Tujuan utama dari jenis hobi maupun kegemaran apa pun, satu diantaranya adalah berupa mempersatukan elemen-elemen yang menjadi bagian penyusun di dalamnya. Bukan mengajarkan dari apa yang dinamakan sebuah perpecahan maupun pertentangan kelas. Tak terkecuali adalah dalam dunia sepakbola maupun dunia perdangdutan di jagat raya alam semesta ini.

Sepakbola mengajarkan kepada para pemain sepakbola, jajaran kepelatihan, hingga para fans maupun pendukung kesebelasan untuk menerima setiap hasil yang terjadi di lapangan baik itu berupa kemenangan, kekalahan atau bahkan hasil seri. Toh jikalau meminta pendapat para ahli matematika, dari ketiga hasil itu masing-masing memiliki persentase peluang yang sama, jika disajikan dalam bentuk pecahan  adalah sebesar 1/3 atau 0,3333… dalam bentuk desimal.

Begitu pula dalam dunia dangdut. Dalam hal ini adalah dunia tarik suara. Seorang penyanyi yang mungkin diidolakan hingga didambakan oleh para penggila dangdut harus tahu bahwasannya ia perlu tahu seluk-beluk yang ada di dunia tersebut. Dunia dangdut mengajarkan nilai-nilai yang harus memenuhi beberapa kaidah seperti; estetika, etika, budaya hingga seni. Di Youtube, telah banyak tersebar para penyanyi dangdut dengan membawakan berbagai judul lagu yang tak sedikit juga telah ditonton hingga jutaan kali. Ini menunjukkan sebuah trend tersendiri dalam perkembangannya.

Menilik atas beberapa fenomena yang terjadi dalam waktu terakhir, dua nama yang banyak menyita perhatian publik adalah sosok Via Vallen dan Nella Kharisma. Bahkan, di masa Liga Primer Inggris yang masuk ke pekan di saat salah satu klub besar; Manchester United menunjukkan trend yang kurang positif salah satunya saat bertandang ke Burnley, di beberapa laman dimunculkan foto Via Vallen yang mengenakan jersey Manchester United, seakan dimunculkan sosok peredam bagi kemarahan dari pendukung Manchester United yang banyak juga sedang naik pitam karena melihat performa tim asuhan Jose Mourinho.

Begitupun sebaliknya, dalam waktu yang bersamaan juga dimunculkan sosok lain dari Via. Ia adalah Nella Kharisma yang disinyalir juga menggemari klub lain yang juga berkiprah di Liga Primer Inggris, yakni Chelsea. Bisa jadi ada kemungkinan lahirnya friksi-friksi yang terjadi di kalangan masyarakat secara luas. Tak terkecuali bagi penggemar di masing-masing penyanyi tersebut.

Munculnya dua penyanyi dangdut yang sudah terbiasa membawakan lagu Bojo Galak, Ditinggal Rabi, Sayang, Konco Mesra, Jaran Goyang, Kelangan, Kimcil Kepolen, Aku Cah Kerjo, hingga Dipikir Keri itu pun makin menyeruak ke publik. Tak ayal, banyak orang juga beranggapan fenomena ini akan semakin memperkuat persaingan diantara keduanya. Makin menjadi lagi, jikalau dihubungkan dengan klub sepakbola yang diidolakan oleh masing-masing dari kedua penyanyi tersebut.

Bisa jadi, pasca kejadian itu, orang-orang yang menjadi fans Chelsea yang juga suka dangdut pasti akan berkiblat pada sosok Nella Kharisma. Sebaliknya, orang-orang yang menjadi bagian dari fans Manchester United dan gemar dangdut, kiblatnya akan tertuju pada sosok Via Vallen. Walaupun tidak terjadi pada keseluruan, namun ini menjadikan sebuah anomali tersendiri. Menarik. Menggelitik. Tentu saja menjogetkan daya imajinasi kita semua.

Politisasi

Dalam keberjalanannya, yang mungkin menjadi semakin menarik adalah semenjak masuk di tahun 2018 ini. Di beberapa wilayah baik tingkatan provinsi maupun kabupaten/kota di Indonesia akan bersiap menyambut letupan genderang politik yang bernama pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Strategi dan taktik di masing-masing pasangan calon (paslon) terus digodok maupun digoreng sedemikian rupa dengan alih-alih untuk menyiapkan amunisi dalam kerangka perlawanan maupun kompetisi. Baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Kabar terakhir adalah digaetnya Nella Kaharisma beserta Via Vallen sebagai brand yang digunakan dalam strategi pemenangan tentunya, oleh salah satu paslon gubernur dan wakil gubernur di Jawa Timur sana. Ini menarik. Bagi orang awam seperti penulis, tentu akan muncul pertanyaan; apakah ini bagian dari upaya untuk depolitisasi itu sendiri akan daya tawar dangdut di masyarakat ataukah tidak sebatas itu, namum melainkan menjadi gimmick dalam melihat kondisi pasar yang ada.

Jikalau memang ini adalah upaya politisasi, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah; apakah dangdut tidak memberikan edukasi mengenai konsep “netralitas” atau dalam hal ini adalah bersifat “non politik”. Dunia tarik suara tentu yang paling perlu diperhatikan adalah terkait mengenai nilai-nilai yang sedarinya menjadi sebuah dasar, seperti; estetika, etika, seni, budaya maupun sosial masyarakat.

Toh yang lebih dikhawatirkan dari situasi ini adalah terkait posisi penggemar maupun fans dalam kerangka penggila dangdut maupun penggila sepakbola itu sendiri. Bisa jadi, dengan adanya upaya viralisasi dua penyanyi tersebut, dalam keberjalanannya akan dihubungkan juga dengan klub sepakbola yang diidolakan masing-masing dari keduanya. Klimaksnya tentu saja adalah perolehan suara. Kalau Antonio Gramsci menyebutnya adalah sebagai bentuk hegemoni.

Manchunian garis keras, tentu akan bersikukuh mengikuti apa yang dipesankan maupun disampaikan oleh Via Valen, yang misalkan nanti dilibatkan dalam berbagai agenda kampanye. Pejah gesang pokoke ndherek Mbak Via. Pun sebaliknya, True Blue yang juga ngefans sama Nella Kharisma, akan menuruti apa yang dipesankan oleh gadis kelahiran Kota Kediri dua puluh tiga tahun silam tersebut. Pokoknya OAOE…

Namun, jikalau mengacu pada regulasi yang ada dalam sepakbola sendiri, istilah politik harus ditendang jauh dari lapangan. “Kick Politic Out of Footbal” seolah menjadi sebuah ungkapan sihir yang menegaskan bahwa dalam permainan sepakbola harus terbebas dari politik. Meskipun ungkapan itu juga mengandung hal yang sangat begitu politis. Walaupun demikian, secara terang-terangan dalam peraturannya, FIFA memang melarang segala bentuk aktivitas baik berupa pesan-pesan politik, agama maupun komersial di lapangan hijau.

Banyak paradoks mungkin akan hadir dari upaya politisasi jikalau kombinasi perpaduan antara dangdut dan sepakbola itu sendiri dilakukan di salah satu tempat berlangsungnya pesta politik. Di sisi lain, kita dihadapkan dengan popularitas yang bertujuan untuk mendulang suara. Di luar itu, kita dihadapkan juga oleh pertanyaan besar ihwal upaya politisasi itu sendiri.

Kita tidak perlu lagi menyaksikan dari apa yang pernah dilakukan oleh Gianluigi Buffon di September tahun 2000 silam, dengan mengenakan kaos bernomor 88 yang kemudian dituduh menyampaikan pesan Heil Hitler (HH) karena kombinasi huruf ke-8 dalam abjad. Padahal sebenarnya hanya ingin menyampaikan pesan bola yang berjumlah empat. Pun, persilangan tangan yang dilakukan oleh Solomon Kalou saat Chelsea menang atas Middlesborough di Januari tahuh 2009 silam. Disinyalir, lambang itu sebagai protes atas pemborgolan Antoine Assale Tiemoko, seorang penulis yang dipenjara karena menggoreskan cerita tentang ketidakadilan di Pantai Gading. Itu pun pada kenyataan yang terjadi, muncul simpang-siur akan kejelasannya.

Besuk, lusa ataupun hari-hari berikutnya, jikalau politisasi antara dangdut dan sepakbola benar-benar terjadi, kita mungkin akan menyaksikan berbagai lambang, pesan, gerakan, isyarat dan lain sebagainya dengan berbagai intrik yang terjadi. Yang mungkin bisa saja lebih dari apa yang terjadi di daratan negara di luar Indonesia sana. Pancene kowe pabu…..Uwuwuwuwuwu….

Selamat menikmati pertandingan sepakbola di panggung! Selamat menikmati dangdut di lapangan hijau!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here