PEMBANGUNAN KARAKTER DAN NILAI-NILAI KOMUNITAS BASIS [Bagian 1]

0
477
Harlah Gus Dur ke-77 yang diadakan GARUDA Malang (salah satu komunitas nilai) di kampung

Pendahuluan

Tiap komunitas basis secara natural dan kultural selalu berada dalam proses menjalani, memperbaiki, dan menemukan kembali karakternya dengan cara yang baru. Hal itu terjadi dalam negosiasi yang terus-menerus dengan perubahan-perubahan yang terjadi baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar komunitas itu. Dinamika perubahan yang berpengaruh dan dalam proses transformatifnya membentuk secara unik karakter sebuah komunitas itu, kadang berjalan dengan keras penuh konflik yang bisa berujung pada perpecahan, namun tak jarang juga berjalan dengan damai penuh kearifan dan bahkan memperkokoh kohesi sosial yang dimilikinya.

Salah satu dinamika paling memberi pengaruh pada sebuah komunitas basis adalah tersebarnya konsep ideologis dan yang apalagi tersosialisasi sebagai pilihan politis yang ditetapkan oleh penguasa di mana komunitas basis itu berada. Dinamika itu menjadi semakin intens memberi pengaruh jika memanfaatkan juga kekuatan kekuasaan ekonomis yang tak bisa dihindari oleh komunitas basis secara tegas dan transparan. Hal mana telah menjadi persoalan klasik antara konsep peniadaan komunitas basis di bawah dominasi negara bangsa dan realitas bahwa komunitas basis – yang ternyata tidak lagi hanya bisa dilihat berdasar etno-religius – mampu terbentuk dalam kesadaran dan sentimen kohesi sosial yang baru.[i]

Saya berasumsi bahwa salah satu unsur kekuatan – katakanlah misalnya – Pancasila sebagai rumusan dasar nilai-nilai yang diterima bersama adalah karena dia terbangun dari kesadaran kolektif karakter komunitas-komunitas basis yang (dipaksa oleh modernitas) membutuhkan ikatan ideologis bersama dalam membentuk komunitas yang lebih besar. Sekalipun nilai-nilai utama pembentuk karakter sebuah komunitas yang menjadi ke-khas-an sebuah komunitas tentu tidak tergantikan dengan adanya hal itu, namun sebagai sebuah kesadaran bersama, ia berada pada tempat yang sangat istimewa yang mau tidak mau memberi pengaruh penting bagi komunitas basis dan karakter yang terbangun di atasnya. Tulisan ini akan mencoba memperlihatkan bahwa perubahan paradigma terhadap makna komunitas itu diperlukan. Karena pada dasarnya sebuah komunitas selalu memiliki ruang transformasi[ii] nilai yang akhirnya menyebarkan karakter yang khas dan kuat bagi komunitas yang lebih besar – sebesar sebuah bangsa sekalipun.

Komunitas Basis dan Sistem Nilai

Karakter sebuah komunitas basis – entah itu yang berpondasi pada etnisitas tertentu, religiusitas tertentu, atau kesadaran pada tujuan bersama tertentu – awalnya terbangun dari kerumitan sistem nilai yang dimiliki tiap-tiap anggotanya, yang secara dinamis saling-silang bertransformasi di dalam komunitas, namun yang juga secara selektif berinteraksi dengan sistem nilai yang berasal dari luar komunitas tersebut. Karakter khas seperti ini kadang mudah tampak di permukaan, namun simbol-simbol dan pemaknaannya terkait erat dengan nilai-nilai yang mengarus utama di dalam komunitas. Apa yang tampak bisa dideskripsikan, yang tidak tampak perlu diinterpretasikan, selanjutnya tetaplah berada pada kesadaran para anggota komunitas basis itu. Baik komunitas yang berbasis etno-religius maupun komunitas yang berbasis pada tujuan-tujuan yang lebih pragmatis, pada akhirnya akan memperlihatkan kekuatannya dalam menentukan terhadap nilai-nilai bersama yang hendak dipilihnya dan dijadikan acuan untuk menentukan identitasnya[iii]. Dalam komunitas basislah terjadi perjumpaan dan penemuan terhadap nilai-nilai komunitas dan dalam perjumpaan itulah terbangun karakter komunitas.

Tiap orang memiliki nilai utama dalam dirinya yang sadar atau tidak menggerakkannya pada pilihan untuk tertuju pada apa yang paling dianggapnya tepat bagi hidupnya. Bisa dikatakan bahwa nilai-nilai adalah, segala sesuatu yang dipikir, dirasa, dan dilakukan, yang secara personal hal itu dianggap penting, berharga, bermakna, dan membahagiakan. Maka nilai utama adalah nilai diri yang paling menonjol dalam mengarahkan seseorang pada cara hidupnya. Nilai utama personal inilah yang akan selalu berjumpa dan berinteraksi dengan nilai utama yang dimiliki orang lain. Begitu seterusnya, hingga negosiasi nilai-nilai utama personal itu membentuk sebuah sistem nilai bersama dalam komunitas, menghasilkan karakter-karakter unik orang-orangnya, pun karakter komunitas tersebut.

Sebagai sebuah contoh, sistem nilai yang paling menonjol dalam banyak komunitas basis adalah gotong-royong. Melakukan pekerjaan secara bersama-sama dengan sukarela dan sukacita dengan tujuan utama tidak melulu menyelesaikan pekerjaan namun juga menikmati kebersamaan. Gotong royong adalah sistem nilai bersama di mana nilai-nilai personal seperti kebersamaan, kesukarelaan, sukacita, kerja, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan itu terakumulasi, bernegosiasi, dan terbentuk dalam transformasi yang unik. Jelas dalam situasi gotong-royong ada orang yang melihat nilai terpentingnya adalah jika pekerjaan bersama itu terselesaikan (nilai kerja dan hasil), namun tentu ada juga orang yang lebih menghargai kehadiran semua orang lebih besar daripada sekedar menyelesaikan pekerjaan (nilai kebersamaan). Begitulah kerumitan sistem nilai bekerja dalam sebuah komunitas dengan cara yang sangat khas. Mungkin ada kontestasi nilai, menganggap satu nilai utama lebih penting dari yang lain, namun karena nilai-nilai utama yang bersifat personal itu telah berada dalam frame sistem nilai bersama, maka gotong-royong dijalani sebagai sumber pengalaman bersama, tempat nilai utama personal berkorelasi dengan nilai utama orang lain. Gotong-royong dengan begitu tidak pernah bisa dilakukan personal, dia adalah tindakan, pemikiran dan pilihan komunal.

Saya membayangkan hampir yakin, beginilah dulu ketika Sukarno sering menyatakan bahwa gotong royong adalah inti dari Pancasila[iv] yang adalah karakter mendasar bagi rakyat yang merdeka. Dia memosisikan tiap ayat pancasila sebagai kumpulan sistim nilai yang tampak menonjol sudah ada dalam komunitas-komunitas basis di Indonesia, dan juga dalam perjumpaannya dengan sistem nilai yang sedang dibangun bersamaan dengan semangat tatanan dunia baru yang terjadi secara internasional. Gelora sistem nilai yang menguat seperti itulah yang sebenarnya menjadi dasar terjadinya perubahan sosial baik yang terjadi secara evolusioner maupun secara revolusioner. Sistem nilai personal dipertaruhkan dalam semangat bersama, demi mencapai sebuah tujuan bersama yang lebih utama dan dianggap memiliki keagungan melebihi nilai komunitas. Namun zaman bergulir, mau tidak mau, semangat membara yang berangkat dari sistem nilai komunitas itu, mengharuskannya berbentuk formal terorganisir dan terlembagakan demi efektivitas dan percepatan perubahan sosial yang dikehendaki bersama. Inilah godaan terbesarnya.

Maka pada saat sebuah sistem nilai masuk dalam gelora sistem politik tertentu, sebagaimana seringkali tampak dalam semangat agama-agama tertentu berusaha melakukan pengkaplingan sebagai yang paling absah menawarkan sistem nilainya agar dijadikan arus utama dalam penyelenggaraan negara, saat itulah sebuah sistem nilai menemui tantangan terbesarnya. Bagi saya, inilah tantangan terbesar yang selama ini menjadi benang kusut bagi terbangunnya secara komprehensif karakter berbangsa. Sistem nilai itu tersedia, namun menjadi tidak beroperasi sepenuhnya di tengah-tengah masyarakat, terutama karena mudah menjadi alat politik bagi kekuasaan. Jadi, tantangan yang berkaitan dengan upaya mengidentifikasi dan selanjutnya membangun karakter bagi sebuah komunitas sebesar sebuah bangsa terletak pada perubahan paradigma tentang apa dan bagaimananya sebuah komunitas dengan keseluruhan nilai-nilai utamanya mampu bertransformasi dalam perubahan jamannya.

 

[i] Robert W. Hefner (ed.), Politik Multikulturalisme; Menggugat Realitas Kebangsaan, Kanisius-impulse, Yogyakarta, 2007. Dalam pendahuluan editorialnya Hefner melihat problematika klasik teoritik antara perlunya “pemangkasan solidaritas ethnoreligius” dalam bangunan sebuah karakter bangsa yang mampu menjamin demokrasi dan perdamaian sipil sebagaimana konsepsi Huntington, dengan pendekatan yang dilakukan Juergensemeyer yang melihat bahwa mobilitas manusia yang telah melintasi batas-batas bangsa justru sebaliknya; terjadinya kemunculan lagi sentimen etnoreligius.

[ii] Peter Block, Community; The Structure of Belonging, Berrett-KoehlerPublishing, San Francisco, 2008.

[iii] Santiago Zabala (ed.), Richard Rorty and Gianni Vattimo; The Future of Religion, Columbia University Press, New York, 2005.

[iv] Herbert Feith & Lance Castles, Indonesian Political Thinking 1945-1965, Cornel University Press, Ithaca-London, 1970.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here