Mahbub Djunaidi sebagai salah satu tokoh pergerakan sering kali dilupakan di ruang akademis. Berbagai sumber bacaan yang mengkajinya sebagai tokoh pers pun hampir tidak ada. Bahkan namanya hilang di ruang komunikasi fakultatif atau sosial politik. Padahal, Mahbub adalah sosok yang banyak mengabadikan perjalanan bangsa ini ke dalam kolom kolomnya yang cerdas. Hal itu pula yang mengilhami Isfandiari dan Iwan Rasta menulis buku Bung, Memoar tentang Mahbub Djunaidi.

Bedah buku Bung sebagai pengantar ulang tahun kedua Gubuk Tulis dan ulang tahun yang pertama Oase Cafe Literacy, Senin malam, 26 Maret. Sebagai komunitas literasi dan warung kopi literasi, komunitas ini menyajikan nuansa segar dengan mengkaji Mahbub Djunaidi, sembari ngopi di lantai tiga. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mendoakan Mahbub Djunaidi, dan dilanjutkan berdiskusi.

Iwan Rasta mengawali perbincangan dengan memberikan pengantar buku Bung. Ia menyampaikan bahwa ada beberapa pertimbangan dalam proses penyusunan buku Bung tersebut. Salah satunya dikarenakan banyaknya tulisan Mahbub yang belum sempat dipublikasikan oleh media cetak manapun, sampai pada tanggal 5 September 2017 sukses digelar acara launching pertama di STAIN Jakarta dan dihadiri oleh Imam Nachrawi, menteri pemuda dan olahraga. Launching perdana tersebut mendapatkan respon yang sangat baik dari berbagai pihak, terutama dari kader PMII.

Kemudian dilanjutkan oleh Isfandiari Mahbub Djunaidi selaku penulis sekaligus putra dari Mahbub. Ia menyampaikan bahwa ia pernah menulis sebuah buku, di dalam buku tersebut ada bagian yang menceritakan tentang sekelompok geng motor yang berkunjung ke rumah salah seorang kyai NU yang mana kyai NU tersebut adalah ayah saya sendiri yaitu Mahbub. Tak lama kemudian, saya mendapat tantangan dari penerbit obor untuk menuliskan memoar tentang ayah saya sendiri, meskipun sedikit sulit karena tulisan saya akan bersifat subjektif, namun tetap saya coba.

“Judul buku Bung ini dari panggilan kekraban Mahbub kepada Pramoedya Ananta Toer, begitu sebaliknya. Mahbub pun meminta saya selaku anaknya untuk memanggil Bung, karena Ia tidak ingin tua,” tambah kang Isfan. Selain itu ada cerita antara relasi Bung Mahbub dengan Pram ataupun dengan Aidit.

Dalam opening statemen tersebut isfandiari menceritakan bahwa semasa kuliah dulu dia bukanlah seorang mahasiswa ideal, sebab lebih memilih acuh dengan permasalahan masyarakat dan bersenang senang bersama geng motornya, bahkan dia menyamakan dirinya dengan istilah ‘kaum nyinyir’ yang sering digunakan oleh generasi jaman now untuk menyebut sekelompok orang yang hanya bisa berkomentar tanpa memberi solusi.

Diceritakan juga bahwa semasa hidup, Mahbub tidak mendapatkan perhatian seintim sekarang. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kita sering terlambat dalam mengapresisi orang lain, banyak tokoh yang berperan banyak dalam perubahan, tapi justru diapresiasi setelah meninggal. Semasa masih hidup bahkan lebih sering terlupakan dan terabaikan.

Bung Mahbub semasa hidupnya berpesan kepada anak cucu untuk dipanggil ‘Bung’ saja. Hal itu lah yang menjadi salah satu alasan diambilnya kata ‘Bung’ sebagai judul buku. Di mata keluarga sendiri beliau adalah sosok yang unik, berpemikiran kiri namun tetap berpihak pada NU dan pandai bersikap moderat. Hal tersebut disampaikan oleh isfadiari selaku anak kandung dari bung Mahbub.

Dahulu, semasa orba, setiap orang tidak sebebas saat ini dalam berekspresi dan menyuarakan pendapatnya, terutama di media sosial maupun media cetak. Tapi Mahbub dengan nyalinya tetap sanggup memberi sumbangsih nyata, bukan hanya sekedar koar koar dan eksistensi saja. Beliau sebagai ulama NU yang moderat tetap bisa berekspresi dan gumbul dengan siapa saja dari golongan dan agama mana saja.

Setelah diawali dengan opening statement, diskusi dilanjut dengan pembacaan puisi oleh Muktadi Amri As, sebelum berpuisi, Ia menyampaikan bahwa bung Mahbub memang sudah tidak ada, namun beliau masih sering berjumpa Mahbub di warung kopi, meski hanya spiritnya saja. Menurut Amri, ada beberapa hal yang hilang atau belum tersampaikan mengenai bung Mahbub, yakni kejenakaan dan kelugasan beliau di setiap tulisannya.

Setelah Amri membacakan syairnya dilanjut dengan penyampaian pendapat maupun pertanyaan. Pendapat pertama disampaikan oleh Lek Jumali. Ia menyampaikan ketidaksetujuannya dengan argumen bahwa bung Mahbub adalah orang kiri. “Saya tidak setuju jika Pak Mahbub dianggap orang kiri, sebab pengelompokan pengelompokan tersebut cenderung perlakuan dari orang elit, pak Mahbub tidak pernah berkelompok kelompok dalam bergaul. Situasi yang diciptakan pak Mahbub dalam berbagai tulisannya memang sangat riil, namun tidak bisa semudah itu ditarik kesimpulan bahwa beliau adalah orang kiri,” tegas Lek Jum.

Keterangan: Isfandiari dan Lek Jumali Wayang Wolak Walik

Dilanjut dengan pertanyaan dari Ilmi Najib selaku ketua Gusdurian Malang. Mahbub adalah pendekar pena dan dekat dengan Pram, bagaimana kedekatan bung Mabub dengan Pram, apakah beliau berdua pernah berkolaborasi dalam membuat tulisan?” tegas Najib. Selanjutnya dilanjutkan pertanyaan dari Yanki, dari Mahbub Djunaidi Center (MDC). Ia mengatakan bahwa politik tingkat tinggi pemahaman politik pak Mahbub bisa dilihat di alinea kedua terkhir halaman 120, apakah pak Mahbub menolak adanya pemilu?”

Ketidaksetujuan Mahbub mengenai pemilu merupakan , misteri yang susah diungkap, namun setiap orang bebas beranalisa berdasarkan tulisan tulisan beliau yang ada. “Namun tulisan pada halaman 120 sudah dibantah dengan tulisan lain di halaman 132,” tegas Lek jum, lalu dilanjut dengan penampilan wayang wolak walik oleh lek jum. Ia membacakan beberapa tulisan di buku ‘bung’ dengan menyinden.

Pendapat berikutnya disampaikan oleh Abdi Purmono dari AJI Indonesia. “Saya tidak pernah bertemu Mahbub, hanya saja saya sering menemui pemikiran-pemikiran Mahbub di warung kopi. Bung Mahbub modelnya militan dan zuhud. Sayang sekali, saat dunia sudah modern dan setiap orang diberi kebebasan berbicara, justru sebagian besar orang enggan berbicara termasuk beberapa mahasiswa. Seharusnya mahasiswa saat ini merasa beruntung, sebab dengan mudah bisa mengakses informasi dan buku tulisan Mahbub Djunaidi. Mahbub milik banyak orang, tidak hanya milik PMII dan NU saja,” jelas Abel, sapaan keren Abdi Purmono.

Acara dilanjut dengan penampilan Isfandiari, dengan menyanyikan lagu milik the beatles yang berjudul All my loving. Oase bertambah hangat dengan suara para mahasiswa yang ingin mengenal Mahbub lebih dalam. Ada dari mahasiswa UB, UIN, UMM dan sebagainya. Setelah tiga jam setengah berdiskusi, Isfandiari berpesan bahwa yang mengukur kesuksesan kita adalah karya, seberapa besar karya atau sumbangsih kita kepada bangsa dan negara, serta yang menjadi PR besar kita semua saat ini adalah bagaimana kita bisa menyehatkan dunia maya, sehingga tidak ada lagi hoaks dan kebencian di udara. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here