Pada tahun 2017 lalu saya berkesempatan berkuliah di Jepang dengan beasiswa Japan Student Services Organization (JASSO) untuk mahasiswa S2 dan S3 dari beberapa universitas di ASEAN. Kurang lebih kuliah berlangsung selama satu semester di Universitas Tsukuba program studi Ilmu Bioindustri,  berjarak sekitar satu jam perjalanan dari ibu kota, Tokyo. Penduduk Jepang mayoritas memeluk kepercayaan Shinto dan Budha, sedangkan kepercayaan minoritas adalah Kristen, Hindu, Sikh, Jain, Yahudi, Islam maupun kepercayaan-kepercayaan  yang lain. Sehingga menurut saya penduduk Jepang masih asing dengan muslim yang sebagian besar imigran dari negara-negara mayoritas islam.

Selama di Jepang saya lebih menyukai bepergian sendiri dan menggunakan transportasi umum. Suatu saat saya harus mengunjungi teman saya di kota Ibaraki membutuhkan sekitar 2 jam perjalanan dari Tsukuba dengan 3 kali berpindah bus. Ada saatnya bus berhenti di dekat sekolah setingkat SMP maupun SMA, para siswa memenuhi bus hingga banyak yang berdiri. Saat itu ada satu tempat kosong yaitu di samping saya duduk, karena saat itu saya duduk di bangku dengan kapasitas dua orang, namun mereka lebih memilih berdiri.

Kejadian semacam itu sering terulang saat saya menggunakan bus dari asrama menuju tempat kuliah di luar area kampus. Selain itu, saya sempat kaget saat tangan saya dipukul oleh seorang bapak mungkin karena dinilai menghalangi saat ia ingin berdiri dari bangkunya untuk turun dari bus karena saat itu saya sedang berdiri di depannya memegang handle yang disediakan untuk penumpang yang berdiri.

Permasalan warga Jepang terhadap cara pandang mereka terhadap muslim juga disampaikan oleh Sensei saya (sapaan guru dalam bahasa Jepang) bahwa banyak mahasiswa undergraduate (S1) asal Jepang saat mengikuti pertukaran pelajar di negara mayoritas muslim merasa tidak nyaman. Khususnya ketika mahasiswa muslim menolak berjabat tangan dengan mereka yang berlawanan jenis.

Sensei bercerita bahwa ia tidak menyukai sikap unpolite atau sikap tidak sopan mereka terhadap mahasiswa muslim. Ia mengajak saya untuk bercerita tentang kehidupan muslim kepada mahasiswa Jepang, namun sayangnya rencana tersebut dibatalkan. Menurut Youtuber Find Your Love in Japan di video Is Islam Islamophobic? |Can Japan Accept Muslims? Warga Jepang tidak membenci kaum muslim yang berada di Jepang, namun lebih tepatnya takut karena terorisme yang mayoritas dilakukan oleh orang-orang muslim di Amerika dan Eropa.

Laras Putri Wigati saat di Jepang

Tidak semua warga Jepang memperlakukan saya demikian, sangat banyak warga Jepang yang ramah kepada saya. Pernah saat saya dan teman Malaysia di stasiun Tokyo seorang pemuda menghampiri kami untuk menawarkan bantuan, ia mengira kami tersesat padahal tidak. Pernah saya tidak sengaja menepis tangan seorang ibu tua di bus, saya membungkuk dan meminta maaf dan ia bilang tidak apa-apa sambil tersenyum ramah. Seorang bapak manager asrama yang menghampiri saya dan membantu mempompa ban saat melihat saya kebingungan karena ban sepeda saya kempes, atau seorang bapak tua yang menambal ban sepeda saya saat bocor dan mengantar saya hingga keluar bengkel. Selama di Jepang petugas yang bekerja di tempat-tempat umum seperti toko pakaian, kantor pos, bank, minimarket sangat baik dalam pelayanan terhadap konsumen.

Ada saatnya saya dan teman-teman bepergian ke tempat wisata maupun pusat perbelanjaan, saat waktu sholat tiba saya dan teman dari Malaysia memilih fitting room di toko pakaian, atau di nursery room untuk melakukan sholat, karena meditation room sangat jarang ada di tempat-tempat umum, namun ruangan tersebut sudah tersedia di Bandar udara Narita. Jika sedang di kampus, sholat bisa dilakukan di dalam kelas atau ruang kosong. Sebagian kota di Jepang kadang memiliki masjid namun tidak terlalu besar, begitu pula di Tsukuba memiliki satu masjid. Saat ini mahasiswa dan penduduk muslim di beberapa kota di Jepang sedang aktif memperjuangkan pengembangan masjid-masjid di Jepang dengan mengajak dukungan pemerintah Jepang di masing-masing kota.

Dalam urusan menunaikan kewajiban sebagai muslim seperti sholat, maupun memilih makanan yang relatif aman untuk muslim saya sangat terbantu oleh dua teman Malaysia. Karena hanya saya mahasiswa asal Indonesia yang mengikuti program tersebut. Saat kami memiliki kelas sore yang dimulai dari pukul 15.00-18.00 kami akan meminta izin kepada sensei untuk keluar kelas agar kami dapat menunaikan sholat karena waktu Maghrib masuk sekitar pukul 16.28 dan isya sekitar pukul 17:50. Sensei memberikan izin kepada kami dan kelas berhenti sementara.

Selanjutnya kelas dimulai kembali saat sensei memastikan bahwa kami telah kembali ke kelas. Saat akan ada kunjungan industri ke sebuah industri Sake (minuman beralkohol tradisional Jepang dari beras yang difermentasi) sensei meminta persetujuan kami terlebih dahulu sebelum kegiatan itu diumumkan kepada teman-teman yang lain.

Untuk hal makanan, mungkin akan sulit bagi kaum muslim di Jepang khususnya wisatawan yang berkunjung untuk beberapa hari karena tidak setiap kota memiliki tempat makan yang menawarkan makanan Halal. Di Tsukuba, hanya terdapat sekitar tiga tempat makanan Halal. Dua tempat di luar kampus dan satu di dalam kampus, kampus saya terkenal memiliki banyak mahasiswa asing sehingga di kampus terdapat satu kantin yang menyediakan makanan halal, mayoritas makanan halal adalah makanan yang berasal dari timur tengah.

Bagi muslim yang hidup di Jepang dengan kurun waktu yang panjang menurut saya tidak masalah, bagi mahasiswa mereka dapat memasak makanan sendiri. Daging sapi, kambing, ayam beku atau olahan daging seperti sosis, nugget halal tersedia di beberapa toko bahan makanan di Tsukuba yang memiliki harga relatif mahal karena impor. Produk-produk halal dari Indonesia seperti kecap, mi instan, bumbu instan, teh siap minum, susu kental manis dll juga kadang dijual di toko China dengan harga hingga 3-5 kali lebih mahal dari harga asalnya di Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here