Seni memahami dalam kerangka hermeneutika merupakan salah satu cara untuk membuka makna dibalik teks. Memahami menjadi kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar tercipta saling keterpahaman dan meminimalisir kesalahpahaman. Terlebih hidup dalam negara multikultur yang erat kaitannya dengan pluralisme; baik keanekaragaman budaya, etnis ,ras, dan lain sebagainya.

Memahami dalam maksud yang diungkapkan oleh berbagai pemikir hermeneutik memiliki perbedaan dengan arti mengetahui. Memahami merupakan aktifitas kognitif mendalam, melewati proses refleksi, interpretasi, dan proyeksi. Berbagai pemikir hermeneutik sebetulnya memiliki perbedaan dalam mengartikulasikan atau mendeskripsikan seni memahami –perbedaan itulah yang menjadi keanekaragaman dalam metode hermeneutik–  sehingga metode hermenutik antar tokoh akan memiliki kelemahan serta kekuatan masing-masing dalam hal itu. Hermeneutika sebetulnya merupakan suatu metode; mengungkap makna dibalik teks yang sudah ada sejak tradisi era Yunani kuno. Sebelum kita mengenal lebih jauh mengenai metode dalam Hermeneutika alangkah lebih baiknya kita memulai dari latar belakang tradisi hermeneutik serta kedudukannya dari masa ke masa.

Sejarah Hermeneutik

Hermeneutik sebetulnya bukan suatu metode yang dihasilkan pemikir modern seperti: Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, dan lain-lain. Metode ini sudah ada sejak era masyarakat Yunani kuno bahka istilah hermeneutik secara etimologi berasal dari sana. Istilah tersebut berkaitan erat dengan Hermes (tokoh dalam mitologi Yunani kuno) yang bertugas menyampaikan pesan para dewa terhadap manusia di Bumi. Sebelum menyapaikan  pesan tersebut kepada manusia Hermes harus terlebih dahulu memahami dan menafsirkan pesan-pesan itu bagi dirinya sendiri, setelahnya dia menyampaikan kepada manusia.  Dari kegiatan Hermes ada beberapa hal yang harus ditangkap yaitu kesenjangan pesan (Dewa) kepada manusia (penerima pesan) harus diatasi melalui tafsir si penyampai pesan (Hermes). Sehingga, melalui kegiatan menafsirkan dengan cara yang sangat ketat dan tidak sembarang tafsir maka hal tersebut disebut “Hermeneutika”.

Motode ini mendapat perhatian khusus pada era awal perkembangan agama Kristiani. Terdapat dua aliran kristiani yang berbeda cara menafsirkan teks dalam Alkitab, yaitu: jemaat Kristiani di dalam kota Aleksandria dan jemaat Kristiani di kota Antiokhia; kedua jemaat tersebut saling bertolak belakang dalam menafsirkan teks sebagai pegangan bagi kehidupan manusia. Jemaat Antiokhia lebih memakai tafsir harfiah atau literalisme atas Alkitab, sementara jemaat di Kota Alexandria memakai strategi tafsir alegoris atau simbolis terhadap teks. Perbedaan cara pandang dalam menangkap makna terhadap teks akan membawa dampak yang berbeda terhadap para penganut paham tersebut.

Situasi masalah Hermeneutik terus dipertajam melalui konflik reformis protestan dengan Gereja Katolik Roma. Menolak tekanan Gereja Katolik Roma untuk patuh pada tradisi dan otoritas –para reformis protestan mengajukan pendekatan terhadap teks melalui asa sola scriptura dengan pengandaian bahwa Alkitab tidak memerlukan interpretasi eksternal karena didalamnya sudah terdapat keterhubungan makna “Koherensi internal” yang mampu ditangkap oleh manusia.

Bergeser pada era “Renaisans” hermeneutik ditarik keluar dari disiplin kitab suci. Pada zaman ini timbul minat besar untuk menangkap keutuhan dan keotentikan teks; seperti naskah Yunani kuno dan Romawi kuno, pada titik ini hermeneutik difungsikan sebagai alat bedah terhadap “teks” non-religi yang kemudian membawa dampak besar terhadap pemikir modern dalam mengembangkan motede hermeneutik diberbagai disiplin kajian. Diantaranya Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Bultman, Gadamer hingga Derrida (tokoh Hermeneutik Radikal).

Richard E. Palmer memberikan enam definisi hermeneutik, yaitu: pertama, hermeneutik sebagai teori eksegesis alkitab pengertian ini adalah yang paling tua muncul pasca reformasi protestan –dan masih  bertahan hingga saat ini. kedua, hermeneutik sebagai metodelogi filologis definisi ini muncul lewat perkembangan rasionalisme di Eropa yang mencoba menafsirkan berbagai teks termasuk Alkitab dalam terang nalar. ketiga, hermeneutik sebagai ilmu pemahaman linguistik definisi ini dapat ditemukan dalam pemikiran Scheleiermacher yang mencoba menggariskan “seni memahami” sebagai sebuah metode seperti yang terdapat dalm ilmu-ilmu modern. Keempat, hermeneutik sebagai dasar metodelogis ilmu sosial-kemanusiaan definisi ini dirintis oleh Dilthey yang mencoba mendasarkan ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan padametode interpretatif. Kelima, hermeneutik sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial definisi ini berasal dari Heidegger sebuah pendalaman konsep hermeneutik yang tidak hanya mencakup pemahaman teks, melainkan menjangkau dasar-dasar eksistensial manusia. Keenam, hermeneutik sebagai sistem interpretasi definisi ini berasal dari Ricouer ini mengacu pada teori tentang aturan-aturan eksegesis dan mencakup dua dasar sistem, yakni pertama pemulihan makna sebagaimana dipraktikan dalam demitologisasi Bultmann, dan kedua, ikonoklasme atau demistifikasi sebagaimana dipraktikkan oleh Marx, Nietzsche, dan Freud. (Palmer dalam Hardiman 2015)

Schleiermacher Memahami sebagai Seni.

Hermeneutik modern berangkat dari pemikiran Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834). Ia mengembangkan hermeneutik sebagai instrumen untuk menangkap makna terhadap teks klasik seperti dalam disiplin ilmu filologi. Upaya yang dilakukan Schleiermacher adalah untuk menangkap makna asli dalam kesenjangan waktu antara pembaca dan penulis. Namun sebelum memasuki kerangka metodenya, alangkah lebih baik kita memahami terkait seni memahami itu sendiri.

Seni memahami merupakan metode dasar hermeneutika dalam pemikiran Schleiermacher. Memahami memiliki arti berbeda dengan pemahaman hal itu didasarkan pada istilah Jerman yaitu verstehen (memahami) dan Verstandnis (pemahaman). Pemahaman mengacu pada sebuah hasil dari memahami, sedangkan memahami dalam hermeneutik diartikan sebagai proses menangkap makna dibalik teks. Memahami sebagai upaya untuk menghilangkan kesalahpahaman (terutama antar manusia hidup di era modern yang penuh dengan keberagaman) antara subjek yang menarik pemahaman dari aktifitas kognitif mereka yang dangkal. Kesalahpahaman yang kerapkali terjadi menurutnya disebabkan oleh terjadinya prasangka sebelum melewati fase memahami yang ketat –manusia terkadang terlalu tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu; termasuk menarik kesimpulan atas makna dalam suatu teks (Alkitab, Al-Quran, dan naskah klasik lainnya).

Schleiermacher mengajukan dua motode pendekatan untuk menangkap makna dibalik teks. Pertama, pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung, dan kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada pendekatan psikologis-subjektif sang penggagas sendiri (Wijaya 2009).  Pendekatan pertama dia mengarah pada analisis bahasa dalam teks atau “Interpretasi Gramatis”  artinya memahami sebuah teks bertolak dari analisis bahasa hubungan kalimat-kalimat, serta keterkaitan teks dengan teks lainnya yang masih sejenis.  Sementara pendekatan psikologis merupakan upaya pembongkaran isi pikiran si penulis teks dalam konteks masa lampau itu, sehingga dengan mengetahui pikiran dibalik perasaan si penulis maka keotentikan  makna dalam teks dapat tercapai.

Schleiermacher menegaskan bahwa kedua pendekatan tersebut dilakukan secara bersamaan. Interpretasi gramatis tidak mendahului interpretasi psikologis begitu juga sebaliknya; hal ini berdasarkan keyakinannya bahwa untuk menangkap kepribadian penulis perlu dengan jeli menganalisis teks sedangkan untuk menangkap maksud pikiran penulis di dalam teks maka perlu mengetahui kondisi kepribadian si penulis, hal ini kemudian dikenal sebagai lingkaran hermeneutika Schleiermacher.

Dalam upaya menangkap hasil yang lebih mendalam dalam dua pendekatan tersebut Schleiermacher menganjurkan  bagi si penafsir untuk melampaui literalisme. Dalam hal ini penafsir harus memiliki minat yang besar untuk melihat kondisi zaman yang melingkupi si penulis, serta  fungsi “Kata” yang digunakan dalam teks pada kondisi zaman si penulis. Hal tersebut perlu dilakukan agar si penafsir mampu menangkap dengan benar apa yang dipikirkan oleh si penulis di dalam karyanya. Hardiman mencontohkan  untuk memahami isi tulisan kartini “Habis gelap terbitlah terang” maka penafsir harus mengerti terkait kondisi sosial, politik, ekonomi,dan lain-lainnya yang mempengaruhi mental si penulis. Penafsir jika mampu melihat kondisi tersebut dengan jeli maka tidak menutup kemungkinan pemahamannya akan lebih baik dari pada si penulis terkait kondisi pada waktu itu, sehingga dalam hal itu penafsir bisa menduduki posisi yang lebih baik daripada si penulis –karena ada kemungkinan penafsir bisa melihat hal-hal yang sebelumnya belum dipahami oleh si penulis.

Selain itu, penafsir harus memiliki kemampuan untuk melihat sejarah “Kata” yang digunakan si penulis dalam karyanya. Hal itu dikarenakan, makna kata pada kondisi si penulis berbeda dengan kondisi dimana si penafsir hidup –maksudnya kata dipengaruhi suatu konteks zaman tertentu –bahasa bisa mati, sehingga makna bahasa sulit untuk ditangkap sepenuhnya, sementara makna bahasa yang masih hidup juga sulit ditangkap sepenuhnya karena masih bisa berubah (Hardiman 2015).

Melampaui literalisme, seringkali orang yang membaca (pembaca belum tentu penafsir) suatu teks terjebak suatu nalar harfiah dalam teks tertentu tanpa melalui kegiatan tafsir yang ketat. Misal dalam kondisi abad 21 ini, banyaknya kasus teror (kekerasan) atas nama Agama menjadi salah satu fenomena sosial yang sangat menakutkan. Tragedi ekspansi perebutan wilayah yang dilakukan sekolompok islam fundementalis (ISIS) merupakan salah satu contoh akan hal itu. Dengan dalih membangun kekuasaan politik “Negara Islam” yang dijustifikasi melalui nilai-nilai sakral dalam agama; prilaku demikian sebetulnya diakibatkan prasangka terhadap teks (pemahaman yang kaku). Dalam hal ini Schleiermacher menegaskan agar kita tidak terjebak dalam kekakuan pemahaman diri kita terkait isi teks –kita harus meninjau kembali pada akar historis kondisi zaman dimana teks tersebut diturunkan dan memahami maksud dan tujuan teks tersebut dalam kondisi pada saat itu, karena ada sebagian isi teks dalam karangan tertentu (katakanlah kitab suci agama) tidak lepas dari kepentingan para penulis yang hidup di zaman tersebut. Terlebih apabila teks ingin dikonteks-kan pada keadaan saat ini maka diperlukan beberapa hal, yaitu: mengerti sebab dituliskannya teks tersebut pada zamannya, maksud dan tujuan dari teks tersebut, dan cara menghubungkan antara keotentikan teks dengan kondisi sekarang (sebagai transfomasi nilai teks bagi kehidupan).

Catatan kritis atas hermeneutika Schleiermacher

Metode hermeneutika Schleiermacher pada dasarnya ingin menghadirkan kembali keotentikan teks. Ia ingin menyalamatkan (rehabilitasi) teks dari pemahaman yang cenderung tergesa oleh para pembaca atau bahkan oleh para penafsir teks. Orientasi hermeneutiknya lebih pada pola diterminasi reproduktif atas teks; menawarkan kembali makna asali teks tersebut. Pun sedikitnya dia tidak pernah menyampaikan persoalan makna yang didapatkan dari hasil penafsiran –melalui interpretasi gramatis dan  interpretasi psikologis– untuk didialogkan dengan keadaan saat ini, seolah terlihat teks hanya sebagai benda sejarah yang layak dirawat dan dibersihkan dari nalar subjektif para penafsir, akibatnya teks seolah tidak memberikan jawaban atas sekelumit masalah yang sedang menimpa anak manusia post-modern ini.

Catatan lainnya yang perlu diperhatikan secara mendalam ialah over-optimis Schleiermacher bahwa penafsir bisa melebihi penulis dalam memahami kondisi zaman yang mempengaruhi penulis. Pendapat ini menurut saya pribadi terlalu berlebihan; penulis bagaimanapun merupakan subjek kesadaran yang berdialog langsung dengan kondisi kehidupannya tanpa dipisahkan oleh ruang dan waktu sehingga tidak ada batas yang memisahkan antara kesadaran dengan kondisi zaman. Sementara penafsir, berupaya masuk pada lalu lintas pemikiran si penulis melalui artefak sejarah lainnya (yang masih dianggap berhubungan) itu pun melalui jalan yang tidak terlibat langsung (terpisah oleh ruang dan waktu yang sangat tajam) dengan kondisi zaman pada saat itu. Alhasil penafsir tetap tidak bisa melampaui si penulis dalam memahami konstruksi sosial pada zaman dimana karya itu diciptakan.

Selain itu, alih-alih untuk merehabilitasi keotentikan makna teks dari nalar subjektif pengarang sangatlah tidak mungkin, kalaupun memungkinkan peluangnya sangat kecil sekali. Karena penafsir berangkat dari kesadaran atas zamannya sementara teks yang dihasilkan oleh si penulis merupakan hasil dialog antara kesadaran penulis dengan zaman yang ada padanya sehingga benturan pengetahuan tidak bisa dihindari, saya menaruh keyakinan disitu, penafsir tidak akan berhasil menghidupkan kembali keotentikan makna yang ditafsirnya. Karena bagaimanapun makna yang disimpulkan oleh penafsir merupakan hasil peleburan pengetahuan antara si penulis dan si penafsir itu sendiri. Hal-hal yang luput dari Scheleirmacher seperti orientasi teks untuk kehidupan manusia saat ini, serta benturan kesadaran penafsir dengan isi makna dalam teks dijawab kemudian oleh tokoh Hermeneutik lainya seperti Heidegger hermeneutik faktisitas dan Gadamer melalui metode Horizon (peleburan).

 

Bibliography

Hardiman, F.Budi. Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derida. Yogyakarta: kanisius, 2015.

Wijaya, Aksin. Teori Interpretasi Al-Qur’an Ibnu Rusyd Kritik Ideologis-Hermeneutis. Yogyakarta: LKIS, 2009.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here