Malang, tepatnya di daerah Dinoyo dikenal masyarakat luas dengan kampung keramik. Kampung keramik yang berdiri sejak 1957 itu kini diterpa badai besar dalam mempertahankan identitasnya. Kampung keramik semula adalah pusat industri gerabah dan perlengkapan rumah tangga yang berbahan baku keramik kini mengalami penurunan produksi. Terlihat rumah produksi Kampung Keramik Dinoyo yang sepi tanpa aktivitas setiap hari. Meskipun demikian, kampung keramik Dinoyo tetap berproduksi, dengan sistem kerja rumah-an.

Identitas kampung keramik kini telah menjadi cerita lalu – karena kurangnya sentuhan dari pemerintah. Kini, berdiri taman kecil di depan rumah produksi, bernama Kampung Wisata Keramik Dinoyo, yang disponsori oleh Pertamina dan Polinema. Ya begitulah hidup di Indonesia, membuat taman saja harus ada sponsor nya.

Alhasil, Tebar Baca Gubuk Tulis melakukan safari lapak bacanya ke taman keramik, yang perdana. Sebelumnya, sering digelar di Taman Singha Merjosari. Minggu pagi, bertepatan tanggal enam di bulan kemerdekaan Indonesia tahun 2017 Gubuk Tulis mengawalinya.

Kru Tebar Baca mulanya pesimis akan ada pengunjung di taman keramik. Dengan motor uduk, kami datang dan terlihat dari kejauhan sebuah keramaian dekat taman. Selanjutnya motor kami parkir dan bersalaman dengan warga kampung dan beruntung kami bisa bertemu ketua RW setempat. Kami bercengkrama dengan ganyang dan santai bersama Pak Samsul, ketua RW itu.

Obrolan diawali dengan sapaan kami dan pertanyaan tentang aktivitas di rumah produksi keramik pagi itu. Banyak anak-anak dan orang tua di sana. Mereka sedang riang gembira merefleksikan kemerdekaan Indonesia dengan lomba-lomba ala kampung – lomba menggambar, mewarnai dan makan kerupuk. Kemudian, kami memohon izin untuk turut merayakan kemerdekaan Republik ini dengan menggelar lapak buku gratis – membaca, menggambar dan mewarnai dengan suka cita.

anak-anak berkunjung ke tebar baca GT saat jeda mengikuti lomba agustus-an

Lapak kami ramai pengunjung, mereka terlihat asyik dan menikmati lapak kami. Terlihat bapak berumur lima puluh-an sedang serius membaca buku “Atlas Wali Songo” karya Romo Agus Sunyoto. Selain itu, berhamburan anak-anak dan ibunya tengah membaca dan mewarnai kertas gambar yang telah kami sediakan.

Gubuk Tulis dalam hal ini memiliki misi untuk menjadikan ruang terbuka hijau penuh dengan nuansa literasi. Kita membawa buku dan alat mewarnai untuk anak-anak yang turut berbahagia di setiap Minggu pagi. Pemanfaatan ruang terbuka hijau ini perlu terus ditingkatkan agar terus menuai energi positif. Kampung keramik memiliki cerita baru yang indah bersama tebar baca Gubuk Tulis.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here