Menjadi seorang muslim yang kaffah, kita harus jauh-jauh dari sifat dholim. Salah satu ciri dholim adalah tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jadi percuma saja kita solat kenceng, sodaqoh ketat, umrah memenuhi feed Instagram tapi dholim karena tak bisa menempatkan sampah pada tempatnya. Ya to? Urusan buang sampah ini mengingatkan penulis pada jalan-jalan di Malang awal bulan ini.

Minggu pagi awal bulan Juli 2018, meskipun tidak sedang hujan seperti puisi Sapardi Joko Darmono, pagi itu tetap saja romantis. Saat itu penulis jalan-jalan ke car free day (CFD) kota Malang untuk membayar kerinduan dengan kota Malang dan segala hiruk-pikuknya. Seperti minggu-minggu biasanya, CFD selalu ramai oleh orang yang berlalu-lalang, para penjual, petugas keamanan dan sampah yang berserakan. Bukan karena tak adanya tempat sampah, saat ini Malang benar-benar indah dengan ditaburi begitu banyak taman, kita perlu berterimakasih pada bapak Walikota yang sudah menumbuhkan banyak taman di Malang, hehe. Setiap taman dilengkapi dengan rumput hijau, kursi yang cukup digunakan duduk 2 orang dan berjajar bak sampah plus keterangan untuk  jenis sampah, seperti gambar di bawah ini:

[Bak sampah di taman kota Malang, dokumen penulis]
Terdapat bak khusus sampah anorganik yang bertuliskan dengan warna kuning, B3 dengan warna merah dan organik dengan warna hijau.

Pada minggu yang sama, penulis juga mengunjugi alun-alun Batu. Senada dengan taman kota Malang, di alun-alun Batu juga telah disediakan banyak tempat sampah, malahan di alun-alun Batu tempat sampahnya lebih bagus, karena tak hanya plang jenis bak sampah, tetapi dilengkapi juga dengan jenis-jenis sampah yang masuk kategori masing-masing bak. Semisal sampah organik diperuntukkan untuk sisa makanan, daun, tulang dll. Non organik untuk botol, plastik, kaca,karet, dll. Dan daur ulang seperti kertas, kardus, styrofoam, dll.

[Bak sampah di alun-alun kota Batu, dokumen penulis]
Tentu ini langkah yang baik, meskipun masih banyak sampah yang dibuang dengan sembarangan. Entah itu tanggung jawab siapa, masyarakat atau pemerintah, yang penting kita tidak lupa bersyukur dan mengapresiasi pemerintah yang sudah keluar aggaran daerah untuk beli bak sampah sebagus itu, hehe.

Setelah menemui bak sampah yang bagus itu, penulis sempat mengadakan jejak pendapat via Instagram tentang apa kira-kira sampah yang akan dimasukkan ke masing-masing bak sampah di taman kota Malang.

Dari hasil jejak pendapat, rata-rata menjawab sisa makanan di bak organik dan botol plastik di bak anorganik. Namun rata-rata para responden absen untuk mengisi bak B3, entah karena tidak tahu jenis sampah apa yang masuk ke bak B3 atau tidak mengerti apa itu B3. Tapi ada seorang responden yang mengatakan bahwa ia tidak mengerti apa itu B3, dan tidak mengisi jawabanan untuk bak organik dan anorganik.

Entah terminologi apa yang digunakan oleh kedua pemerintah kota ini, ilmu kimia atau bidang ilmu yang lain. Tapi rasa-rasanya mengunakan term ilmu kimia, karena ada bak B3, yang mana dalam lab kimia, B3 dikategorikan sebagai “bahan berbahaya beracun”.

Semisal benar terminologi ilmu kimia yang digunakan pemerintah kota Malang dan Batu, nampaknya perlu ada sedikit revisi pada bak sampah yang terlihat baik-baik saja itu.

Melalui tulisan ini pula, mari bersama-sama kita mengenal apa itu organik, anorganik (non organik), B3 dan bahan daur ulang. Karena banyak diantara kita yang masih kebolak balik pemahaman untuk makna bahan organik, herbal, anorganik, dan sintesis.

Organik dalam ilmu kimia memiliki makna sederhana yakni sebuah senyawa yang tersusun dari atom karbon (C), nitrogen (N), oksigen (O), hidrogen (H) dan sebagian halogen (F, Cl, Br, I). Sementara untur yang tersusun di luar atom-atom itu, sudah tegolong senyawa anorganik.

Sementara herbal adalah bahan yang diambil dari makhluk hidup dan sinteis adalah bahan yang dibuat oleh manusia.

Tidak perlu dihafal apalagi merasa bahwa yang mengerti hal-hal ini hanya orang kimia, kita bisa membuat hal-hal ini menjadi pemahaman umum untuk banyak orang.

Lalu apakah ada ancer-ancer, patokan atau tanda-tanda untuk mengenali kalau suatu barang itu tergolong bahan organik atau tidak?

Secara spesifik dan tepat tentu masih butuh bantuan alat-alat yang lain, tapi yang paling umum di sekitar kita, bahan-bahan organik (Karbon) memang banyak terdapat di alam menjadi penyusun utama mahluk hidup, selain itu saat dibakar rata-rata mengahsilkan jelaga atau noda hitam, jelaga itu dari sisa pembakaran karbon yang ikut terbawa oleh angin. Selain itu akan ada sisa hasil pembakaran yang tidak terbawa angin, yakni abu. Hal ini dikarenakan bahan organik akan hancur dibakar dengan api biasa, karena titik leleh dari bahan organik kebanyakan di bawah 100 °C.

Sementara untuk bahan anorganik di alam rata-rata berupa bebatuan. Mereka sangat sulit dihancurkan hanya dengan pembakaran biasa, karena titik lebur dari bahan-bahan anorganik biasanya lebih dari 100 °C, seperti tanah yang tersusun dari silika dan alumina. Ada yang pernah melihat tanah dibakar? Dia tidak merubah apa-apa, hanya kemerah-merahan saja. Sangat beda saat membakar kayu yang hancur dan menyisakan abu.

Daun, kayu, kulit, daging, bensin, bunga, ban, dll semuanya adalah bahan organik, dan coba amati bahan-bahan tadi saat dibakar, rata-rata akan menghasilkan jelaga dan abu. Sementara untuk bahan anorganik contohnya seperti tanah dan batu. Hampir tidak ada yang berubah wujud saat dibakar.

Di alam, bahan organik dan anorganik tidak hidup dengan terpisah, mereka hidup bersama-sama, saling menguatkan dan sering bergotong royong. Seperti tulang yang susunan utamanya adalah kapur dan kalsium, di sana tetap ada atom-atom karbon dan oksigen, tetapi keberadaan bahan organik di tulang cukup sedikit. Lalu, darah mengandung hemoglobin, tersusun dari senyawa karbon yang besar tetapi di tengah-tengah ada atom besi (Fe), itu penyebab kenapa saat kita anemia akan meminum zat besi.

Cukup mudah bukan untuk membedakan mana yang organik dan anorganik?

Sisam makanan => organik, karena biasanya dari alam

Daun => organik, penyusun utama tanaman adalah karbon dan oksigen

Tulang => anorganik, karena penyusunya adalah kalsium dan zat kapur meskipun ada sedikit karbon

Botol => anorganik, karena botol berbahan kaca memiliki bahan dasar silika, tidak hancur saat dibakar

Plastik => organik, karena polimer penyusun plastik adalah karbon, bisa leleh saat dibakar dan menimbulkan asap hitam

Kertas => organik, karena terdiri dari serat selulosa dan lignin yang berbahan dasar karbon. Menjadi abu saat dibakar.

Sehingga tidak tepat juga mengkategorikan tulang ke bak organik, plastik ke bak anorganik, karet ke bak anorganik. Karena itu semua tertukar jika dipandang dari kaidah kimia.

Lebih bijak lagi kalau pemerintah juga menyerkatan jenis-jenis sampah yang tergolong senyawa organik atau anorganik sebagai modal edukasi untuk warga seperti di bak sampah alun-alun kota Batu. Serta meletakkan contoh sampah itu dengan benar sesuai dengan term kaidah ilmu apa yang diikuti.

Nah, sekali lagi bukti bahwa sains itu dekat dengan hidup kita kan?

B3 dari tadi belum dibahas, apa sebenarnya B3 itu?

Yang dikategorikan sebagai bahan yang berbahaya dan beracun tentu umunya yang memiliki pH ekstrim seperti air accu dan larutan pembersih toilet, mudah terbakar seperti bensin, mudah meledak seperti bubuk misiu, menimbulkan kerusakan jaringan seperti soda api, dan bahan-bahan beracun.

Limbah batrai, meskipun bahan utamannya adalah senyawa anorganik, tapi bisa juga dimasukan ke bak B3 karena memang limbah baterai memang berbahaya.

Jadi, saat kesadaran kita untuk membuang sampah pada tempatnya sudah tumbuh tentu harus dibarengi dengan menempatkannya pada tempat yang benar. Kembali lagi, agar kita menjadi muslim yang kaffah dan tidak dholim. Mari kita memulai terlebih dahulu hidup secara islami meskipun bak-bak sampah tadi belum berlebel halal MUI.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here