Mengenal Wajah- Wajah Kekerasan Seksual

0
267

Apa yang ada dibenak kita jika mendengar kekerasan seksual? Mungkin saat itu juga akan terlintas pemukulan yang menimbulkan memar hingga luka-luka pada korban, padahal kekerasan seksual tidak hanya itu, ada berbagai macam kekerasan seksual yang terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin kita juga pernah melakukannya kepada teman, saudara atau bahkan pasangan.

Masih sempitnya pemahaman tentang kekerasan seksual oleh masyarakat, menjadikan Perempuan Bergerak untuk membuat suatu forum terbuka untuk belajar bersama tentang kekerasan seksual, macam-macamnya dan akibat yang ditimbulkan dalam kekerasan tersebut. Diskusi itu dilaksanakan di Oase Coffee & Literacy, Kamis sore, 14 Maret 2018.

Diskusi kali ini mengundang Umi Khoirotin Nasichah atau yang lebih akrab disapa Mbak Oyik, seorang Konselor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) sebagai pemantik diskusi. Ia menjelaskan kekearasan seksual dari berbagai bentuk dari poin 1 hingga 15, dapat diringkas bahwa kekerasan seksual tidak hanya secara fisik, namun secara verbal dan non-verbal, kekerasan seksual berupa verbal seperti candaan atau obrolan yang menyudutkan dan menyakiti salah satu pihak, sedangkan kekerasan non-verbal seperti sentuhan, rabaan, ciuman bahkan pelukan yang dilakukan salah satu pihak ke pihak yang lain tanpa mendapatkan ijin dari yang mempunyai dari sang pemilik tubuh tersebut.

Beberapa poin yang dijelaskan Mbak Oyik adalah sebagai berikut; pertama, perkosaan dimaknai sebagai pemaksaan dalam berhubungan seksual. Kedua, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, dalam hal ini ada penyerangan terhadap seksualitas untuk menimbulkan rasa takut dan penderitaan psikis terhadap korban. Ketiga, pelecehan seksual, tindakan seksual lewat sentuhan fisik atau nonfisik dengan sasaran organ seksual korban, bahkan Komnas Perempuan memasukkan siulan, ucapan bernuansa seksual, menunjukkan materi pornografi dan sejenisnya merupakan pelecehan seksual.

Keempat, eksploitasi seksual adalah tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang timpang, atau penyalahgunaan kepercayaan untuk kepuasan seksual bahkan keuntungan. Kelima, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, meliputi tindakan merekrut, mengangkut, menampung, mengirim, memindahkan, atau menerima seseorang dengan paksaan atau rayuan untuk tujuan prostitusi, ekspolitasi seksual dan lain sebagainya. Keenam, prostitusi adalah di manan korban diancam, ditipu bahkan mengalami kekerasan untuk menjadi pekerja seks.

Ketujuh, perbudakan seksual adalah dimana seseorang merasa menjadi ‘pemilik’ tubuh atas korban, sehingga dia merasa berhak untuk melakukan apapun terhadap si korban, termasuk memperoleh kepuasaan seksual melalu pelecehan, pemerkosaan dan lain sebagainya. Kedelapan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan perkawinan ini tidak hanya terjadi pada perkawinan dini, di mana sebagian besar anak-anak menjadi korbannya, selanjutnya pemaksaan perkawinan pada pemerkosa, pada masalah ini korban pemerkosaan diharuskan menikah dengan yang memeprkosa, korban yang belum pulih dari trauma pemerkosaan, malah diharuskan hidup bersama dengan ‘pemerkosa’.

Kesembilan, pemaksaan kehamilan, situasi dimana perempuan belum siap hamil lalu dipaksa untuk hamil, hal ini sering terjadi pada korban pemerkosaan, namun bisa saja terjadi pada pasangan suami istri, sehingga hal ini akan berdampak pada psikis dan perkembangan janin. Kesepuluh, pemaksaan aborsi yakni pengguguran yang dilakukan karena ancaman atau paksaan dari pihak lain. Kesebelas, pemaksaan kontrasepsi. Keduabelas, penyiksaan seksual adalah tindakan menyerang organ atau seksualitas korban sehingga menimbulkan sakit dan truama yang hebat pada korban.

Ketigabelas, penghukuman tidak manusiawi bernuansa seksual, hal ini masuk kategori kekerasan seksual karena cara penghukuman yang menyebabkan penderitaan, kesakitan, ketakutan atau malu yang luar biasa, seperti hukuman ditelanjangi dan diarak keliling kampung. Keempat belas, praktek tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan. Kelimabelas, kontrol seksual diskriminatif, seperti pandangan menuduh perempuan sebagai penyebab kekerasan seksual yang menjadikan landasan untuk mengendalikan kekerasan seksual perempuan.

Itulah wajah-wajah kekerasan seksual yang sering terjadi di antara kita. Wajah itu berilusi sedemikian rupa untuk mengelabuhi tubuh kita. Sehingga, tubuh kita dapat diberdaya dengan mudahnya oleh si pelaku kekerasan. (Nur Fitriani)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here