Musik, sebagai salah satu karya seni selalu menjadi instrumen yang diperdengarkan setiap hari, mulai bangun tidur sampai menjelang tidur. Nilai sebuah musik tidak pada berapa besar harga kepingan kaset atau berapa banyak yang terjual. Nilai sebuah musik itu pada seberapa besar esensi atau pesan yang dapat memberikan energi positif bagi orang banyak, sebagaimana lagu Indonesia Raya, karya WR Supratman.

WR Supratman alias Wage hanyalah komponis atau pemain biola biasa, dari warung kopi ke warung kopi. Kebiasaan Wage bermain musik membawanya kepada kekejaman kolonial yang semakin menindas rakyat. Penindasan demi penindasan ia terima dengan gaji yang tak seberapa, demi memanjakan gaya hidup kompeni yang serba hura-hura. Dari itulah, Wage memilih menjadi wartawan, dengan tetap bermusik, dan terlibat dalam pergerakan pemuda era pra kemerdekaan.

Kisah WR Supratman dinarasikan dua jam dalam film Wage yang diproduseri Opshid media, yang perdana tayang di layar lebar November lalu. Kali ini dengan format yang lebih merakyat, Wage berhasil diputar di home theater UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat, 9 Maret 2018. Pemutaran film Wage berkat kerja sama tim Liberasi, di antaranya Gubuk Tulis, Srawung Media, Opshid Media dan LPMA Humaniora UIN Malang.

Acara minggu lalu tidak hanya Nonton Bareng (Nobar) film Wage, akan tetapi ada pertunjukan musik dan diskusi. Pertunjukan musik diisi oleh mas Uchi, Beni dan Iksan Skuter. Sedangkan diskusi film Wage dibahas oleh Iksan Skuter selaku musisi, Kristanto Budiprabowo selaku budayawan dan Ivan Nugroho selaku direktur Opshid Media.

Wage telah berhasil mengajak dan menghipnotis para undangan, dari lintas kota. Berbagai peserta hadir dari latar belakang yang beragam, di antaranya ada dosen, mahasiswa, wartawan, seniman, budayawan hingga pelajar SMA. Dua jam nobar, ditambah satu jam setengah diskusi, peserta berhasil memadati ruangan dengan penuh riang gembira.

saat menyanyikan lagu Indonesia Raya
suasana Nobar film Wage

Setelah dua jam nobar, diskusi pun dimulai oleh Zidni R Chaniago. Pandangan pertama disampaikan oleh Tatok. Ia menilai film Wage menantang kita, apakah kita bisa seberani itu melihat kejernihan sebuah seni di era yang seperti ini?

Selanjutnya disambung oleh Iksan, musisi yang dikenal bertopi berbintang merah satu itu. Iksan mengatakan bahwa mengapa sebuah karya baik musik, film, video dan lain- lain yang berbobot justru tidak diminati oleh orang banyak? Seolah- olah semua karya tematik yang ada saat ini mengarahkan kita pada sebuah hal yang monoton, tanpa esensi.

“Sebuah karya harusnya bisa menggerakkan, seperti yang dilakukan Wage dengan karya dalam hidupnya.  Sedangkan saat ini karya terutama musik hanya membahas hal-hal yang monoton seperti kisah cinta. Andai semua seniman sadar akan kekuatan sebuah karya, bahwa karya sanggup menjadi sebuah penggerak yang menakutkan penguasa atas ketidakadilan,” tambah Iksan Skuter.

Ivan menyampaikan bahwa Opshid media sengaja membuat film yang temanya tidak diminati oleh kids jaman now, yaitu membahas mengenai sejarah. Wage mempelajari musik dari kakak iparnya yang bernama Sostromiharjo, dan untuk menyusun lirik, wage mempelajari dari seorang guru spiritualnya yang setelah ditelusuri adalah kakak kandung dari RA Kartini, Sostrokartono.

Diskusi berlanjut pada sesi tanya jawab dan penyampaian pandangan atas film. Beberapa pertanyan di antaranya menanyakan esensi dan tujuan memproduksi film Wage, pendapat Iksan tentang musik bukan suatu hal yang menghasilkan materi, ending yang kurang greget, kondisi Indonesia lalu dan kini dan jati diri bangsa. Pertanyaan terakhir dari Kristi, siswi SMAN Tugu, ia menanyakan tentang wujud apresiasi setelah mendengarkan lagu Indonesia Raya.

Pertanyaan-pertanyaan itu dibahas langsung oleh narasumber dan peserta lainnya. Ivan menanggapinya dengan menjelaskan proses produksi film. Opshid media merupakan media produksi film yang  berasal dari sebuah pesantren di Jombang, ponpes Shiddiqiyah, di mana dalam ponpes tersebut sangat menekankan makna ‘Hubbul Wathon Minal Iman’ yakni mencintai tanah air adalah sebagian dari iman. Kemudian muncul sebuah pertanyaan ‘apa yang bisa kami, atau opshid media berikan untuk Indonesia?’ lalu terjawab dengan sebuah  ide, yakni memproduksi sebuah film tentang sosok WR Supratman yang dapat mempersatukan seluruh bangsa Indonesia melalui lagu ‘Indonesia Raya’. “Selama produksi kami benar-benar menggunakan biaya pribadi,” tambah direktur Opshid.

Ivan menyampaikan pula tentang literasi film. Dalam memproduksi film ini, banyak materi yang didapat, dari 7 buku dan observasi selama 1 tahun 15 hari dan disusun menjadi sebuah naskah yang apabila dijadikan film akan berdurasi lebih dari 5 jam, sedangkan untuk bisa di tayangkan di studio 21, film maksimal berdurasi 120 menit atau 2 jam. Sehingga mau tidak mau harus dipersingkat, kemudian setelah dipersingkat film tersebut masih  berjumlah 90 scene yang apabila difilmkan akan berdurasi 3,5 jam. Atas dasar tersebut, maka kami menyajikan film Wage penuh dengan simbol-simbol dan makna yang tersimpan, ada juga yang berpendapat bahwa film Wage ini bukan film biasa tetapi film yang penuh dengan makna sufistik. Bahwa Wage adalah orang desa namun memiliki pemikiran genius dan cemerlang.

Bagian yang indah dalam film ini selain simbol simbol yang penuh makna adalah sejarah. Contohnya seperti saat Wage sedang bersepeda dengan teman temannya, dalam scene tersebut dapat dipahami bahwa penjajahan di Indonesia oleh Belanda bukan hanya permasalahan Indonesia dengan Belanda saja, namun juga politik internasional tentang bagaimana Eropa mendesak Belanda untuk menggenjot produksi yang dilakukan di tempat jajahannya. Wage menunjukkan kepada kita sebuah realita tentang bagaimana Indonesia merdeka yang sebenarnya, maka dari itu mengapa film tersebut dibuat seperti kurang greget atau nanggung yakni supaya penonton sadar dan memiliki greget bahwa Indonesia memang belum merdeka seutuhnya, dan masih perlu diperjuangkan bersama.

Soal musik dan materi, Iksan menimpalinya dengan pernyataan bahwa musik adalah ibadah bagi seorang musisi, berkesenian tidak melulu tentang eksistensi dan materi.

Dalam diskursus lainnya, Iksan menambahkan bahwa kita semua harus bisa menemukan siapa kita, ‘lek koen singo yo gumbulo singo, ojo gumbul kelinci’. Semakin lama kita semakin tidak sadar bahwa kita sedang dijajah. Bangsa Indonesia harusnya sadar ‘siapa kita’. Salah satu media yang dapat menyadarkan adalah musik, namun nyatanya musik yang diminati justru musik yang membahas percintaan, maka perlu ada karya lain yang sanggup mengimbangi untuk membangun kesadaran.

“Hal yang seharusnya kita tawarkan adalah solusi dan solusi, seperti halnya saya, yang dapat saya berikan untuk Indonesia adalah menghasilkan sebuah karya. Bentuk pembuatan film ini merupakan suatu solusi yang sangat mengagumkan. Sedangkan kita sedang terjebak dengan cara apresiasi yang saklek, padahal cara mengapresiasi yang baik sebenarnya sangat beragam. Disebabkan oleh lagu ‘Indonesia Raya’ kita dapat bersatu dengan tanpa menanyakan warna kulit, warna rambut, dan keturunan. Kita seperti sedang tidak adil dalam mengapresiasi, banyak film yang diproduksi menggunakan pemeran yang cantik dan ganteng padahal hal tersebut bukan sebuah keharusan,” tambah Iksan.

Tatok menambahkan bahwa dalam film tersebut Wage sangat menghormati dan menjunjung tinggi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terhormat, merdeka dengan cara yang terhormat. Persoalan kita saat ini adalah banyak orang yang belum berhasil menjadi apresiator yang baik, apresiasi kita banyak diatur oleh materi dan rasa gengsi. Dalam film tersebut digambarkan bahwa Indonesia dirintis oleh seorang apresiator yang baik, sedangkan pada jaman sekarang justru kemampuan mengapresiasi semakin menurun.

Selain itu, Tatok menanggapi pertanyaan Kristi tentang wujud apresiasi Indonesia Raya. Berdiri dengan tegak dan menghadap ke depan dengan tanpa bertepuk tangan setelah menyanyikan adalah bentuk penghargaan terhadap lagu Indonesia Raya, itu sah saja. Akan tetapi, apabila apresiasi atas lagu Indonesia Raya disamakan seluruh sekolah, budaya seperti itu akan terkesan monoton dan membosankan. Kita bisa mengapresiasi Indonesia Raya dengan cara yang berbeda.

Di tengah penyampaian pembahas, Abdi Purnomo selaku wartawan senior Tempo menyampaikan bahwa perspektif yang tidak disinggung dalam film tersebut adalah dalam perjuangan Republik Indonesia. WR supratkan merupakan founding father Indonesia yang berilmu dari orang Belanda, yang kemudian berubah menjadi nasionalis. Ketiak masuk menjadi wartawan, itu merupakan strategi WR Supratman untuk dapat menyebarkan idenya lebih luas melalui media cetak. Pendiri-pendiri Republik Indonesia sebenarnya merupakan para wartawan dan komunis yang kemudian muncul jiwa nasionalis. Mereka menjadikan literasi sebagai strategi untuk menyebarluaskan ide ide nasionalisnya.

“Film tersebut merefleksikan kondisi jaman sekarang, contohnya mengenai hoax. Bahwa, lirik lagu Indonesia Raya pertama kali ditulis di koran Sin Po, milik masyarakat Tionghoa. Akan tetapi seberapa besar negara ini mengapresiasi mereka sebagai warga negara yang turut memperjuangkan kemerdekaan, hingga bangsa ini sulit memverifikasi kebenaran sejarahnya sendiri,” tambah Abdi dengan penuh semangat.

Akhirnya, nobar dan diskusi film Wage ditutup oleh Iksan Skuter dengan menyanyikan lagu yang dibuatnya awal 2016, yang berjudul Shankara;

kisah tanah indah
yang bertabur cahaya surya
biru luas samudera
berderet gunung teduh dan anggun

bangunlah jiwanya
bangunlah raganya
kesedihan sirna
semua bahagia

tak ada di dunia
negeri yang seperti ini
aku lahir hidup dan mati
di negeri terindah di bumi
beruntunglah aku berada di sini

panas yang tak terik, air hujan sayup berbisik
desir daun-daun menemani datangnya sunyi
bangunlah jiwanya, bangunlah raganya
kesedihan sirna, semua bahagia

tak ada di dunia negeri yang seperti ini
aku lahir hidup dan mati di negeri terindah di bumi
beruntunglah aku berada di sini

*Penulis: Nila Zuhriah/ Al Muiz Liddinillah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here