Rasanya sangat senang sekali, jika Islam di Thailand tidak ada konflik lagi dan akan terus berkembang pesat. Sehingga saya sebagai salah satu umat muslim pendatang merasa aman. Apalagi saya dengar pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama beberapa kali mengirim para mubaligh ke Thailand. Para da’i akan melakukan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin di negeri Gajah Putih ini. Pengiriman da’i ini merupakan bagian dari kerjasama pemerintah Indonesia melalui Kemenag bersama pemerintah Thailand yang diwakili Delegasi Pusat Provinsi Perbatasan Thailand Selatan (The Southern Border Province Administrative Centre of The Kingdom of Thailand/SBPAC).

Mereka biasanya mengajar di sekolah-sekolah Islam, dan bagi para penghafal al-Quran selain mengajar al-Quran juga mengimami di berbagai masjid di Thailand. Apalagi seperti sekarang ini, saat bulan Ramadhan biasanya ada imam utusan dari Indonesia yang dikirim ke mari. Saya sempat berbincang dengan salah seorang imam selepas shalat terawih di masjid Jawa. Beliau berasal dari Aceh yang diperbantukan di wilayah Selatan dan Bangkok (khusus bulan Ramadhan) perantara Atase Pendidikan, Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Bangkok.

Begitu pula menurut informasi yang saya dapat, pemerintah Thailand ternyata juga memberikan beasiswa kepada para pelajar dan mahasiswa yang menimba ilmu di pesantren, madrasah dan kampus-kampus Islam yang ada di Indonesia. Saya memiliki teman yang mengambil S2 di Chulalongkorn University, dulu S1-nya ambil di Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dia cerita banyak terkait hubungan Islam Indonesia dengan Thailand melalui dakwah dan pendidikan. Adapun bentuk beasiswa ini ada juga yang semacam pertukaran pelajar (student exchange program). Kebanyakan mereka asli Thailand Selatan yang fasih berbahasa Melayu. Sehingga pasti akan lebih mudah ketika berkomunikasi.

Menariknya lagi, untuk memperkuat dan meningkatkan pesan Islam rahmatan lil ‘alamin ini, Indonesia telah mendirikan dua ormas Islam terbesar di Indonesia diantaranya Pengurus Cabang Internasional Nahdhatul Ulama (PCINU) Thailand pada tanggal 3 Oktober 2016 (NU Online, 2016) dan Muhammadiyah Thailand pada tanggal 18 November 2017 (PWMU.CO, 2017). Masing-masing dilakukan pelantikan dan deklarasi di Yayasan Daarul Huda dan Universitas Rachabhat Yala, Thailand Selatan. Harapannya upaya-upaya untuk terus bersinergi seperti inilah yang akan membawa Islam sebagai agama yang sejuk, tidak menyebarakan paham-pahaam radikal dan teroris yang seperti sekarang isu ini tengah santer dibicarakan.

Di samping itu wajah Islam di Thailand tambah semakin cantik, dengan berdirinya lembaga sertifikasi halal di bawah naungan Halal Science Center (HSC) dan Central Islamic Council of Thailand (CICOT). Saya pernah berkunjung ke HSC saat mengantarkan para pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Visi lembaga yang didirikan oleh Prof. (Assoc) Dr. Winai Dahlan (yang tidak lain merupakan cucu KH. Ahmad Dahlan) ini untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjaga keamanan keyakinan beragama komunitas muslim dunia. Sehingga akan membantu kehidupan masyarakat Islam khususnya di Thailand dalam membeli dan mengkonsumsi produk-produk baik makanan, minuman dan lainnya. Setiap tahunnya dua lembaga tersebut menggelar acara Thailand Halal Assembly yang dihadiri seluruh tokoh Islam dari perwakilan negara-nagara Islam di dunia. Alhamdulillah saya pun diberikan kesempatan menghadiri Thailand Halal Assembly 2016 dan Thailand Halal Assembly 2017 di Bangkok pada saat itu. Kegiatan seperti ini sebagai ladang dakwah juga karena beberapa tokoh lintas agama di Thailand juga turut diundang pada perhelatan akbar acara ini.

Lembaga lain yang turut memberikan andil terhadap semakin percayanya pemerintah Thailand terhadap agama Islam di Thailand adalah The Foundation of Islamic Centre of Thailand. Yayasan yang memiliki masjid terbesar di Thailand ini tidak pernah sepi dari jamaah. Selain sebagai pusat pendidikan agama Islam juga berkontribusi terhadap perbaikan komunitas masyarakat Islam di Thailand dan masyarakat secara luas. Sehingga tidak mungkin ada lagi islamic phobia, Islam akan menjadi damai dan hadir menumbuhkan rasa saling toleransi tingkat tinggi.

Karena memang sudah seharusnya Islam rahmatan lil ‘alamin itu bersifat tawassuth (moderat), i’tidal (tegak), tasamuh (toleran) dan tawazun (seimbang)  serta tasyawur (musyawarah/dialog). Sehingga berada di tengah-tengah masyrakat yang beragam ini, praktik Islam rahmatan lil ‘alamin menjadikan kehidupan terasa lebih manusiawi, hangat, nyaman, dan ramah. Bergembira dalam perbedaan dan bersahabat dalam segala aspek, baik itu kehidupan sosial, budaya, maupun politik dan hukum. Dengan begitu Islam akan terus menerus berkembang dan diterima masyarakat luas. Maka sebagai penutup tulisan ini saya ingin berkata, saya sangat optimis kepada hasil penelitian dari PEW Research Center (2017) bahwa pada tahun 2050 nanti Islam akan menjadi agama mayoritas di dunia. Wallahua’lam bisshowaab. []

SHARE
Previous articleWajah Islam di Negeri Gajah Putih (1)
Next articleSederhananya, yang Rumit itu Sederhana
Pegiat literasi berasal dari Lamongan yang sekarang tinggal di Bangkok Thailand. Salah satu penulis Buku “Jalan Damai Kita” Gusdurian Malang (2016). Biology, Faculty of Science, Islamic State University of Maulana Malik Ibrahim, Malang, Indonesia. ---- Master's Degree Research Programs, Nanoscience and Nanotechnology, King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Bangkok, Thailand.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here