Dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamiin).” [QS: Al Anbiya (21):107]

Jika diminta menyebutkan satu negara Budha di Asia Tenggara maka secara otomatis yang terlintas di pikiran kita adalah Thailand. Meskipun secara data statistik (Libgar, 2017) Thailand adalah negara yang menduduki populasi terbesar kedua penganut Buddha di dunia setelah Tiongkok. Siapa sangka di tengah-tengah penduduk Buddhism di Thailand yang mencapai angka 95% (64.4 juta jiwa) ini ada kehidupan agama Islam dan agama lain seperti Kristen, Hindu, serta beberapa penduduk Tionghoa Thai yang mempraktiKkan agama tradisional Tionghoa, termasuk Tao.

Bukan berarti saya mengesampingkan agama lain, namun pada tulisan ini saya akan mengulas beberapa pandangan (sesuai judulnya) yakni terkait wajah Islam di negara Thailand (Kingdom of Thailand), sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Saya ingin berbagai cerita berdasarkan pengalaman saya tinggal di Thailand selama dua tahun disertai juga beberapa referensi pendukung. Kira-kira bagaimana akulturasi budaya, adakah konflik antar pemeluk agama, dan apa peran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin di tengah-tengah keberagaman ini?

Oke, sebelum masuk kepada pokok pembahasan. Saya ingin mengawali dengan menyimak beberapa hasil penelitian (skripsi, tesis maupun disertasi) beberapa kampus Islam di Indonesia yang sudah dipublikasikan (jika mau, teman-teman dapat mengaksesnya secara online –cek di internet). Selain itu buku Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara karya Dr. H. Saifullah, SA. MA. terbitan Pustaka Pelajar (2010) mungkin juga bisa memberikan informasi tentang sejarah Islam masuk ke Thailand ini.

Sejarah mencatat, Thailand adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah (colonized). Meskipun negara Thailand pada waktu akan terbentuk mendapat tekanan terus menerus dari bangsa Eropa. Sebelum negara Thailand ini didirikan, berdasarkan catatan Tome Pires dan Laksamana Cheng Ho ada sebuah kerajaan yang terletak di Thailand bagian Selatan bernama Kerajaan Melayu Pattani. Kerajaan ini didirikan sekitar abad ke-15 M. Menurut Hikayat Pattani, Kerajaan Melayu Pattani awalnya berpusat di Kota Mahligai dan diperintah oleh Phya Tu Kerab Mahayana.

Karena letaknya yang strategis, Pattani menjadi cepat berkembang. Para pedagang muslim (termasuk Indonesia) telah mendatangi negeri ini untuk berdagang dan tentu saja berdakwah menyebarkan risalah Islam. Karena dakwah para da’i dan pedagang muslim itulah Pya Tu Antara, sang penguasa Pattani masuk Islam. Pya Tu Antara memeluk Islam melalui seorang ulama dari Pasai (Sumatera) bernama Syaikh Said. Setelah masuk Islam Pya Tu Antara bergelar Sultan Ismail Syah Zilulllah fil Alam. Sejak itu, agama Islam mempengaruhi budaya dan kehidupan keagamaan rakyat Pattani dan terbentuklah Kerajaan Islam Pattani di wilayah tersebut.

Akhirnya pada tahun 1785 M (abad ke 18) terjadi peperangan (imperialistik) oleh Kerajaan Siam (cikal bakal negara Thailand) yang dipimpin Phraya Chakri. Kerajaan ini menyerang dan berhasil menundukkan Kerajaan Pattani. Sultan Muhammad pemimpin Kerajaan Pattani saat itu beserta ribuan rakyatnya syahid dalam pertempuran. Sebagian lagi ditawan dan dibawa ke Bangkok. Meskipun kalah dalam pertempuran itu, Kerajaan Pattani tidak runtuh. Selalu saja ada pemimpin Pattani yang melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Siam.

Hal ini dikarenakan selama berada di bawah kekuasaan Kerajaan Siam, banyak peraturan yang merugikan umat Islam Pattani. Banyak terjadi pemberontakan sebagai wujud ketidakpuasan atas kebijakan yang diterapkan oleh Kerajaan Siam. Di antara pemberontakan itu adalah yang terjadi pada tahun 1923 di Belukar Semak. Pemberontakan ini muncul akibat pemaksaan Akta Pelajaran 1921 yang memaksa anak-anak Melayu Pattani memasuki Pendidikan Kebangsaan Siam yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Siam (sekarang lebih dikenal dengan bahasa Thailand). Tidak heran jika saya berkenalan dengan teman-teman Thailand di komunitas mahasiswa Islam (muslim club) kampus, mereka rata-rata memiliki tiga nama: nama Thailand, nama dari bahasa Melayu atau Arab, dan nama panggilan (ชื่อเล่น) yang umumnya dimiliki warga keturunan bangsa Siam.

Pada akhirnya setelah Kerajaan Siam berganti nama menjadi negara Thailand (1939 M), Islam lambat laun berkembang pesat beriring dengan banyak pendatang muslim berasal dari Timur Tengah, Afrika, maupun bangsa Melayu seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Mereka bekerja dan menetap di Thailand, memberikan warna baru terhadap Islam di Thailand. Mereka juga mendirikan perkampungan dan komunitas di wilayah Bangkok. Saya sempat mengunjungi kampung Arab, beberapa kali shalat di masjid Indonesia, masjid Pakistan, dan masjid Turki. Bahkan di kampung Jawa, daerah Sathorn Bangkok ada “Masjid Jawa” dengan bangunan corak khas kultur Yogyakarta. Konon katanya keluarga keturunan Irfan Dahlan (anak keempat dari KH. Ahmad Dahlan) pernah tinggal di wilayah tersebut.

Namun bicara soal Islam di Thailand, ngerinya tahun lalu saya pernah membaca berita terkait konflik dan pemberontakan yang pernah terjadi di wilayah Selatan antara Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani (BRN) dan kelompok separatis Islam dengan militer pemerintah Thailand yang telah merenggut lebih dari 7,000 nyawa sejak tahun 2004. Semakin lama konflik berlanjut, semakin besarlah risiko polarisasi yang rupanya akan dieksploitasikan oleh para jihadis transnasional. Kedua kelompok seperti Al-Qaeda dan ISIS mungkin akan mengambil kesempatan dalam pelbagai konflik wilayah perbatasan dengan Malaysia ini. Akibatnya, pihak militer bertindak lebih represif lagi.

Saya mulai tenang, ketika mendengar kabar bahwa api konflik ini sudah mulai padam sejak di bawah penanganan National Council for Peace and Order (NCPO) atau kabinet khusus yang dibentuk oleh pemerintah otoriter sejak diambil alih kekuasaan (kudeta 2014) hingga sekarang. Masyarakat muslim Pattani pun bersedia menjalankan kebijakan pemerintah asalkan pemerintah setempat yakin bahwa Pattani adalah bagian dari warga Thailand yang harus diberi hak dan perlindungan yang sama, bukan ancaman yang identitas kultural mereka malah diberangus. Hanya dengan pendekatan cara demikian pemerintah pusat bisa mengembalikan rasa percaya masyarakat.

Terlepas dari itu semua, sampai sekarang pihak Islam juga mampu mendekati pihak otoritas negara Thailand. Sehingga kerajaan cukup mendukung kehidupan Islam untuk penduduknya. Tanggungjawab masalah berkaitan agama Islam di Thailand diemban oleh seseorang mufti yang memperoleh gelar Syaikhul Islam (Chularajmontree). Mufti ini berada di bawah Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan serta bertanggungjawab pada raja. Mufti bertugas buat mengatur kebijakan yang bersangkutan dengan kehidupan muslim, seperti penentuan awal dan akhir Ramadhan dalam kalender tahun hijriyah.

Tidak heran kalau jumlah kaum muslimin di Thailand dari 4.6% (data dari CIA:, 2014) dengan statistik terbaru mencapai sekitar empat juta dari total 65 juta penduduk, dan jumlah ini saya yakini akan terus meningkat. Mengingat saat ini Islam telah menjadi agama terbanyak kedua setelah Buddha di Thailand. Sekarang banyak dijumpai lembaga-lembaga pendidikan berbasis Islam, masjid-masjid dan perkampungan muslim Islam di Thailand. Menurut situs Thailand Embassy saja, Thailand memiliki 3.494 masjid. Meskipun jumlah terbanyak masih tersebar di beberapa provinsi wilayah Thailand Selatan, antara lain Provinsi Pattani, Yala (Jala), Narathiwat (Menara), dan juga Songkhla (Senggora).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here