Sejatinya setiap manusia sejak lahir memiliki insting peneliti. Ketika seorang balita mencari cara untuk merangkak, berjalan, berbicara, memanjat dan tumbuh kembang lainnya, disitulah upaya observasi dimulai. Demikian penyampaian awal dari Levi Riansyah sebagai pemateri pertama “paradigma penelitian” dalam rangkaian short course penelitian feminis.

Short course penelitian feminis dengan tajuk “Membangun etika penelitian yang berkeadilan” diselenggarkan oleh komunitas perempuan bergerak, gubuktulis dan averrous.

Rian, sapaan akrab sosok aktivis yang juga tergabung dalam jaringan Islam anti diskriminasi (JIAD) itu menjabarkan, jika paradigma penelitian disederhanakan sebagai; cara pandang, kerangka berpikir kritis, serangkaian kepercayaan dan kesepakatan bersama, cara memahami masalah, dan pondasi untuk memahami suatu fenomena.

Sebelumnya, Rian memantik para peserta dengan menarasikan pengalaman masing-masing berkenaan dengan penelitian. Diantaranya banyak yang sudah melakukan advokasi, atau sekedar jajak pendapat dengan melakukan kompilasi data.

Salah satunya Undu; peserta asal Sulawesi yang sedang melakukan studi di Surabaya. Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Front Nahdiyin ini pernah melakukan riset berkenaan dengan “Implementasi Pendidikan Kesetaraan” pada pendidikan paket yang disediakan pemerintah. Ada lagi, Ika peserta asal Cirebon yang berprofesi sebagai Film Maker ini menyoroti buruh perempuan yang digaji murah di Majalengka.

Semua peserta menarasikan secara oral pengelaman penelitiannya, sebagian mengatakan jika awal penelitiannya adalah skripsi. Dan dari sharing ringan tersebut, Rian menyimpulkan jika forum yang diisi tidak kurang dari 25 dan berasal dari berbagai daerah tersebut sudah memiliki basic jiwa peneliti.

Riyan melanjutkan, sebelum melakukan sebuah penelitian seorang peneliti diharuskan untuk menentukan tujuan penelitian. Karena dari sebuah tujuan akan menentukan paradigma dan pendekatan yang akan diambil. Tujuan penelitian bisa berupa; penyelesaian masalah (Problem solved), merumuskan solusi alternatif, menemukan objektivitas, menggali sesuatu sevalid mungkin, menemukan produk baru hingga menguji Teori.

Pendekatan Penelitian

Kendati banyak bertebaran peneliti dengan kecanggihan teknologi saat ini. Namun, sedikit sekali peneliti yang menciptakan perubahan pada arah kebaikan. Untuk itu, ketika sebuah tujuan peneliti sudah ditentukan, keberpihakan peneliti kemudian sangat diperlukan untuk menentukan arah penelitian, yakni “Penelitian digunakan siapa untuk apa, dan kepentingan siapa?”.

Ketika arah dan tujuan sudah ditentukan pendekatan yang dilakukan bisa dipilih, pendekatan penelitian bisa dengan Objektif dan Subjektif. Penelitian objektif adalah sebuah pendekatan yang dilakukan untuk menemukan pola umum. Sedang subjektif adalah sebuah pendekatan yang diarahkan untuk menjelaskan masalah, pendekatan model ini tak lain instrumenlah yang bersuara.

Seperti yang sudah disampaikan dalam paragraf sebelumnya. Keberpihakan sangat menentukan, karena sebuah penelitian memiliki dua tujuan yakni Sosial Order dan Sosial Change. Rian sebagai peneliti di komunitas Averrous mengharapkan semua peserta yang hadir menjadi peneliti kritis dengan membawa perubahan sosial yang baik. “memakai teori dan pendekatan apapun, peneliti harus membawa perubahan sosial yang baik” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here