Masih ingat dengan kasus anak yang disetrum oleh guru nya? Masih ingat kasus pelecehan seksual di alun-alun? Masih ingat kasus pembuangan bayi oleh korban pemerkosaan? Masih ingat istilah pelakor (perebut lelaki orang)?

Akhir –akhir ini kasus tersebut menjadi sebuah kasus yang viral, kenapa viral? Karena perkembangan teknologi yang sekarang dipermudah dengan adanya media sosial, berita apapun dibuat oleh siapapun mudah disebarkan hingga mengesampingkan nilai kebenaran atas berita itu, menghilangkan fakta dibalik munculnya berita tersebut.

Apakah kita pernah bertanya, kenapa kasus tersebut bisa terjadi? Kenapa menjadi viral? Siapa yang diuntungkan dari adanya kasus tersebut? Siapa yang menjadi korban? Bisakah korban tersebut mendapatkan keadilan? Kita lupa akan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan terlalu sibuk dengan menikmati euforia berita itu, sibuk memberikan hujatan dan cacian kepada pihak yang ‘seolah’ atau memang tersudutkan dalam berita, sehingga kita lupa mempertanyakan apakah akar masalah dari semua itu.

Manusia adalah individu yang tidak lepas dari lingkup sosial, tidak ada manusia yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa melakukan hubungan sosial. Suatu tatanan sosial pasti memliki norma dan nilai yang diagungkan, nilai adalah hal dianggap baik dalam keyakinan masyararakat tersebut, sedangkan norma adalah aplikasi dari nilai-nilai. Tujuan dibentuknya nilai dan norma adalah  membentuk tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera, nilai dan norma tersebut masuk dalam sebuah sistem tatanan masyarakat, namun jika masih banyak masyarakat yang terdiskriminasi, tersudutkan dan sulit mendapatkan pembelaan atas hak-haknya, apakah mungkin nilai dan norma dalam masyarakat tersebut masih murni?.

Salah satu hal penyebab ketidakadilan adalah perbedaan gender, perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi masalah jika tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun dalam faktanya perbedaan gender melahirkan ketidakadilan baik laki-laki, perempuan dan kaum rentan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana laki-laki, perempuan dan kaum rentan menjadi korban atas sistem tersebut, namun yang lebih sering menjadi korban atas ketidakadilan gender adalah perempuan.

Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam beberapa hal seperti; marginalisasi atau proses  pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden). Manfestasi ketidakadilan gender tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya, karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis. Tidak ada satupun menifestasi ketidakadilan gender yang paling penting diantaranya, lebih esensial dari yang lainnya. Misalnya marginalisasi ekonomi perempuan terjadi karena stereotipe tertentu atas perempuan dan hal itu menyumbang kepada subordinasi, kekerasan kepada perempuan, yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideologi dan visi perempuan itu sendiri.  Maka kita tidak bisa menyatakan bahwa marginalisasi perempuan adalah penentu atau sebaliknya.

Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial menjelaskan manifestasi ketidakadilan gender tersebut secara rinci, sebagai berikut;

Gender dan marginalisasi perempuan, proses marginalisasi yang mengakibatkan kemiskinan, namun ada salah satu bentuk pemiskinan atas satu jenis kelamin tertentu, dalam hal ini perempuan, disebkan oleh gender. Ada beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta mekainisme proses marginalisasi perempuan karena perbedaan gender tersebut, dari segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan. Marginalisasi perempuan tidak hanya terjadi di tempat kerja, juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat atau kultur dan bahkan negara. Marginalisasi terhadap perempuan sudah terjadi sejak di rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan, marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir keagamaan.

Gender dan subordinasi, pandangan gender bisa menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Di Jawa dulu ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena pada akhirnya akan ke dapur juga. Bahkan, pemerintah pernah memiliki peraturan jika suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga) dia bisa mengambil keputusan sendiri. Sedangkan bagi istri yang hendak tugas belajar ke luar negeri harus seizin suami. Dalam rumah tangga masih sering terdengar jika keuangan keluarga sangat terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anaknya maka anak laki-laki akan mendapatkan prioritas utama, praktik seperti itu sesungguhnya berangkat dari kesadaran gender yang tidak adil.

Gender dan stereotipe, secara umum stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Banyak ketidakadilan tehadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, yang bersumber dari penandaan (stereotipe) yang dilekatkan kuat. Misalnya penandaan yang berawal dari asumsi bahwa perempuan bersolek adalah dalam rangka memancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotipe ini, bahkan jika ada pemerkosaan yang dialami oleh perempuan, masyarakat berkecenderungan menyalahkan korbannya. Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugas utama perempuan adalah melayani suami, stereotipe ini berakibat wajar sekali jika pendidikan perempuan dinomor duakan. Stereotipe terhadap perempuan terjadi dimana-mana, banya peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena stereotipe tersebut.

Gender dan kekerasan, kekerasan (violence) adalah srangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang, kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber, namun salah satu kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu yang disebabkan anggapan gender, kekerasan yang disebabkan oleh bias gender disebut gender-related violence. Beberapa bentuk kejahatan yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan gender, diantaranya:

Pertama, bentuk pemerkosaan terhdap perempuan, termasuk perkosaan dalam pernikahan. Perkosaan terjadi jika seseorang melakukan paksaan untuk mendapatkan pelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan. Kedua, tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga (domestic violence), termasuk tindak kekerasan pada anak (child abuse). Ketiga, bentuk penyiksaan yang mengarah kepada organ alat kelamin (genital mutilation).

Keempat, kekerasan dalam bentuk pelacuran. Kelima, kekerasan dalam bentuk pornografi. Keenam, kekerasan dalam bentuk pemaksaan sterilisasi dalam Keluarga Berencana. Ketujuh, jenis kekerasan terselubung (molestation) yakni memegang atau menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan dengan berbagai cara dan kesempatan tanpa kerelaan si pemilik tubuh.

Kedelapan, tindakan kejahatan terhadap perempuan yang paling umum dilakukan masyarakat, yaitu pelecehan seksual, seperti; menyampaikan lelucon jorok secara vulgar pada seseorang dengan cara yang dirasakan sangat ofensif, menyakiti atau membuat malu seseorang dengan omongan kotor, mengintrogasi seseorang tentang kehidupan atau kegiatan seksualnya atau kehidupan pribadinya, meminta imbalan seksual dalam rangka janji untuk mendapatkan kerja atau mendapatkan promosi janji-janji lainnya, menynrtuh atau menyenggol bagian tubuh tanpa ada minat atau tanpa izin dari yang bersangkutan.

Gender dan beban kerja, adanya anggapan bahwa perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab perempuan, dikalangan kelas menengah dan kebawah beban yang berat ini harus ditanggung oleh perempuan sendiri, terlebih jika perempuan tersebut harus bekerja, maka ia memikul beban ganda.

Penulis: Nur Fitriani (Perempuan Bergerak)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here