Short Course ini bukanlah kegiatan biasa, bisa dibilang kegiatan ini adalah short course penelitian pertama di Kota Malang yang memakai metodologi feminisme sebagai materi kunci di dalamnya. Kegiatan ini merupakan buah kolaborasi dari tiga komunitas sekaligus yakni Komunitas Perempuan Bergerak yang berkonsentrasi pada isu-isu feminisme, Komunitas Averroes yang berkonsentrasi pada bidang pemberdayaan masyarakat dan pendidikan demokrasi, dan Gubuk Tulis yang berkonsentrasi pada bidang literasi.

Kegiatan yang dilaksanakan di Kesekretariatan Komunitas Averroes, Kota Malang (16-17/12/2017) ini diikuti 20 peserta yang sudah melalui proses seleksi sebelumnya. Pesertanya hadir dari berbagai latar belakang pendidikan akademik pula, Henry misalnya, Ia merupakan salah satu mahasiswa S1 Kedokteran Universitas Airlangga yang mengikuti kegiatan ini.

“Saya tertarik mengikuti short course ini karena saya sebagai mahasiswa kedokteran merasa banyak pandangan masyarakat yang salah mengenai tubuh perempuan dan seringkali pandangan tersebut menyudutkan perempuan itu sendiri, ” ucap Henry dengan semangat.

Senada dengan keinginan Henry, short course ini dibuat untuk menciptakan peneliti yang mampu membedah persoalan dalam masyarakat diberbagai bidang dengan pisau analisis feminisme.

“Seringkali peneliti belum memiliki etika kepedulian dalam memandang permasalahan gender, oleh karena itu riset dengan metode feminisme akan membantu peneliti dalam mempertajam analisis yang berkeadilan” ungkap Naila salah satu pendiri komunitas Perempuan Bergerak.

Bagi seorang peneliti, memiliki etika kepedulian yang berkeadilan adalah hal yang sangat dibutuhkan agar hasil penelitian tersebut tidak memiliki keberpihakan yang salah, sehingga mampu menjadi acuan dalam teori maupun praktik untuk memecahkan permasalahan-permasalahan dimasyarakat luas. Oleh karena itu, Short Course ini menawarkan tiga materi di dalamnya yakni paradigma penelitian, paradigma feminisme, dan metodologi feminisme.

Metodologi feminisme sebagai materi kunci pada Short Course ini diisi oleh pakarnya secara langsung yakni Dr.Mundi Rahayu. Menurutnya kegiatan semacam ini sangat penting dilakukan agar para peneliti memiliki prespektif kritis.

“Kita tidak akan bisa menyelesaikan ketimpangan maupun diskriminasi dalam masyarakat jika kita tidak memiliki prespektif kritis pada diri kita sendiri,” ucap dosen Fakultas Humaniora UIN Malang tersebut.

Ada kunci pokok yang menjadi ciri khas dalam metodologi feminisme, hal tersebut diyakini bisa membedah segala peristiwa, tradisi, sampai pada film ataupun buku yang dirasa menyebabkan terjadinya permasalahan-permasalahan gender seperti diskriminasi, kekerasan seksual, eskploitasi dll.  Mundi menjelaskan terdapat tiga kunci pokok yang harus ada dalam analisis feminisme yakni:

1.       Perempuan memiliki akses. Jika dalam suatu instansi, tradisi, dll. perempuan tidak memiliki akses untuk berada didalamnya maka hal tersebut telah terjadi ketimpangan.

2.       Perempuan menerima manfaat. Perempuan harus menerima manfaat yang sama dengan laki-laki atas pembangunan, kebijakan, dll.

3.       Perempuan memiliki kontrol. Perempuan memiliki peran atau bisa berkesampatan ikut andil dalam suatu kebijakan, sistem, dll. jika tidak maka bisa dikatakan masih terjadi diskriminasi.

 

Di akhir sesi, para peserta diminta untuk membuat karya berbentuk tulisan atas hasil penelitian mereka sendiri tentunya dengan metodologi feminisme sebagai pisau analisinya. Rencananya, tulisan tersebut akan dibukukan oleh avepress yang merupakan salah satu penerbit milik Komunitas Averroes. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here