Tidak dapat dipungkiri, tradisi Islam saat ini baik yang ada di Indonesia atau belahan negara lain memakai tradisi fiqih. Berkutat pada halal-haram, makruh-mubah, disunnahkan-dianjurkan, baik-buruk, dan seterusnya.

Mempertanyakan kembali tafsir, sanad, matan, hingga produk hukum dinilai tabu bahkan sebagian menghukumi dosa. Wal hasil, segala hal yang berseberangan dengan kitab klasik dan uraian cerita-cerita yang patut dipertanyakan kembali sumber dan asal muasalnya menjadi bahan Nyinyiran yang empuk.

Terlebih ide Feminis yang dilontarkan, sedikit yang mengakui Islam mendukung Kesetaraan ala feminis, dan banyak yang menolak dengan dalih bahwa sejatinya Islam telah dengan begitu megah mengagungkan perempuan. Pada Jumat kliwon kesekian (16/03), komunitas perempuan bergerak mencoba melacak historis Feminisme Islam awal, bersama penyaji Pegiat Jaringan Islam anti Diskriminasi, Aan Anshori.

Agaknya, pendekatan yang paling mudah untuk memunculkan para feminis awal Islam adalah dengan memunculkan tokoh-tokoh perempuan feminis pada masa Islam awal, sebut saja pertama adalah Khadijah. Khadijah bint Khuwaylid yang disebut-sebut sebagai the mother of faithful. Sosok yang mentereng dikalangan Quraish saat itu adalah seorang Businesswoman, menikah tiga kali, kemanapun dia pergi tak perlu ada pengawal alias bisa sendiri, tak canggung menyatakan perasaannya pada Muhammad, membiayai maskawinnya sendiri, berjuang dengan berbagai cara untuk bisa menikah dengan Muhammad termasuk mengelabuhi orang tuanya sendiri.

Ada cerita menarik yang dikutip penyaji dari kitab Al-Tabaqot Al-Kabir, konon ayah Khadijah kurang setuju Khadijah yang mapan secara ekonomi harus menikah dengan Muhammad, Khadijah mempersiapkan sendiri pernikahannya dan ayahnya dibuat mabuk dan hadir dalam acara tersebut. Ketika sudah sadar, ayah Khadijah bingung dirinya memakai baju rapih dan menghadiri pernikahan. Yup, kisah ini hampir seperti sinetron dan jarang dijumpai atau dinarasikan.

Perempuan yang ke dua adalah Hind bint Uthbah, asumsi yang muncul saat membaca nama Hind atau Hindun pasti narasi negative akan aksinya yang super garang di perang Uhud, menyewa penombak jitu untuk membunuh paman nabi bernama Hamzah, dan memamah jantungnya kemudian dimuntahkan. Penulispun sama, memori akan Hind baru membaik saat kemudian dia diperisti Abu sufyan dan masuk Islam. Namun, pesan yang ingin disampaikan dan sangat logis dalam kisah Hind adalah keperkasaan dan keberanian sosok perempuan Quraish ini. Sangat tidak adil ketika kita hanya melihat kebringasan Hind karena menjadi otak pembunuh Hamzah dan memamah dengan mulutnya sendiri jantung Hamzah tanpa melihat lukanya yang mendalam kehilangan ayah, saudara, dan suaminya yang dibunuh oleh Hamzah di perang badar.

Sosok Hind bin Uthbah, adalah pemberani dan tegas, selain dia berhasil dalam bisnis Hind pernah menolak untuk diajak rujuk oleh suami yang pernah menyangsikan kesetiannya dengan lantang, sikap itu ia tunjukkan pada suami pertamanya Al-Fakkah. Al-Fakkah menuduh Hind berselingkuh dan kekeh menceraikan Hind, dia lari pada dukun untuk membuktikan kesuciannya dan mendapatkan pesan tegas dari sosok peramal dari Yaman Kau Suci, dan tidak melakukan Zina, kelak kau akan melahirkan sosok putra yang menjadi pemimpin ucap dukun tersebut.

Mendengar penjelasan itu, Al-Fakkah ingin kembali pada Hind. Namun dengan lantang Hind mnolak. Nyingkrio, mas. Gak sudi aku. Tak golek wong lanang liyo ae,” mungkin senada dengan ini ucapan Hind waktu itu. Aisha bin Abu Bakar, semua ummat Muslim didunia mengamini jika anak dari sahabat nabi ini, sangat cerdas dan ekspresif. Tak segan-segan mengutarakan kecemburuannya pada istri-istri nabi yang lain. Dalam lieratur sejarah Aisha tercatat menjadi perempuan terahir yang pemimpim perang pasca wafatnya Nabi. Sayangnya, perannya yang menonjol dalam ruang publik dan dalam perang Jamal menjadi kehawatiran bagi politisi-politisi saat itu, sehingga dijadikan percontohan peran perempuan yang buruk dalam pemerintahan. Cerita buruk itu masih terus digaungkan hingga saat ini tentang sosok Aisha dalam perang Jamal.

Perempuan selanjutnya adalah Sukayna. Dalam kancah sejarah Islam, sosok cicit nabi ini jarang masuk dalam jajaran kisah perempuan yang berjuang dalam agama Islam, penulispun baru tahu setahun belakangan dan perempuan cerdas yang memiliki keberanian baja ini pernah dinarasikan detil oleh penyaji

Sukayna, tidak memakai hijab, dia melakukan pejanjian pra nikah (apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam pernikahannya), kecerdasan inteketualnya menjadikan sosok ini pendebat ulung. Rumahnya tak pernah sepi dari tokoh pemikir dan seniman. Ibarat kata, rumahnya seperti Oase Cafe yang selalu dibuat ruang baca dan diskusi.
Kisah dan kiprah sosok-sosok perempuan dalam masa awal Islam tentu saja tidak berhenti pada keempat perempuan yang sudah disebutkan penulis, masih banyak perempuan perkasa yang sejatinya mengukuhkan nilai-nilai feminisme dalam Islam. Meski kata Feminisme baru dikenal belakangan Value” yang dikenalkan oleh Khadijah sudah sangat merepresentasikan bagaimana perempuan memiliki otoritas dan kemerdekaan atas jiwa, dan memiliki kesempatan yang sama.

Kembali lagi pada ide dasar feminis itu sendiri “Feminism is the belief that men and women should have equal rights and opportunities”. Maka keberanian Sukayna dalam memerdekakan dirinya untuk bergerak meski dalam biduk rumah tangga sudah sangat feminis sekali.

Bagi Gus Aan, sapaan akrab lelaki yang memiliki akun IG @gantengpolnotok itu. Ayat yang sangat mendukung akan kesetaraan itu sudah termaktub dalam Qur’an;

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl [16]: 97

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here