Beberapa hari sebelum tulisan ini dibuat, sempat ada diskusi di grup facebook messenger “Sensor Lab” -gegara kepala laboratorium mengirimkan sebuah artikel tentang kultur kerang laut. Bahasan ini mengingatkan saya pada isu yang sempat ramai di Indonesia pada akhir tahun 2017 lalu. Mungkin teman-teman masih ingat dengan viralnya pernyataan Menteri Pertanian terkait harga daging melambung (mahal) malah disarankan agar masyarakat beralih ke komoditas lain yang proteinnya sama dengan daging, di antaranya adalah keong sawah (Jawa/Sunda: besusul/tutut).

Pernyataan ini seketika menjadi polemik di kalangan netizen Indonesia yang katanya maha benar. Trending di berbagai media sosial dan beberapa meme tentang keong sawah pun bermunculan dengan berbagai aneka kreatifitas, serta dibumbuhi kata-kata kocak maupun mengantung unsur politik (baca: black campaign). Topik keong sawah ini sampai-sampai mengalahkan hebohnya video keong racun Shinta dan Jojo di youtube sepuluh tahun silam.

Tidak hanya mencuri perhatian netizen, media oposisi pun girang sekali dengan mencuatnya isu ini. Bagaimana tidak, ini adalah kesempatan mereka untuk menggorengnya hingga menjadi boomerang bagi pemerintah sekarang. Terlebih, sama halnya menunjukkan bahwa penguasa tampak tidak serius dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhan daging sapi di Indonesia. Hal ini ditanggapi pula oleh seorang politikus (tidak perlu saya sebutkan namanya) sekaligus salah satu petinggi parpol. Ia membuat vlog berupa kritikan yang cukup pedas. Ya begitulah dunia politik, selalu saling serang dan ambil momen untuk melawan.

Terlepas saran Mentan RI itu merupakan saran yang benar-benar serius atau hanya sekedar candaan, tetapi hemat saya saran ini sudah pasti memunculkan persepsi negatif dari masyarakat kepada pemerintah. Selain dinilai kurang bijak, disebabkan juga karena keong sawah masih belum umum dikonsumsi masyarakat luas. Seyogyanya, jika penyebab mahalnya harga daging sapi adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap daging sapi yang tidak dibarengi dengan peningkatan produksi daging sapi, maka seharusnya kebijakan yang dilakukan pemerintah diarahkan untuk bagaimana meningkatkan produksi daging sapi itu sendiri.

Selain itu, pemerintah juga perlu mencanangkan dan melakukan langkah-langkah menuju swasembada daging sapi sekalipun itu butuh proses dan waktu yang cukup lama. Baik peningkatan produksi daging sapi melalui para peternak sapi dalam negeri atau kalau perlu melakukan impor daging sapi secara proposional sesuai kebutuhan dan tentu berkualitas. Dengan demikian harga daging sapi akan murah dan terjangkau. Sehingga kebutuhan masyarakat akan daging sapi dapat terpenuhi.

Lantas berbicara tentang swasembada daging, mungkin saya akan coba mengorelasikan kembali dengan cerita di awal tadi -tentang “kultur daging”. Sebelum penemuan kultur daging kerang, jauh daripada itu sudah dilakukan uji laboratorium pembuatan daging sapi secara kultur sel (cell culture) pada tahun 2013 yang ditemukan oleh seorang imuwan asal Maastricht University, Belanda. Dialah Profesor Mark Post yang menyajikan daging sapi dari sel induk atau “stem cell” pertama kali di dunia.

Sebagaimana dimuat oleh CNN, dari hasil temuan tersebut dicoba dalam bentuk masakan (sebagai tester). Olahan daging yang dijadikan burger itu dimasak dan disajikan di London, Inggris. Burger tersebut dibuat dari 20 ribu untai daging yang ditumbuhkan dari sel-sel otot sapi. Butuh waktu 3 bulan untuk membuatnya di laboratorium. Lalu dua relawan (peneliti tren makanan) masing-masing mencicipi burger seberat 142 gram, yang disajikan dengan roti, salad, dan potongan tipis tomat. “It was very meaty…”, ungkapnya.

Ini merupakan sebuah temuan menakjubkan dan capaian yang bagus di dalam dunia sains. Kedengarannya seperti sekedar fiksi sains, tapi buktinya Mark Post berhasil melakukannya. Apalagi menurut perkiraan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), konsumsi daging diperkirakan akan meningkat hampir 73% pada tahun 2050. Sehingga temuan ini harapannya bisa menjadi solusi alternatif dalam mengatasi krisis pangan, serta kultur daging diyakini tidak akan merusak lingkungan dan bisa mengurangi angka praktik penyiksaan hewan (animal welfare). Para pengembang sejauh ini pun berharap, daging yang diternakkan di laboratorium tersebut nantinya akan tersedia di rak-rak supermarket dalam 10 sampai 20 tahun mendatang.

Kultur daging yang dihasilkan oleh Mark Post telah menempuh jalan panjang. Awalnya, para ahli dari Maastricht University menghabiskan waktu setidaknya enam tahun untuk mempengaruhi sel induk agar berubah diri ke tipe-tipe sel yang lain. Sampai di sini, jangan berpikir bagaimana cara membuatnya. Cukup rumit jika dijelaskan secara detail. Terpenting lagi, ini adalah peluang bisnis dan dapat dijadikan sebagi solusi permasalahan di negara kita. Setidaknya mampu membantu pasokan daging dari peternak.

Kemampuan luar biasa sel-sel induk yang diambil dari seekor sapi untuk tumbuh dan berkembang biak, bisa menghasilkan daging sejuta kali lebih banyak daripada jika hewan tersebut disembelih untuk diambil dagingnya. Ini bisa menjadi peluang lain, di samping dampak dari inovasi masa depan ini akan memberikan hasil positif dalam lingkungan dan menopang industri peternakan. Atau jika memang teknologi dari temuan ini benar-benar dikembangkan, maka nanti semua akan beralih mengonsumsi daging hasil kultur “ternak” daging di laboratorium ini.

Dalam konferensi American Association for the Advancement of Science, Mark Post mengumumkan telah bisa menghasilkan lapisan daging dengan ukuran panjang 3 cm, dan tebal 0-1,5 cm. Selain sapi, tim peneliti juga membuka peluang versi sintesis dari daging hewan lain. Ini bukan berarti daging yang dibuat adalah daging palsu seperti halnya telur dan beras sintetis yang sudah beredar di pasaran dan memang telah terbukti palsu, karena terbuat dari plastik atau bahan kimia lain.

Namun pada dasarnya merupakan daging asli yang dikembangkan atau diperbanyak sel-jaringannya di dalam laboratorium. Tidak tumbuh langsung dari makhluk hidup (hewan) tersebut. Akan tetapi sel induknya tetap bersumber dari hewan asli. Seperti pada metode kultur jaringan tumbuhan, yang mana dengan teknik ini menanam tidak lagi dengan biji atau secara vegetatif (stek, cangkok, dan okulasi). Tetapi kita bisa memperbanyak tanaman dengan cara in vitro menggunakan jaringan mikro tanaman . Baik berasal dari daun, tangkai, tunas, bahkan akar aslinya yang dapat diperbanyak dalam jumlah tidak terbatas.

Lambat laun setelah teknik kultur daging ini ditemukan, banyak ilmuwan dan para ahli lain memberi komentar serta bermunculan berbagai kontroversi. Mulai dari biaya produksi mahal, nilai kesehatan meliputi nutrisi dan gizi, sampai pada mempertanyakan hukum halal-haramnya. Karena kultur daging adalah penemuan baru oleh para ilmuwan, tentu topik ini belum pernah dibahas oleh para ahli hukum klasik (fuqaha’).

Setelah membaca satu jurnal international (2017) yang masih hangat untuk dikaji dengan judul “Cultured Meat in Islamic Perspective”, berkesimpulan bahwa status halal daging hasil kultur ini dapat diketahui melalui identifikasi sel sumber dan media kultur yang digunakan dalam kultur daging. Daging hasil kultur ini dapat dikatakan halal apabila diperoleh dari ekstraksi sel induk hewan yang disembelih (dengan cara halal), dan tidak ada darah atau serum yang digunakan dalam proses tersebut.

Terlepas bahwa konsumsi daging berdampak terhadap pemanasan global dan masih bertentangan dengan para penganut vegetarian, namun teknologi ini apa salahnya jika disambut dengan baik. Barangkali kalau nanti sudah diedarkan di supermarket atau dijual di pasar-pasar akan ada bakso berisi pentol dari daging hasil kultur, rawon, rendang, bahkan steak sekalipun. Kira-kira bagaimana rasanya? Apakah lebih maknyus? Ah, jadi penasaran mencobanya. Heuheu []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here