Oleh: Abdul Fauzi*

Selamat pagi pak Rektor. Bagaimana kabarnya? Semoga Bapak senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang katanya kampus Ulul Albab itu. Semoga, bapak juga mampu menampung aspirasi mahasiswa dan semoga tidak ada demonstrasi.

Pak rektor yang terhormat, saya dengar mahasiswa baru semakin bertambah, dan UKT pun semakin tinggi. Sampai- sampai, saat registrasi kemarin, banyak wali mahasiswa yang mengeluh dengan tingginya UKT itu. Beberapa dari mereka tidak Bapak temui. Apa salah mereka?

Kalau Bapak tahu, tidak semua orang mampu membayar uang kuliah. Banyak dari mereka yang bersusah payah mengumpulkan uang dari keringat masamnya. Banyak pula dari mereka yang menginginkan nasib anaknya lebih baik dari orang tuanya.

Pak rektor, itu masih pendahuluan. Banyak ungkapan cinta yang mau saya sampaikan. Eh, bukan saya, kami, sebagian besar mahasiswa baru seusai mendengarkan sambutan Bapak saat Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK).

Sejujurnya, kami sangat terpukau saat pertama kali masuk UIN. Gedungnya tertata rapi nan megah. Udaranya sejuk. Masjidnya pun ada dua, dan itu membuat kami bertambah yakin bahwa ini kampus yang mengajarkan nilai nilai islam dengan baik dan benar.

Selain itu, kekaguman kami tidak hanya berhenti sampai di situ. Kami, eh, orang tua kami maksudnya. Orang tua kami juga sangat bangga di semester awal kita diperkenankan menjadi santri di Mahad Serba Agenda Agama, eh Mahad Sunan Ampel Al Aly (MSAA) maksudnya. Kebahagiaan itu tidak lepas dari wujud harpan orang tua, agar mendapatkan pendidikan agama yang baik dan benar.

Oke pak rektor, kembali ke sambutan bapak saat PBAK beberapa hari lalu. Kami mendengar bahwa bapak melempar statemen sebagai berikut; “dan saya lihat wajah-wajah anda adalah wajah-wajah Presiden, tidak ada wajah-wajah petani atau buruh, anda adalah harapan kami, anda adalah siap memimpin, anda bisa mengalahkan siapa saja di negeri ini”.

Kami tidak tahu landasan Bapak menyampaikan hal itu. Kami yakin Bapak orang baik, tidak ada wajah menghina petani atau buruh. Kami yakin Bapak bukan tipikal penista profesi orang. Kami yakin Bapak tidak sedang mendeskriditkan petani atau buruh.

Akan tetapi, kami merasa ganjal dengan susunan kalimat itu. Premis satu; saya melihat wajah-wajah anda adalah wajah presiden. Premis dua; Saya melihat wajah-wajah anda tidak ada wajah-wajah petani atau buruh. Kesimpulannya; Bapak melihat wajah-wajah mahasiswa baru adalah wajah presiden, tidak ada wajah petani atau buruh. Padahal, kata Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, “Petani adalah Penolong Negeri”.

Pak rektor yang terhormat, mengapa tiba- tiba Bapak mengagungkan seorang Presiden? Apakah gara-gara Pak Ma’ruf Amin yang jadi Cawapres itu? Di mana Bapak sebut juga sebagai dosen UIN dan gelar profesornya dari UIN juga.

Ingat Pak, PBAK bukan gebyar kampanye politik praktis. UIN itu, setahu kami adalah tempat belajar, mencari ilmu atau sekedar mencari ijazah. Bapak tidak perlu repot-repot kampanye, atau mengharapkan semua mahasiswanya menjadi presiden.

Pak rektor yang terhormat, tidak ada kasta di dunia profesi, bahwa jabatan presiden lebih tinggi dari pada menjadi petani atau buruh. Kalau bapak ingat pesan kyai; yang membedakan derajat manusia di sisi tuhanNya adalah tingkat ketaqwaannya. Selain itu, Al Qur’an juga berpesan bahwa Allah akan meningkatkan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

Pesan Al Quran itu sangat jelas, bahwa Allah akan meningkatkan derajat dunia dan akhirat seseorang sesuai kadar keimanan dan keilmuan. Derajat dunia tidak bisa disamakan dengan pangkat atau jabatan. Derajat dunia adalah derajat yang Allah berikan sebagai wujud kecintaanNya kepada hambanya. Bisa jadi, derajat itu ialah menjadikan orang beriman dan berilmu sebagai petani yang cinta lingkungan,  cerdas, berbudi luhur, kaya dan dermawan, sehingga petani itu bisa mempekerjakan tetangganya yang tidak bekerja atau tidak punya lahan.

Bisa jadi, derajat itu adalah profesi buruhnya yang dapat mendekatkan si buruh kepada Allah, dengan kejujurannya, kedisiplinannya dan terus membela yang lemah. Membela kaum buruh yang tertindas dengan kebijakan pengemban yang tidak adil dan korup. Sebagaimana yang dilakukan Marsinah saat mengawal demonstrasi atas ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan pihak perusahaan.

Pak rektor yang terhormat, dengar-dengar Bapak mantan aktivis, yang dulunya gencar mendendangkan, “Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota- bersatu padu rebut demokrasi..”. mengapa akhir ini Bapak dengan gembira melihat wajah mahasiswa Bapak adalah wajah Presiden.

Bapak pasti tahu kan? Pak Harto, dengan kebijakan swasembada berasnya, banyak variates padi punah, tanah rusak karena pupuk anorganik yang overdosis, dan ekosistem yang semakin rusak. Dampaknya apa? Tanah kita menjadi tidak produktif lagi dan petani pun nelangsa. Akhirnya, beras saja kita impor. Itu loh pak, ulah presiden. Masak bapak tidak mau mendidik mahasiswa bapak menjadi petani tangguh atau buruh yang jujur.

Kalau bapak tahu, LIPI merilis data, ada sekitar 63% anak-anak muda yang menolak mewarisi profesi orang tuanya sebagai petani. LIPI juga menyebutkan bahwa Indonesia sedang krisis regenerasi petani muda. Jika hal itu tidak segera ditemukan solusinya, bapak dan keluarga mau makan nasi dari mana? Jagung dari mana? Ikan dari mana?

Sekali lagi, pak rektor yang terhormat. Kami yakin, hampir 60% mahasiswa baru UIN Malang 2018 dibiayai dari tangan peluh petani, keringat deras nelayan, mata menonjol sopir angkot atau bahkan pemulung sekalipun. Oke, jika maksuda bapak dalam statemen itu adalah motivasi agar si anak bisa menjadi lebih baik dari orang tuanya. Tapi, tidak sepantasnya bapak membanding profesi presiden dengan profesi lainnya.

Yang paling akhir, dalam kalimat; “anda bisa mengalahkan siapa saja di negeri ini”. Ungkapan itu kami rasa terlalu kasar dan congkak Pak. Hidup bukan soal menang kalah. Kata kyai yang penting itu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Apalagi di era revolusi industri keempat ini, saat ini adalah era kolaborasi, bukan sekedar kompetisi.

Yang paling akhir lagi. Semoga Tuhan mengampuni dosa kita semua dan semoga kebaikan senantiasa menyertai kita semua. Dan semoga ada dari mahasiswa UIN Malang, menjadi apa saja (petani, buruh, sopir, menteri, presiden), yang penting jujur, adil dan tidak korupsi. Percuma kalau jadi presiden, tapi korupsi, kan eman jargonnya, “Ulama yang Intelek, Intelek yang Ulama”. Hehew.

*Penulis adalah MABA UIN Malang yang gemar ngopi di Oase Kopi Literasi

3 COMMENTS

  1. Baru jadi Maba aja udah gaya… Itu memberikan semangat… Kmu aja jgn menganggap semua jelek.. introspeksi dulu… Kalo udah benci, semua nya pasti jadi jelek… Kalo soal UKT iya memang.. haha

  2. “Akan tetapi, kami merasa ganjal dengan susunan kalimat itu. Premis satu; saya melihat wajah-wajah anda adalah wajah presiden. Premis dua; Saya melihat wajah-wajah anda tidak ada wajah-wajah petani atau buruh”

    Saya kutip kalimat yg dipermasalahkan diatas
    Presiden adalah perlambang tertinggi disusui negara, jd raihlah cita cita mu setinggi mungkin jgn melihat asal asul kita karena manusia punya kesempatan sama baik itu anak petani buruh tani maupun anak birokrasi
    Jadi mungkin rektor memandang kalian semua maba itu sama tidak melihat latar belakang sosialnya
    Kalian punya kesempatan yg sama untuk maju
    Ketika masuk UIN semua adalah mahasiswa tidak ada istilah kalian anak petani kalian anak buruh kalian tidak berhak menjadi ini itu
    Mungkin yg nulis sebelum membuka dikhayalak umum alangkah baiknya tabayun dulu ke rektor
    Terima kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here