Sayup-sayup terdengar suara adzan di desa Jabung, melengkapi persiapan acara “Kenduri Mengenang Gus Dur”. Udara Malang menyambut kami dengan lekat, serta senyum dari penduduk dan kawan-kawan seperti secangkir teh hangat di kala hujan sore hari.

“Dari desa kami bersuara kebhinnekaan”, begitulah.

Acara yang diselenggarakan di desa Jabung, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Malang ini berlangsung sangat meriah. Duduk di sini serasa melihat miniatur dari Indonesia. Berbagai etnis, agama, profesi, umur semua menyatu dalam nuansa nasionalisme yang erat.

[Peserta ‘Kenduri Mengenang Gus Dur’ yang di selengarakan di balai desa Jabung]
Semua sama rata, duduk lesehan sembari menikmati sajian dari desa seperti polo pendem, roti, gorengan, cenil maupun kopi. Nuansa kebhinnekaan yang sangat kental yang mungkin jarang kita temui sekarang.

[Peserta ‘Kenduri Mengenang Gus Dur’ Menyanyikan Lagu Indonesia Raya]
Acara ‘Kenduri Mengenang Gus Dur’ dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menyalakan lagi semangat nasionalisme dari para peserta kenduri. Lagu Indonesia Raya berkumandang begitu hikmat di Balai Desa Jabung. Kemudian dilanjutkan pertunjukkan tari Barong dari Klenteng En Ang Kiong yang begitu memukau semua peserta kenduri. Setelah itu sambutan dan orasi, yang pertama oleh ketua pelaksana  dari GUSDURian Malang oleh saudara Ilmi Najib, pemuka agama dari Islam diwakili Gus Azam, dari Buddha diwakili Bunsu Anton, Kristen Nasrani diwakili Pendeta Kristanto, budayawan diwakili Mas Bondan (Bawarasa Surya Aji), Buddha oleh Mas Billy, dan Baha’i diwakili Mas Izrul. Bunsu Anton mengingatkan kembali pada kita tentang makna dari warna bendera Indonesia merah putih yaitu “berani bekerja keras merupakan kesucian,” bahwa sebagai bangsa yang besar kita harus mampu berdiri di kaki sendiri, dengan berani bekerja keras mampu mengelola sumberdaya alam secara baik, hal ini dinilai beliau merupakan suatu kesucian.

[Orasi budaya dari Bunsu Anton]
Selanjutnya dilaksanakan pula tahlilan yang dipimpin oleh Gus Azam (ketua Anshor wilayah Jabung) untuk mendoakan Bapak Bangsa kita Gus Dur. Para peserta kenduri juga dimanjakan oleh sajian hiburan kerakyatan seperti tari topeng Malangan,  tari egrang yang diisi oleh adik-adik komunitas anak alam yang sangat ciamik.  Lalu ada juga pertunjukkan tari sufi yang mempunyai filosofi sangat dalam. Filosofi tersebut tentang pemusatan diri terhadap Tuhan diiringi lagu syi’ir tanpo waton dengan musik karinding yang mampu membuat suasana begitu syahdu.

[Tari Sufi]
[Tari Egrang]
[Barongsai dari klenteng En Aig Kiong]
Para anggota GUSDURian, pemuka agama, penduduk desa Jabung, serta berbagai komunitas-komunitas yang ikut bergabung melebur dalam romansa kebhinnekaan yang sangat erat. Mereka tertawa bersama, saling menyapa,  rasa – rasanya ekspresi mereka ingin waktu berjalan lebih lama untuk mendekat kembali kepada saudara-saudara setanah air.

Hingga tiba penghujung acara, para pemuka agama dan kepercayaan memimpin doa lintas agama seraya diikuti oleh peserta kenduri. Harapan – harapan tentang semangat toleransi, keselamatan dan kemajuan bangsa,  kerukunan umat beragama terpanjatkan dalam doa yang sangat khidmat oleh para pemuka agama yang diaminkan semua peserta kenduri. Jika acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, maka acara ditutup pula dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka yang diikuti oleh semua peserta kenduri.

Ada sebuah pendapat bahwa ” Jika ingin lebih dekat hubungan batinnya dengan orang lain, maka engkau bisa makan atau tidur bersama dengan orang itu,” sehingga tidak ketinggalan penguhujung acara ini yaitu makan bersama para peserta kenduri. Makan bersama ini dilakukan secara kembulan,dimana satu loyang besar kudapan nasi beserta pelengkapnya disantap oleh beberapa orang secara bersama-sama.

[Kembulan bersama seluruh peserta ‘Kenduri Mengenang Gus Dur’]
Begitu sejuk rasanya, jika melihat bahwa kita tak lagi melihat corak warna yang berbeda-beda, tapi hanyalah merah putih yang berkibar di Ibu pertiwi ini.  Semoga semangat persaudaraan selalu tercurahkan dari merah dan putih jiwa kami sebagai bangsa yang besar, bangsa yang sama-sama setanah air, serta mengedepankan toleransi dalam berkehidupan. Sehingga kita tak mudah tercerai berai oleh senggolan sana-sini yang dapat memecah belah persaudaraan.

“Dari desa kami bersuara kebhinnekaan”, sebuah kalimat dari orasi saudara Ilmi Najib, bahwa sudah menjadi kewajiban kita semua untuk merawat kebhinnekaan, memupuk rasa persatuan dan kesatuan antar umat beragama,  antar masyarakat, yang dapat dimulai dari wilayah pedesaan. Sehingga diharapkan semangat persatuan dan kesatuan akan tumbuh menyeluruh di semua wilayah Indonesia.

Oleh: Ella Purnama (Santri di Gubuk Discourse generasi pertama dan seorang sarjana dari Universitas Brawijaya Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here