Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya dilalui oleh garis khatulistiwa, sehingga negara ini memiliki iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Kondisi atau letak geografis yang ideal inilah yang membuat Indonesia memiliki bentang alam yang sangat luar biasa. Bentang alam dengan komponen besar untuk menunjang kehidupan berbagai makhluk hidup di dalamnya. Kondisi ideal tersebut membuat keragaman hayati (biodiversity) begitu berlimpah, bahkan Indonesia merupakan negara dengan sebutan Megadiversity Country.

Sebutan tersebut bukan sekedar untuk mengangkat nama Indonesia di kancah internasional, melainkan sebutan tersebut dilatarbelakangi dengan data-data yang menunjukkan kondisi yang sebenarnya, yang ada di atas tanahnya. Meski luas daratannya hanya sekitar 1,3 % dari luas bumi, Indonesia memiliki kurang lebih 60% spesies tumbuhan di seluruh dunia, 17% spesies hewan di seluruh dunia. Bahkan dalam hal keanekaragaman tumbuhan, Indonesia memiliki lebih dari 38000 spesies, dan 55% diantaranya adalah endemik.

Sama halnya dengan keanekaragaman tumbuhan maupun hewan yang ada di dalamnya, Indonesia pun memiliki bermacam suku budaya masyarakatnya. Sehingga ada kesinambungan nyata antara alam dan perkembangan peradaban manusia. Jika dahulu dikisahkan bahwa manusia hidup nomaden yang berpindah-pindah tempat tinggal menuju wilayah yang kaya akan sumber kehidupan dan akan berpindah lagi ketika sumber kehidupan di wilayah tersebut sudah habis. Maka fenomena munculnya peribahasa “ada gula ada semut” memanglah tepat, bahwa akan berbondong-bondong sekumpulan manusia ke suatu wilayah jika wilayah tersebut menawarkan sumber kehidupan yang berlimpah.

Fenomena nomaden kemudian berganti dengan sistem tempat tinggal yang menetap. Hal tersebut terjadi karena dahulu kaum laki-laki sibuk berburu untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kaum perempuan berada di gubuk tempat tinggalnya, dan mereka berinisiatif untuk bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidupya. Hal tersebut ditunjang pula karena berburu pun akan mengalami kesulitan sebab kondisi hewan yang sedikit banyak mengalami penurunan populasi akibat perburuan. Jadi, kemudian memunculkan kebudayaan cocok tanam dan diikuti banyak kebudayaan di wilayah-wilayahnya masing-masing. Sama halnya yang di terjadi di Indonesia, dengan dengan kelimpahan potensi hayati di atas tanahnya, membuat suku budaya masyarakatnya pun sangat beraneka ragam.

Namun dengan kekayaan alam maupun budayanya, Indonesia memiliki dua dampak pada perkembangan masyarakatnya, baik dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu contohnya adalah selain disebut sebagai megadiversity country, Indonesia juga disebut dengan dengan hospot Country. Hospot country merupakan istilah untuk negara yang paling tinggi tingkat keterancaman keragaman hayati dari kepunahan. Itulah realita negara yang punya peran besar untuk keberlangsungan kehidupan di bumi ini. Bahkan masih banyak spesies-spesies entah itu tumbuhan maupun hewan yang masih belum teridentifikasi, sedangkan yang terancam punah pun sudah begitu banyak. Itulah salah satu kelemahan yang ada, sehingga potensi alam yang ada terbengkalai bahkan cenderung dirusak. Selain persoalan alam raya, gesekan antar suku dan budaya pun juga ada. Misalnya konflik di Aceh, Papua, Poso, bahkan konflik sunni syiah, maupun koflik-konflik yang lainnya.

Sehingga pada masanya pula terdapat seorang presiden yang dikenal dengan pluralismenya, yaitu dengan landasan kemanusiaan dan juga pluralisme sosial inilah kita sebagai manusia tidak boleh menjadikan perbedaan untuk permusuhan, melainkan menjadikan perbedaan adalah sebagai rahmat untuk hidup berdampingan. Presiden yang dikenal sebagai Guru Bangsa, Bapak Pluraisme, itu adalah Gus Dur.

Pada masa kepresidenannya pulalah para umat konghucu diberi kesempatan yang sama seperti umat agama lain untuk merayakan Imlek sebagai hari rayanya. Kehadiran Gus Dur pada masanya tersebut sangat memberikan pencerahan terkait konsep nyata hubungan antar manusia. Bahkan ia adalah sosok presiden yang berani pasang badan untuk membela kaum minoritas yang mendapatkan perlakuan diskriminasi. Sehingga saat ia berpulang ke sisi Tuhan, banyak rakyat Indonesia yang merasa kehilangannya. Sampai sekarang pun sosok Gus Dur adalah sosok yang telah memberikan teladan nyata bagi kita semua untuk selalu bersikap plural dan bersahabat baik dengan siapapun.

Konsep kemanusiaan yang dibawa Gus Dur adalah sebagai bukti bahwa manusia memanglah tidak dapat menghindari adanya perbedaan, juga tidak dapat memungkiri bahwa satu sama lain saling melengkapi. Bahkan dalam Al-Qur’an sebagai kitab suci umat muslim pun telah disebutkan bahwa pada intinya manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sama halnya dengan manusia, lingkungan hidup yang berisi tumbuhan dan hewan pun sama, semuanya memiliki siklus yang saling melengkapi.

Siklus tersebut dapat dilihat pada susunan rantai makanan, semuanya berkesinambungan, sehingga jika salah satu jenis makhluk hidup punah, maka keberadaan makhluk hidup jenis yang lainnya pun akan ikut punah. Misalnya ular sawah sebagai predator adanya tikus sawah, jika ular sawah punah, maka keberadaan tikus tidak akan terkendali dan dampaknya tikus akan membludak dan berpengaruh buruk pada tanaman sawah. Namun berbeda dengan persoalan rantai makanan, persoalan kemanusiaan adalah persoalan yang kompleks tidak hanya persoalan makanan saja, melainkan sosial maupun politik serta ekonominya juga. Sebab subyek yang ada adalah mereka-mereka manusia yang tak sekedar bernyawa, tetapi juga memiliki akal sekaligus hati nuraninya.

Oleh sebab itu, seharusnya dengan Indonesia disebut sebagai Megadiversity sekaligus negara multikultural, kita semua dapat belajar dari lingkungan sekitar. Sebab alam raya yang ada di Indonesia menunjukkan ribuan spesies berbeda, namun dengan banyaknya keragaman hayati tersebut menjadikan Indonesia beraneka suku budaya pula. Megadiversity dan multikultural sebetulnya saling berkaitan, sehingga kita semuanya sebetulnya sudah mengetahui bahwa ketika kita mampu hidup bersama dalam perbedaan maka kita semua dapat hidup dengan damai dan nyaman, bahkan akan memberikan kemanfaatan satu sama lain. Hanya perusak lah yang merusak sistem alami tersebut. Jika di alam raya, munculnya koorporasi perusak alam menjadikan muncul keributan, maka dalam suku, budaya pun demikian, jika ada suku, budaya asing maka akan menjadikan sistem alami yang sebelumnya terbentuk akan berubah perlahan dengan munculnya sedikit demi sedikit ketimpangan.

Oleh karenaya marilah bersama merawat Indonesia dengan menyemai kembali benih nilai perdamaian yang telah ada di negeri ini. Tak melulu melihat kita sebagai negara dari sudut pandang manusia asing yang jauh di sana. Sebab kita sendiri sebenarnya sudah punya tolak ukur yang lengkap untuk merawat bangsa ini. Para leluhur bangsa ini begitu memperhitungkan masa depan anak cucunya, jadi sangatlah disayangkan jika kita seakan terbawa arus pandangan luar yang didewakan dan cenderung melupakan jati diri kita sendiri. Jangan sampai alam Indonesia dirusak oleh perusakan atas nama apapun, sebab alam yang rusak pun akan berpengaruh pada nilai murni multikultur yang telah ada sejak dahulu kala. Bahkan dikhawatirkan dengan rusaknya alam Indonesia, maka bukti historis hubungan generasi masa kini dan masa lalu akan tergerus dan terlupakan. karena kehilangan bukti peninggalan dan tempat-tempat sakral yang biasa kita gunakan untuk pengingat (penyambung) ataupun mendoakan para generasi sebelum kita.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here