana rasanya kosong. Kamu tidak ingin membikin orang lain sama kosong denganmu, sesungguhnya. Namun, setiap kali kamu coba memiliki satu saja kekasih, perutmu rasanya seperti diaduk, ada mual yang merajah. Pun ketika kamu coba sendiri saja, kosong itu seperti mengejar tepat di belakang punggungmu. Jadi, kamu putuskan punya dua, tidak lebih. Bagimu, mual akan lebih menyakitkan dari perasaan kosong. Kalau pun saling menyakiti, kamu pun tidak ingin lebih banyak orang lagi yang terlibat.

Keringat dingin sekarang meleleh membasahi ujung dahi hingga lehermu. Jari-jarimu kali ini kaku. Kamu tidak bisa berhenti, kamu ingin hidupmu nampak lengkap melalui ucapan terimakasih itu. Namun, siapa yang akan kamu tulis? Abdi atau Wiguna? Celakanya, kamu ingat punya panggilan kesayangan yang berbeda pada dua lelaki itu. Menyebut salah satu, berarti sama dengan menyebut nama masing-masing dari mereka. Sekali lagi, seperti pikiranmu di awal tadi, menulis ucapan terimakasih akan jadi hal menyusahkan. Hingga kemudian, kamu putuskan untuk mengosongkan dulu poin yang mestinya berisi nama kekasihmu. Atau… kamu sebut saja mereka berdua dengan satu kata, kekasih? Ah… agaknya kamu betul-betul memilih memikirkan poin ini belakangan. Yang jelas, kamu harus bersama lebih dari satu kekasih, keduanya tidak boleh lepas atau mual itu bakal merajah lagi.

Kamu kemudian malah mengetik poin selanjutnya, nama jurusan dan angkatanmu juga si koordinator kelasmu itu, sahabat semua orang. Kamu dan si koordinator berambut gondrong itu, bersahabat sejak mahasiswa baru. Dia pandai memersatukan orang banyak dan seorang penyemarak. Pacarnya seorang ketua himpunan, yang usianya dua tahun lebih tua, Manda namanya. Manda yang lugu dan terkenal sangat baik dalam akademis maupun organisasi. Keduanya juga jadi macan di ruang-ruang diskusi dan kamu mengagumi pasangan yang kamu pikir saling bangun itu, pada mulanya. Kamu jatuh cinta pada koordinator itu, sekaligus mengagumi Manda.

Namun, satu waktu si koordinator itu saling goda denganmu di kamar kost saat kalian berdua mengerjakan makalah bersama, hasrat itu pun lepas dan setelahnya dia bilang padamu,”Meski ini semua sudah terjadi… kita nggak mungkin bareng, Jen. Seburuknya laki-laki macam saya, tentu saya punya dambaan punya pasangan yang lugu seperti Manda. Jaminan terbaik buat keturunan saya kelak.” Kamu kemudian hanya tergelak, seolah tidak merasa nyeri di dada mendengar ucapan si koordinator itu. Kalian selanjutnya terus bersahabat tanpa lagi pernah melepas hasrat. Kamu bertekad agar si koordinator itu tidak akan pernah tahu nyeri di dadamu itu. Semenjak saat itu, perutmu serasa diaduk dan mual kembali merajah, setiap membayangkan Manda yang lugu bakal hidup bersama koordinator itu.

Manda dan kamu kemudian lebih sering bertemu. Kamu mengatur kedekatan kalian, hingga Manda menginap di kostmu dan kamu menginap di kostnya Manda, hingga kalian saling cerita soal keluarga dan menangis, hingga kalian saling dekap, hingga kalian saling menempelkan bibir, hingga kalian… melepas hasrat masing-masing. Semakin sering kamu melepas hasrat bersama Manda, bayangan soal gadis lugu yang bakal menikahi si koordinator bajingan itu tidak lagi mengganggu kamu, mual itu juga tidak lagi merajahmu. Maka, tidak ada kata yang lebih pantas buat si koordinator itu, selain namanya ditulis dalam ucapan terimasih. Jika tidak karena dia, kamu juga tidak mungkin bisa dekat dengan orang sepengertian Manda. Ya… meski mungkin kamu tidak bisa gamblang berterimakasih karena apa.

Kamu menggeliat, merasakan otot punggung yang makin lelah. Beberapa kali, kamu menekan tomblo backspace, kemudian mengetik ulang nama itu dan menekan tombol backspace, kemudian mengetik ulang nama itu lagi dan kemudian menekan tombol backspace lagi. Selanjutnya, kamu hanya diam dan sudah lewat empat menit dan kamu tetap terpaku di depan layar komputer. Mendadak layar komputermu menjadi hitam berbarengan dengan lampu kamar yang padam dan jerit kaget para penghuni kost lainnya.

“Bangsat! Pemadaman bergilir lagi.” Rutukmu, sambil membayangkan file ucapan terimakasih yang belum kamu simpan dan mesti kamu ketik ulang beserta kenangan dan segala rasa mual yang menyusul.

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku dan kemudian mulai menggoreskannya di pergelangan tangan kirimu dengan jari-jari yang gemetaran. Pertama kali dalam hidup, aku melihat wajah paling damai pada dirimu. Dan memang aku yang membantu kamu mencapai kedamaian itu…

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here