Sebagaimana manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa tentu tumbuh dengan beragam perbedaan. Namun, demikian secara umum, semua manusia dapat dibaca melalui konsep Imam Al-Gazali tantang tipe manusia. Hal ini bisa dilihat dari Ihyâ’ `Ulûmiddîn Jilid Pertama yang bernada:

الرجال أربعة: رجل يدري ويدري أنه يدري فذلك عالم فاتبعوه, ورجل يدري ولا يدري أنه يدري فذلك نائم فأيقظوه, ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذلك مسترشد فأرشدوه, ورجل لا يدري و لا يدري أنه لا يدري فذلك جاهل فارفضوه

Secara gramatikal arab, kata “rijâl” adalah bentuk jamak dari “rajul” yang berarti laki-laki. Namun sifat-sifat yang disandingkan pada “rijâl” dalam kalimat di atas dapat terwujud pada perempuan juga. Maka, karena itu rijâl disini bermakna “manusia atau orang”, supaya bisa mencakup pria, wanita dan yang di antara keduanya.

Dengan demikian kalimat di atas diterjemah: “Tipe manusia itu empat. Pertama, orang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu. Dia adalah orang berilmu maka ikutilah dia. Kedua, orang tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tahu. Dia adalah orang tidur maka bangunkanlah dia. Ketiga, orang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dia adalah orang yang mencari petunjuk maka tunjukkanlah dia. Keempat, orang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dia adalah orang bodoh maka tolaklah dia”.

Dari empat konsep tersebut, dua konsep trakhir yang cocok untuk membaca Sukmawati. Hal ini bisa ditelisik dari ungkapan Sukmawati dalam sajak yang dibacakannya yakni, “Saya tidak tahu syariat….”

Jika Sukmawati memposisikan sebagai orang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu maka Sukmawati adalah orang yang mencari petunjuk sehingga dia haus akan petunjuk. Sebagai orang yang haus pada petunjuk, langkah yang patut dilakukan belajar lagi. Minimal Sukmawati mencari guru yang mumpuni terkait syariat islam itu sendiri.

Perilaku yang demikian (baca: belajar dan mencari guru) merupakan hal yang dipuji dan dianjurkan oleh syariat islam. Apalagi, dalam islam kewajiban dalam mencari ilmu tidak ada batas umur. Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi; carilah ilmu sejak lepas dari ayunan hingga liang lahat.

Namun jika Sukmawati memposisikan dirinya sebagai orang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu maka apa yang disampaikan dan dibacakan Sukmawati tertolak alias tidak diterima dan tidak dibenarkan. Selanjutnya, yang patut dilakukan Sukmawati mengutarakan permuhonan maaf di hadapan umum seperti dia membacakan sajaknya pada sedia kala.

Apalagi, apa yang dibacakan Sukmawati dianggap “cacat” oleh nitizen. Sebagaimana banyaknya twit garang dialamatkan kepada perempuan berdarah Soekarno itu. Guna menangkis hujatan yang kian merendahkan Sukmawati, menurut hemat saya, penting pihaknya segera menyadari bahwa dirinya sedang khilaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here