Beberapa bulan terakhir ini, istilah perebut laki orang atau as known as pelakor kembali tenar kembali. Istilah ini terus mencuat sejalan dengan perilaku selebriti-selebriti perempuan yang tiba-tiba naik daun karena dianggap merebut suami orang. Semuanya tentu berkat akun instargarm lambe turah.

Istilah pelakor tentu saja memiliki konotasi yang negatif, ada kata “perebut” didalamnya. Perebut adalah kata yang bermakna tidak baik, sehingga pelakunya kerap kali mendapatkan pelabelan negatif. Masyarakat terus memakai istilah tersebut jika terdapat hubungan yang rusak karena orang ketiga dan istilah ini hanya ditujukan kepada perempuan. Uniknya, pelabelan pada pelakor juga dalam rangka mendukung dan menguatkan korban dari pelakor.

Peristiwa inilah yang dinamakan anti misoginis misoginis club. Istilah anti-club ini awalnya dipopulerkan oleh salah satu clothing indie yang memakai istilah anti social social club sebagai brandnya. Jika anda sulit memahaminya, berarti anda terditeksi sebagai generasi jaman old. Sedangkan misoginis sendiri  adalah perilaku menyalahkan perempuan karena dia adalah perempuan.

Biar kekinian, let me show you how to understand this term. Seperti anti kapitalis kapitalis club misalnya, dia adalah orang yang sukanya baca das capital berjilid-jilid, demo depan gedung DPR memperjuangkan hak-hak buruh, tapi demonya sambil pakai jaket Adidas, topi Ripcurl, dan sepatu Nike. Seusai demo minumnya di Starcbucks dong siss hihi.

Pelakor menjadi istilah anti misogis :

Melindungi dan mendukung perempuan korban pelakor

Kebanyakan masyarakat akan mendukung korban dari pelakor, mudah saja untuk membuktikannya. Akun instagram Maia Estianti selalu lebih banyak mendapat komentar positif disetiap postingannya. Sebaliknya, jangan harap menemukan komentar positif di akun instagram milik Mulan Jameela, isinya orang-orang adu mulut dan kata-kata sampah.

Membuat pelakor jera

Istilah pelakor disematkan beserta stigma-stigma negatif yang mengikutinya untuk melabeli perempuan ketiga didalam hubungan. Hal ini dilakukan untuk membuat pelakor jera. Bak pelaku pemerkosaan yang harus mendapat sanksi sosial yang setimpal atas dosa besar yang dilakukannya agar tidak mengulanginya kembali.

Mencegah munculnya pelakor-pelakor lain

Seperti maling, penuduhan atas dirinya sebagai maling harus terus disematkan agar dirinya malu dan segera mendapat cibiran serta sanksi-sanksi masyarakat. Masyarakat setidaknya akan mengambil pelajaran dari hal ini, yakni untuk tidak menjadi seorang maling

Pelakor menjadi istilah misoginis club :

Laki-laki hampir tidak pernah disalahkan atas penyebab rusaknya hubungan

Enak betul jadi laki-laki, dirinya hampir tidak mendapat stigma negatif dari masyarakat. Jika laki-laki mendapat stigma itupun tak bertahan lama. Padahal logikanya, tamu tidak akan bisa masuk ke rumah jika tuan rumah tidak membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Begitu juga dengan suatu hubungan, tidak akan ada pelakor jika sang lelaki tak membukakan kesempatan. Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku, tetapi karena ada kesempatan. Begitu kata slogan acara berita di salah satu TV.

Tubuh perempuan dicibir habis-habisan, lelaki? Tidak.

Setiap ada pelakor disitulah ada cibiran-cibiran terkait segala hal yang menyangkut tubuh si pelakor which is dia adalah perempuan. Mudah saja untuk menelisik hal ini, silahkan gunakan akun instagram anda untuk membuka instagram akun Ayu Ting-Ting, salami komentar demi komentarnya disetiap foto. Seperti komentar-komentar  ini misalnya “sok cantik ketek item”, “uuh gayanya!! Padahal badan kurus banget (emote eek)”. Selain itu, media selalu saja menyoroti berita tentang ketubuhan pelakor seperti perawatan tubuhnya apa, tasnya merk apa, dll.

Laki-laki penggaet pelakor tidak ikut di bully

Bebasnya era media sosial saat ini membuat setiap orang juga bebas berkomentar dengan gaya apapun dan dimanapun apalagi pada akun-akun sosial media si pelakor. Pelakor selalu mendapat makian dan hujatan, tak jarang pelakor juga memiliki akun-akun haters buatan nitizen yang didalamnya khusus membahas kejelekan pelakor, membully pelakor, dan tempat berkumpulnya haters-haters pelakor. Lalu bagaimana nasib laki-laki penggaet pelakor? Coba dilihat sendiri di akun instagram Faisal Harris, Achmad Dani, dan Rafi Ahmad. Media selalu menyoroti pelakor saja, beritanya selalu tentang si pelakor, mengapa media absen untuk menyoroti perilaku sang laki-laki penggaet pelakor?

Istilah “pelakor” adalah istilah remeh yang secara tidak langsung mendiskriminasi perempuan dengan perempuan itu sendiri sebagai alatnya. Perempuan lain ramai-ramai menyerang pelakor, padahal pelakor juga perempuan. Dalam hal ini mengapa masyarakat kita hobby membully perempuan dibanding laki-lakinya? Kemudian, perlukah istilah untuk laki-laki seperti halnya pelakor? Silahkan dijawab sendiri-sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here