Gelap mengiringi datangnya malam. Malam datang, malam gelap. Sang dewi bulan bertengger di langit semesta. Si kulit putih, tubuh melingkar sempurna menyibak jiwa-jiwa sunyi. Cukup anggun menggelayut bersama awan-awan berarak. Rona-rona terpantul dari wajah-wajah pecandunya. Malam, semakin terang bukan?

“Malam Sastra Purnama” sangat cocok didengungkan dari lantai 3 Oase Cafe and Literacy. Kemarin (7/8) telah digelar malam menikmati purnama dengan suasana syahdu dan meriah. Berangkat dari kegelisahan-kegelisahan dan rindu romansa purnama masa kecil silam, tentang cara menikmati purnama dengan bermain petak umpet, dakon, dolanan dan lainnya, maka Sabda Perubahan dan Gubuk Tulis mencoba kembali menghadirkan nuansa malam purnama dengan cara yang berbeda. Dibantu oleh Garuda Malang, Kota Tua dan Oase Cafe and Literacy ide mulai dituangkan sedemikian rupa. Kali ini purnama singgah di hati para penggiat sastra. Di bawah pucuk purnama digelar bermacam pertunjukan seperti pembacaan puisi, musik, dongeng dan apapun karya yang bisa dinikmati bersama. Arena panggung bebas disediakan sebagai wadah untuk menyuarakan karya.

 

“Ini malam purnama

Jangan takut melingkar, saudaraku…

Tuhan telah membuka pintu cahaya-Nya

Dalam gelap malam yang gulita

Rembulan ada pada satu garis cahaya dengan matahari

Dan kita ada di antara ke duanya

 

Dan seluruhnya menyinari

jiwa, raga, akal, pikiran, nafsu, ambisi, keinginan, kemauan, kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, amarah, permusuhan, kebencian, kehidupan dan kematian manusia yang gelap gulita..

 

Selamat datang saudaraku…

Ini malam purnama

Tengadahkan kepalamu pada rembulan yang sedang menghadap matahari

terang benderang tak terhadang oleh gelap bumi dan keserakahannya

…..”

 

Begitulah bunyi kutipan prolog pembuka yang disampaikan oleh Yassin Arief (Sabda perubahan). Sapaan sekaligus ajakan untuk bersama-sama mengalir dalam irama malam bersama sastra. Ditambahkan pula oleh Viki Maulana (Gubuk Tulis) bahwa selain mengungkit ingatan lama tentang purnama, acara ini bertujuan untuk membumikan sastra.

Pekikan-pekikan dari penyair begitu tegas mengkritik hal yang tidak bijak. Membakar penyaksi larut dalam ambisi. Suara-suara petikan dari gitar yang manis meluluhkan hati melebur dalam buaian romansa malam purnama. Begitupun seterusnya. Rasa semakin tumpah bersama dengan secangkir kopi hangat. Barisan duduk lesehan pun semakin merapat. Antusias para pecandu purnama memuncak. Rekan-rekan dari Pelangi Sastra, Liberasi (Lingkar Belajar Musik dan Literasi), Hankestra, Han, Feri and Friends dan para penyair satu-persatu bergantian berunjuk karya.

[Musikalisasi Puisi oleh Ilmi Najib dan Feri H Said]
Begitulah nostalgia malam purnama berbalut sastra. Melahirkan keceriaan, kebebasan, bahkan begitu lekat dengan rasa kejujuran. Bahwa dengan karya penyair, pemusik, penulis, dan penikmatnya akan menjadi jujur. Tentang sebuah rasa, tentang segala unek-unek yang dituangkan dalam media unik tanpa canggung. Yang disampaikan tanpa menyakiti yang tersurat tanpa benci-membenci.

Malam Sastra Purnama, sukses menjadi panggung ekspresi bagi pecinta purnama sekaligus sastra. Purnama mengabiskan malam bersama pecintanya. Cukup sopan ia menutup diri dengan awan agar nampak gelap. Pertanda untuk usai. Acara berakhir dengan syahdu, ditutup doa literasi oleh Al Muiz Ld dengan penuh hikmat. Semoga sastra akan semakin melekat dan membumi. Sampai jumpa di malam purnama berikutnya.

Oleh: Rani Andriani (Seorang filsuf muda yang belajar di pesantren Gubuk Discourse dan sedang menyelesaikan jenjang strata pertama di Universitas Brawijaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here