Kamis malam, sekitar pukul 21.00 WIB, aku bersama 3 kawan akan pergi ke suatu pesta rakyat. Orang lokal Jogja menyebutnya Sekaten, info paling cepat yang dapat diambil saat kita menanyakan apa itu sekaten pada masyarakat adalah sebuah festival rakyat yang dilakukan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Sekaten dilakukan kurang lebih sebulan sebelum Maulid Nabi dan 10 hari selepas puncak perayaan maulid. Di sana ada banyak spot jajanan, pakaian dan wahana-wahana pemicu adrenalin murah-meriah. Namun bukan sekatennya yang ingin aku ceritakan di tulisan ini, tapi sepengal percakapanku dengan tiga kawan saat menuju ke sekaten.

Formasi saat berangkat ke sekaten adalah dua laki-laki dan dua perempuan. Kami berangkat mengunakan dua motor. Sebut saja nama teman-temanku adalah Ahmad, Dewi dan Eka. Saat berangkat, Aku membonceng Eka dan Ahmad membonceng Dewi. Kami menyusuri jalanan kota Jogja dengan kecepatan sedang. Kondisi lalu lintas kota Jogja cukup padat dan beberapa kali menemui titik macet ringan meskipun sudah pukul 21.00 WIB, terutama saat mendekati lampu lalu lintas. Dan saat menunggu lampu hijau di setiap perempatan, sering kali kita asik ngobrol ditenggah jalan. Aku ngobrol dengan Ahmad dan Dewi ngobrol dengan Eka.

Di salah satu perempatan, saat perbincangan kita semakin asik dan dibubuhi tawa kelakar di tengah jalan aku nyeletuk pada ketiga kawanku “Eh percakapan kita seperti DNA ya, Adenin (Aku) berinteraksi dengan Timin (Ahmad) dan Sitosin (Eka) berinteraksi dengan Guanin (Dewi)”. Setelahnya situasi hening, aku kira teman-teman tidak mengerti dengan metafora yang aku gunakan.

Kemudian Dewi menimpali “Please mas, aku sejak SMA sudah ambil jurusan sosial”. Berselang beberapa detik dewi meneruskan ucapannya “eh gak jadi mas. Kita gak boleh mengkotak-kotakkan ilmu seperti itu”.

Menurutku gagasan yang diutarakan Dewi sangat tepat. Pada awalnya dia merasa tidak mengerti istilah-istilah yang sering digunakan di studi ilmu alam, tapi dia langsung menolak ucapannya sendiri dengan memantapkan bahwa tak ada yang salah kalau anak yang belajar studi sosial juga mengerti istilah-istilah ilmu alam.

Dalam hati aku risau melihat kondisi kehidupan kita selama ini. Kehidan kita terlalu mengamini bahwa ilmu alam adalah lebih maha dari ilmu-ilmu yang lain. Siapa yang boleh sombong adalah mereka yang sedang studi di  kuliah ilmu alam. Aku juga heran, dalam dinamika mahasiswa, hanya mahasiswa ilmu alam dan turunannya yang boleh mengeluh dengan tugas-tugasnya yang (katanya) berat.  “Aduh laporanku akeh, sampek gak tidur”…”Ah Mbel!”

Coba saja teman-teman masuk ke rumah sakit. Apakah ada di antara kita yang mengerti atau berhasrat ingin tau tentang apa yang sebenarnya diomongkan oleh para dokter dan staf-staf rumah sakit. Sejauh pengamatannku, sebelum kita mau untuk mencari tahu apa yang dikatakan, ditulis dan dimaksud oleh para dokter-dokter itu, kita sudah terlebih dulu merendahkan diri dihadapan dokter-dokter. Kita menganggap otak kita tak akan sanggup memikirkan hal-ha yang sedang dipikirkan para dokter. Sungguh kebiasaan yang tak patut dibiasakan.

Di perkara yang lain, mari kita tarik contoh kendeng. Kongsi penguasa negeri ini yang ingin memakan hasil alam Jawa Tengah yang berujung dengan demo besar-besaran penolakan pabrik semen di Pati dan Rembang. Tentu kita masih ingat dengan apa yang diperkarakan, kondisi alam setelah adanya pabrik semen!. Lalu dari sekian banyak pendemo, siapakan ahli ilmu lingkungan yang terlibat disana? Nyaris tak terdengar gaungnya. Kenapa ini terjadi? Apakah para guru besar, profesor dan ahli ilmu lingkungan se-Jawa Tengah sedang sibuk sampai tak ada yang ikut memperjuangkan hal ini. Apakah ilmu sains yang mereka pelajari terlalu jauh dengan otak dan nurani masyarakat sehingga melupakan masyarakat yang membutuhkan advokasi dari mereka dengan penjelasan-penjelasan jujur nan ilmiah.

Ada hal lain yang perlu kita koreksi dari interasi kita dengan sains, yakni interaksi dengan tokoh-tokoh. Guru besar, profesor, doktor, master dan sarjana bukan hanya ada dibidang sains. Lalu kapan kita bisa berkomunikasi dengan mereka? Interaksi dengan guru besar ilmu antropoligi, psikologi, perbandingan agama, fisika, teknik kimia sampai kedokteran hewan?. Siapa diantara guru besar ini yang pernah turun dalam diskusi yang dihadiri oleh masyarakat umum?. Aku pun risau dengan hal ini, kenapa aku pernah berdiskusi dengan beberapa guru besar ilmu sejarah, antropologi sampai perbandingan agama. Tapi tak pernah berdiskusi dengan guru besar ilmu kimia yang digelar dengan masa dari masayrakat umum. Apakah suatu kejorokan maha dasyat membicarakan sains untuk masyarakat umum. Ataukah kita masih berkutat pada alibi bahwa masyarakat awam tak akan bisa dan mampu menerima penjelasan dari guru besar fisika.

Kenapa kita menganggap sains jadi sesuatu yang sangat jauh dan kenapa kita mempatri pemahaman dalam diri bahwa sains adalah ilmu yang sulit, matematika itu sulit, aku tak kuat mikir fisika, kimia itu rumit, biologi itu ilmu yang tak sembarangan bisa dipelajari orang sampai kedokteran yang otak kita sudah tunduk sebelum mau mencoba mengfikirkannya.

Dari sana, gubuktulis.com membuka sebuah jendela baru, yakni kolom sains. Dari sana mari kita bumikan ilmu pengetahuan. Mari kita semua membuat sains adalah ilmu yang dekat dengan masyarakat seperti dekatnya masyarakat dengan info naik-turunnya harga cabe. Karena aku meyakini, ilmu-ilmu yang dianggap angker selama ini bukan karena ilmunya yang sulit dipelajari, tapi ketidak mampuan para guru menyampaikan hal ini dengan lebih sederhana, menyenangkan dan nyambung dengan masyarakat umum. Atau jangan-jangan kita sudah kadong sombong, sehingga menganggap orang lain tak akan mampu mengerti ilmu-ilmu sains?.

Wallahu A’lam

Jogja, 10 Desember 2017

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here