“Para pemuda mengalami perubahan persepsi seiring arus modernisasi sehingga menjadi petani tidak lagi menjadi pilihan mereka. Padahal Indonesia membutuhkan petani-petani yang produktif untuk memaksimalkan produksi pangan, terutama karena Indonesia adalah negara agraris.”

Menyambung dengan permasalahan yang telah disinggung di episode pertama berkenaan diskursus polemik petani dan mahasiswa yang keluar dari koridor penjurusan, maka hal yang dapat di diskusikan yakni pertama berkenaan tentang faktor perampasan ruang produksi pertanian. Faktor krisis regenerasi petani diakibatkan oleh banyak hal, salah satunya ialah perampasan ruang produksi. Jika merujuk pada Das Kapital pertama yang bertajuk kritik pada ekonomi politik, bagian kedelapan terkait akumulasi primitif. Secara kompleks Marx menjabarkan jika masifnya akumulasi kapital, juga turut dipengaruhi oleh yang namanya akumulasi primitif. Dalam keumuman akumulasi primitif menurut Marx merupakan pemisahan alat produksi dari produsen independen untuk dimonopoli oleh pemilik modal, dalam hal ini korporasi yang mengambil tanah-tanah milik petani.

Rahasia akumulasi primitif ini didasarkan pada perubahan struktur komoditas, di mana tanah yang awalnya dimiliki perorangan atau kolektif, kemudian dikuasai oleh satu atau beberapa orang yang secara rakus memonopoli lahan. Akibatnya banyak pemilik lahan sebelumnya tidak memiliki alat produksi, menjadikan mereka akhirnya bekerja di lahan yang awalnya dimiliki, namun lahan tersebut sudah tidak menjadi alat produksi mereka lagi. Para petani ini kemudian hanya menjual tenaganya, mengalami alienasi dari alat produksinya yang kemudian sangat tergantung dengan pemilik modal.

Mereka tak punya kuasa atas barang produksinya, diambil waktu kerja dan luangnya hal inilah yang dinamakan nilai lebih. Sederhananya suatu komoditas memiliki nilai pakai dan nilai tukar, namun dalam praktiknya tidak seimbang. Ada penghisapan dari proses tersebut, dimana barang yang dihasilkan memiliki nilai tukar, namun terpisah dari pembuatnya karena pemilik modal telah membeli tenaganya. Sehingga penentuan jumlah produksi, harga, sampai keuntungan adalah pemilik modal yang mengatur, tidak proporsionalnya kondisi tersebutlah yang dinamakan nilai lebih. Situasi ini dinamakan proletarisasi, sebagai implikasi dari perampasan ruang produksi petani.

Situasi ini sebagai gambaran awal betapa kompleksnya perampasan ruang hidup, khususnya bila berkaca menurunnya generasi petani di Indonesia. Bukan tanpa sebab, karena lahan yang menyempit mengakibatkan banyak masyarakat tidak punya pilihan lain, selain menjadi pekerja di tanah yang awalnya mereka miliki. Lahan merupakan komoditas penting, karena merupakan ruang vital untukĀ  berproduksi. Meminjam pemikiran Lefebvre dalam The Production of Space, bahwa lahan merupakan lokus produksi guna melancarkan proses akumulasi. Maka, kebutuhan akan ruang itu penting untuk menunjang produksi, guna melancarkan sirkulasi konsumsi yang telah dikonstruksikan oleh pasar.

Ruang berproduksi yang merupakan cakupan tempat berproduksi dan reproduksi, lokasi khusus dan meletakkan karakteristik dari formasi sosial masing-masing. Tempat berpraktik yang menjamin keberlanjutan dan beberapa derajat kohesi (keterpaduan unsur). Pada intinya ruang adalah memiliki nilai sosial, memberikan relasi kuat antara ruang dengan manusia yang menempatinya. Jika ini dipisahkan maka akan merampas ruang-ruang hidup sebagai basis ekonomi, sosial dan budaya. Implikasinya dapat dilihat dalam realitas sekarang, mulai dari proletarisasi, terbentuknya sektor informal hingga mulai menurunnya jumlah petani.

Kondisi di atas relevan dengan menurunnya jumlah petani, terutama diakibatkan hilangnya lahan pertanian secara masif dan terstruktur. Sebagai catatan menurut kementerian ATR/BPN ada sekitar 150.000-200.000 hektar lahan yang beralih fungsi, baik menjadi industri, perumahan bahkan infrastruktur. Pada konteks Jatim tercatat selama empat tahun, dalam rentang waktu 2013-2017 terdapat 4400 hektar lahan hilang, jika dirata-rata maka ada sekitar 1100 hektar lahan yang hilang per tahunnya.

Transformasi Perspektif Dampak Dari Perampasan Ruang

Karena situasi yang semakin pelik dan mengkhawatirkan, ruang pertanian yang hilang perlahan mengakibatkan perubahan paradigma masyarakat. Dari awal yang berbudaya agraris, kemudian lebih condong ke pragmatisme. Memang secara aktual rata-rata petani berpendidikan setingkat Sekolah Dasar terutama dalam usia 30 ke atas, sebagaimana riset dari KRKP. Berakibat pada stigma mengenai buruknya profesi petani, dan di level pembuat kebijakan sering menggunakan akademisi untuk membuat legitimasi perampasan lahan. Karena menganggap mereka tidak paham, bahkan dianggap buta terkait situasi ekonomi terkini.

Secara psikologis, asumsi dasar yang dapat dijadikan dasar diskusi adalah mengenai transmisi budaya yang terhenti. Situasi eksternal terutama lingkungan sosial dan kondisi ekonomi politik, turut mempengaruhi kondisi tersebut. Dalam konteks hegemoni modernitas yang dilegitimasi oleh institusi pendidikan, mengakibatkan stigma akan pertanian begitu merisaukan. Pada konteks petani pangan sekitar 42% orang mengaku pertanian itu buruk. Di sektor hortikultura sebanyak 66.7 % mengatakan pertanian jenis ini pun juga buruk. Selain problem lahan yang mengalami konversi, juga turut diakibatkan konjungtur pasar pertanian yang fluktuaktif.

Padahal Global World Economic Forum pada 2010 mencatat bahwa 40% lapangan pekerjaan, tersedia di sektor pertanian. Mayoritas penyumbang terbesar lapangan pekerjaan berada di sektor pertanian. Namun tampak pemerintah abai dengan situasi ini, bahkan kondisi ini didukung oleh otoritas intelektual yang menambah panjang problematika “kedaulatan pangan.” Semisal tidak adanya institusi pendidikan yang secara kritis menyikapi problem agraria, bahkan tendensius menjadi intelektual tradisional yang turut mempertahakan struktur kuasa, demi menjaga status quo yang telah dicipta.

Sebagai penutup penulis mencoba mendekonstruksi pemikiran mereka yang masih konservatif, terutama para akademisi dan intelektual imbisil yang mengatakan profesi petani tidaklah bagus. Bahkan, mengatakan bahwa tugas intelektual itu netral, namun digunakan sebagai alat perampasan hak asasi manusia terutama hak hidup. Tanpa dosa mereka menjadi aktor perampasan ruang hidup dan biang kerok terancamnya kedaulatan pangan, serta turut menciptakan krisis sosial-ekologis.

Mengutip peneliti LIPI Haning Romdiati (5 Oktober 2015. Minat Bertani Generasi Muda Menurun, Indonesia Terancam Krisis Petani. Lipi.go.id): “Para pemuda mengalami perubahan persepsi seiring arus modernisasi sehingga menjadi petani tidak lagi menjadi pilihan mereka. Padahal Indonesia membutuhkan petani-petani yang produktif untuk memaksimalkan produksi pangan, terutama karena Indonesia adalah negara agraris.”

Tentu sangat miris sekali, apalagi sekaliber rektor atau professor yang wilayahnya tengah terancam krisis. Tentu hal tersebut tidak substansial, kita bisa menilai bagaimana keberpihakan akademisi terhadal situasi sekarang. Di mana perampasan ruang produksi pertanian, turut korelasional dengan menurunnya generasi petani dan barang tentu menjadi salah satu faktor masifnya konflik agraria. Kondisi itu juga turut mengakibatkan kerusakan keseimbangan lingkungan hidup multidimensional, yang jamak dikenal dengan krisis sosial-ekologis.

1 COMMENT

  1. mantap mas memang pemuda saat ini sangat sedikit yang mempunyai minat untuk menjadi petani setelah lulus kuliah karena banyak yang beranggapan bahwa ngapain sekolah tinggi tinggi kalo cuma buat jadi petani. selain itu juga faktor lain seperti kepemilikan lahan pertanian di indonesia saat ini semakin kecil serta tidak adanya jaminan oleh pemerintah, sehingga itu semua yang membuat pesimis para generasi muda untuk mau menjadi petani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here